Klarifikasi Direktur RSD Gunung Jati, dr. Katibi terkait kasus telantarkan pasien (Foto : Darfan)
CIREBON, Buletinmedia.com – Belakangan ini, sebuah video yang memperlihatkan dugaan penelantaran pasien viral di media sosial dan memicu kehebohan di kalangan masyarakat. Video tersebut menarasikan bahwa seorang pasien berinisial RJ, warga Jagapura, Kecamatan Gegesik, Kabupaten Cirebon, dibiarakan dan tidak mendapatkan perhatian yang layak dari pihak Rumah Sakit Daerah (RSD) Gunung Jati. Dugaan ini langsung memicu komentar warganet yang menyayangkan kondisi pasien dan mempertanyakan etika pelayanan rumah sakit.
Namun, pihak RSD Gunung Jati membantah keras tudingan tersebut. Direktur RSD Gunung Jati, dr. Katibi, menjelaskan bahwa tidak ada penelantaran pasien yang terjadi. Menurutnya, pasien RJ sudah dinyatakan siap pulang oleh dokter yang menangani sejak Selasa, 8 Juli 2025, setelah kondisi medisnya membaik dan dianggap cukup stabil untuk melanjutkan perawatan secara rawat jalan.
“Berdasarkan keterangan dari dokter, pasien seharusnya sudah bisa pulang pada hari Selasa, 8 Juli 2025. Hal ini telah disepakati kedua belah pihak, sehingga pasien berhenti dari rawat inap. Semua hak-hak pasien sudah terpenuhi, dan pelayanan medis telah diberikan sesuai kebutuhan tanpa mempertimbangkan pembiayaan. Kami menegaskan bahwa RSD Gunung Jati tidak melakukan penahanan pasien,” ujar dr. Katibi.
Video yang kemudian beredar pada Kamis, 10 Juli 2025, memperlihatkan pasien RJ masih berada di ruang rawat inap. Pihak rumah sakit menjelaskan bahwa meskipun pasien secara medis sudah diperbolehkan pulang, yang bersangkutan tetap berada di ruang rawat inap atas kemauannya sendiri. Hal inilah yang menjadi latar kemunculan video viral tersebut. Dr. Katibi menegaskan bahwa keberadaan pasien di ruang rawat inap saat video direkam bukan berarti ada penelantaran, melainkan pasien memilih tetap tinggal meski secara medis tidak lagi memerlukan perawatan inap.
Menurut dr. Katibi, RSD Gunung Jati selalu mengutamakan pendekatan komunikatif dan partisipatif dalam menangani pasien. Rumah sakit tidak pernah menggunakan metode penahanan pasien, karena pelayanan medis diutamakan berdasarkan kebutuhan kesehatan pasien, bukan kemampuan finansial atau tekanan eksternal. “Pelayanan medis diberikan sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan pasien. Rumah sakit tidak menahan pasien, melainkan memberikan informasi dan komunikasi yang jelas kepada pasien dan keluarganya,” jelasnya.
Lebih lanjut, pihak rumah sakit menekankan bahwa selama masa perawatan, pasien RJ telah mendapatkan semua hak dan layanan medis yang diperlukan. Tim medis, perawat, dan petugas administrasi rutin melakukan pengecekan kondisi pasien serta memastikan pasien mendapatkan obat-obatan, nutrisi, dan perhatian yang memadai. Pihak rumah sakit juga memastikan dokumentasi medis lengkap untuk menjamin transparansi dan akuntabilitas setiap tindakan medis yang dilakukan.
Video viral tersebut memunculkan reaksi masyarakat, termasuk komentar warganet yang menyebut bahwa rumah sakit lalai dan menelantarkan pasien karena alasan biaya. Namun, dr. Katibi menegaskan bahwa tudingan tersebut keliru. Rumah sakit tidak membedakan pasien berdasarkan kemampuan finansial, dan setiap pasien tetap mendapatkan pelayanan medis penuh sesuai standar rumah sakit daerah. Bahkan, pihak rumah sakit kerap memberikan konsultasi mengenai skema pembiayaan dan opsi rawat jalan bagi pasien yang bersangkutan agar tetap mendapatkan perawatan medis yang berkesinambungan.
