Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kanan) bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (kiri) di Oval Office, Gedung Putih, Washington DC, 4 Februari 2025.(AFP/ANDREW CABALLERO-REYNOLDS)
Dalam langkah diplomatik yang mengejutkan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa Israel telah menyepakati kerangka awal untuk melaksanakan gencatan senjata selama 60 hari di Gaza, sebagai upaya mengakhiri konflik berkepanjangan di wilayah Palestina tersebut. Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Trump melalui media sosial pada Selasa malam (1/7/2025) waktu AS, menandai salah satu inisiatif perdamaian paling signifikan yang didorong oleh pemerintahannya dalam beberapa bulan terakhir.
Trump menjelaskan bahwa selama periode gencatan senjata tersebut, semua pihak—termasuk kelompok Hamas—diharapkan bersedia bekerja sama untuk membuka jalan menuju penghentian total agresi bersenjata. Ia juga menekankan peran vital Qatar dan Mesir sebagai mediator utama, menyebut kedua negara itu telah berkontribusi besar dalam menyusun proposal perdamaian yang akan segera disampaikan ke pihak Hamas.
“Saya berharap Hamas menerima kesepakatan ini,” ujar Trump tegas. “Jika tidak, situasi hanya akan memburuk. Kesempatan ini tidak akan datang dua kali.” Pernyataan itu dikutip oleh kantor berita Reuters pada Rabu (2/7/2025), menggarisbawahi betapa pentingnya momentum saat ini untuk menciptakan jeda kemanusiaan dan solusi politik di Gaza.
Tak berhenti sampai di situ, Trump juga mengungkap rencananya untuk menggelar pertemuan tingkat tinggi dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Gedung Putih pekan depan. Topik utama pertemuan tersebut akan mencakup evaluasi perkembangan konflik Gaza dan strategi menghadapi Iran. Ia berjanji akan bersikap “lebih tegas” kepada Netanyahu terkait perlunya gencatan senjata.
Sinyal dukungan terhadap inisiatif ini juga datang dari dalam pemerintahan Israel. Ron Dermer, pejabat senior Israel dan penasihat dekat Netanyahu, sudah berada di Washington untuk mendahului pertemuan dua pemimpin tersebut. Ia dijadwalkan melakukan diskusi strategis dengan beberapa tokoh penting di pemerintahan AS seperti Utusan Khusus Steve Witkoff, Menlu Marco Rubio, dan Wapres JD Vance.
Trump bahkan mengungkapkan bahwa dirinya dan Netanyahu baru-baru ini bekerja sama dalam sebuah operasi militer besar-besaran terhadap fasilitas nuklir Iran. Dalam serangan yang melibatkan jet siluman B-2 milik AS pada Juni lalu, Trump mengklaim bahwa kekuatan nuklir Iran telah “dilenyapkan.” Namun, klaim ini masih menjadi bahan perdebatan global terkait dampaknya terhadap kemampuan nuklir Iran secara keseluruhan.
Menutup pernyataannya, Trump menyampaikan optimisme bahwa kesepakatan damai yang mencakup pembebasan sandera bisa tercapai minggu depan. Ia menyebut pembebasan tersebut sebagai syarat krusial menuju rekonsiliasi dan harapan baru bagi kawasan Timur Tengah. “Kami menanti hari itu tiba. Kami ingin para sandera kembali,” tegasnya sebelum berangkat ke Florida.
