Keraton Kasepuhan menggelar tradisi tabuh bedug drugdag warisan Sunan Gunungjati sebagai penanda masuknya Ramadan (Foto : Darfan)
CIREBON, Buletinmedia.com – Berbagai tradisi menyambut Bulan Suci Ramadan selalu digelar dengan penuh khidmat di sejumlah daerah di Indonesia. Salah satu tradisi menyambut Ramadan yang masih lestari hingga kini adalah tradisi tabuh bedug drugdag di Kota Cirebon, Jawa Barat. Tradisi turun-temurun ini diselenggarakan oleh Keraton Kasepuhan sebagai bentuk pelestarian warisan budaya sekaligus syiar Islam yang telah berlangsung sejak ratusan tahun silam.
Di tengah perkembangan teknologi modern seperti pengeras suara dan informasi digital yang serba cepat, masyarakat Cirebon tetap mempertahankan tradisi tabuh bedug sebagai simbol datangnya bulan suci. Tradisi ini bukan sekadar seremoni, melainkan sarat makna spiritual, historis, dan budaya yang kuat.
Tradisi Tabuh Bedug Drugdag Sambut Ramadan di Cirebon
Tradisi tabuh bedug drugdag menjadi penanda resmi masuknya bulan Ramadan di lingkungan Keraton Kasepuhan. Ritual ini dilaksanakan setiap menjelang magrib pada hari terakhir bulan Syaban. Bedug ditabuh secara berulang-ulang dengan irama khas oleh keluarga keraton sebagai tanda bahwa umat Islam bersiap menyambut bulan penuh berkah.
Prosesi sakral ini dipimpin langsung oleh Patih Kasultanan Kasepuhan, Pangeran Raja Gumilar Soeryadiningrat. Bersama rombongan keluarga keraton, beliau berjalan menuju Langgar Alit yang berada di dalam kompleks keraton. Di tempat inilah bedug pusaka peninggalan Sunan Gunung Jati ditabuh sebagai simbol dimulainya ibadah Ramadan.
Bedug yang digunakan dalam tradisi ini adalah Bedug Samogiri, peninggalan dari Sunan Gunung Jati, salah satu tokoh penyebar agama Islam di Tanah Jawa. Sunan Gunung Jati yang memiliki nama asli Syekh Syarif Hidayatullah dikenal sebagai anggota Wali Songo yang berperan penting dalam perkembangan Islam di wilayah Cirebon dan sekitarnya.
Makna Filosofis Tabuh Bedug Ramadan
Tabuh bedug dalam tradisi Keraton Kasepuhan bukan sekadar bunyi-bunyian biasa. Setiap irama yang dimainkan memiliki karakter berbeda, mulai dari tempo datar, sedang, hingga cepat dan keras. Perbedaan irama ini mencerminkan semangat dan kesiapan umat Islam dalam menyambut Ramadan.
Patih Keraton menjadi penabuh pertama, kemudian disusul para kerabat keraton serta tokoh ulama setempat. Penabuhan dilakukan secara bergantian hingga menjelang petang. Tradisi ini menciptakan suasana sakral yang penuh kekhusyukan sekaligus membangkitkan semangat masyarakat sekitar.
Secara historis, bedug berfungsi sebagai alat komunikasi tradisional. Pada masa lalu, sebelum adanya pengeras suara, bedug digunakan untuk menyampaikan informasi penting kepada masyarakat, termasuk penanda waktu salat dan masuknya bulan Ramadan. Hingga kini, meskipun teknologi sudah berkembang pesat, nilai budaya dan sejarah dari tabuh bedug tetap dijaga sebagai identitas khas Cirebon.
Dilanjutkan di Masjid Agung Sang Cipta Rasa
Setelah prosesi awal di Langgar Alit, tradisi tabuh bedug Ramadan juga dilanjutkan di Masjid Agung Sang Cipta Rasa pada malam hari hingga menjelang sahur. Masjid bersejarah ini masih berada dalam kawasan Keraton Kasepuhan dan menjadi pusat kegiatan keagamaan masyarakat Cirebon sejak zaman Wali Songo.
Suara bedug yang ditabuh memang cukup keras, namun hanya terdengar di lingkungan sekitar keraton. Hal ini justru memperkuat nuansa tradisional dan menjaga kekhusyukan ritual. Setelah tabuhan pertama dari keraton, biasanya langgar, musala, dan masjid di berbagai sudut Kota Cirebon turut menyusul menabuh bedug sebagai bentuk kebersamaan menyambut Ramadan.
Tradisi ini menciptakan atmosfer religius yang khas. Dentuman bedug yang bersahut-sahutan menjadi simbol persatuan umat Islam serta pengingat untuk mempersiapkan diri menjalankan ibadah tarawih dan saum atau puasa Ramadan.
Warisan Budaya Islam yang Tetap Lestari
Menurut Pangeran Raja Gumilar Soeryadiningrat, tradisi ini telah ada sejak masa Syekh Syarif Hidayatullah menyebarkan Islam di Tanah Jawa bersama Wali Songo. Bedug pada masa itu digunakan sebagai media dakwah dan sarana komunikasi agar masyarakat mengetahui waktu ibadah.
Kini, fungsi informatif tersebut memang telah tergantikan oleh teknologi modern. Namun, nilai historis, spiritual, dan budaya dari tradisi tabuh bedug tetap menjadi alasan utama pelestariannya. Keraton Kasepuhan memandang tradisi ini sebagai warisan leluhur yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi muda.
Pelestarian tradisi menyambut Ramadan di Cirebon juga menjadi daya tarik wisata religi. Banyak masyarakat dan wisatawan yang datang untuk menyaksikan langsung prosesi tabuh bedug drugdag. Hal ini turut mendukung pelestarian budaya lokal sekaligus memperkenalkan sejarah Islam Cirebon ke khalayak yang lebih luas.
Simbol Kesiapan Spiritual Menyambut Bulan Suci
Lebih dari sekadar seremoni budaya, tabuh bedug drugdag mengandung pesan moral dan spiritual. Dentuman bedug menjadi pengingat bahwa Ramadan adalah momentum untuk memperbaiki diri, meningkatkan ibadah, serta mempererat silaturahmi.
Tradisi ini juga mengajarkan pentingnya menjaga kesinambungan sejarah. Di tengah arus modernisasi, masyarakat Cirebon menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak harus menghapus identitas budaya. Justru dengan mempertahankan tradisi, nilai-nilai luhur dapat terus hidup berdampingan dengan perkembangan zaman.
Dengan tetap dilaksanakannya tradisi tabuh bedug drugdag setiap tahun, Keraton Kasepuhan membuktikan komitmennya dalam menjaga warisan budaya Islam Nusantara. Tradisi menyambut Ramadan di Cirebon ini menjadi contoh nyata bagaimana sejarah, agama, dan budaya dapat berpadu harmonis dalam kehidupan masyarakat.
Sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia, tradisi tabuh bedug Ramadan di Keraton Kasepuhan bukan hanya menjadi kebanggaan warga Cirebon, tetapi juga warisan berharga bagi bangsa. Dentuman bedug yang menggema setiap menjelang Ramadan akan terus menjadi simbol semangat, persatuan, dan kesiapan umat Islam dalam menyambut bulan penuh ampunan dan keberkahan.