“Penting untuk diketahui, fokus kami tetap pada kesehatan pasien. Kami tidak menindaklanjuti kasus ini secara hukum, karena hal ini murni kesalahpahaman akibat video yang diambil tanpa konteks yang utuh. Prioritas kami adalah pelayanan maksimal bagi seluruh pasien, bukan reaksi terhadap viralnya video,” tambah dr. Katibi.
Dalam menangani kasus ini, rumah sakit juga mengajak masyarakat untuk memahami prosedur medis yang berlaku. Dokter yang menangani pasien RJ telah melakukan evaluasi menyeluruh sebelum memberikan rekomendasi pulang. Rekomendasi tersebut disertai dengan instruksi dan panduan bagi pasien untuk melanjutkan perawatan di rumah, termasuk jadwal kontrol, pemberian obat, dan panduan menjaga kondisi kesehatan agar tidak terjadi komplikasi.
Selain itu, pihak RSD Gunung Jati menekankan pentingnya komunikasi antara rumah sakit dan keluarga pasien. Rumah sakit secara rutin memberikan informasi kepada keluarga pasien mengenai kondisi kesehatan pasien, prosedur perawatan, dan tindakan medis yang telah dilakukan. Hal ini dilakukan untuk memastikan keluarga memahami kondisi pasien dan dapat mendukung kelanjutan perawatan secara mandiri setelah pulang dari rumah sakit.
Viralnya video ini juga menjadi pengingat bagi masyarakat mengenai pentingnya verifikasi informasi sebelum menyebarkan berita di media sosial. Video yang diambil tanpa konteks lengkap dapat menimbulkan kesalahpahaman dan merugikan reputasi institusi. Rumah sakit berharap agar publik memahami bahwa pelayanan medis adalah proses kompleks yang memerlukan koordinasi antara pasien, keluarga, dan tim medis.
Meskipun begitu, RSD Gunung Jati tetap membuka ruang klarifikasi bagi pasien atau keluarga yang merasa ada ketidakpuasan. Rumah sakit memiliki mekanisme pengaduan resmi yang dapat diakses melalui unit pelayanan pasien. Dengan mekanisme ini, setiap keluhan dapat ditangani secara profesional, adil, dan sesuai prosedur. Hal ini menunjukkan komitmen rumah sakit dalam memberikan pelayanan yang transparan dan akuntabel.
Kepala Bagian Humas RSD Gunung Jati juga menambahkan bahwa pihak rumah sakit akan meningkatkan edukasi publik terkait prosedur medis, hak pasien, dan mekanisme rawat inap versus rawat jalan. Edukasi ini diharapkan dapat meminimalisir kesalahpahaman di masa depan, terutama di era media sosial di mana informasi dapat tersebar dengan cepat namun seringkali tidak lengkap.
Secara keseluruhan, kasus pasien RJ menjadi pelajaran penting bagi rumah sakit dan masyarakat. Rumah sakit mengingatkan bahwa penilaian terhadap pelayanan medis sebaiknya didasarkan pada informasi lengkap, termasuk kondisi medis pasien, rekomendasi dokter, dan keputusan pasien sendiri. Viral video tanpa konteks lengkap dapat menimbulkan persepsi keliru, padahal dalam praktik medis, setiap tindakan memiliki dasar pertimbangan yang matang dan mengikuti standar prosedur rumah sakit.
Dengan klarifikasi ini, RSD Gunung Jati berharap publik lebih memahami situasi sesungguhnya, bahwa tidak ada penelantaran pasien karena alasan ekonomi. Rumah sakit tetap berkomitmen memberikan pelayanan terbaik bagi setiap pasien, menjunjung tinggi etika profesi medis, dan mengutamakan keselamatan serta kesejahteraan pasien sebagai prioritas utama.
