Paniki, Kuliner Khas Minahasa dari Olahan Daging Kelelawar (Tangkapan Layar)
Buletinmedia.com – Situs ensiklopedia kuliner global TasteAtlas kembali menjadi sorotan setelah merilis daftar 100 makanan dengan peringkat terburuk di dunia pada pembaruan terbaru tanggal 16 Juni 2026. Daftar ini berisi berbagai hidangan dari berbagai negara yang mendapatkan penilaian rendah berdasarkan ulasan pengguna platform tersebut.
Dalam keterangannya, TasteAtlas menjelaskan bahwa sistem pemeringkatan mereka menggunakan data dari audiens global dengan mekanisme penyaringan khusus. Sistem ini dirancang untuk mendeteksi ulasan yang tidak valid, termasuk penilaian dari bot, serta mengurangi pengaruh penilaian yang bersifat nasionalistis atau tidak objektif.
“Peringkat makanan TasteAtlas didasarkan pada penilaian dari audiens TasteAtlas, dengan serangkaian mekanisme yang mengenali pengguna asli dan mengabaikan penilaian bot, nasionalis, atau patriotik lokal, serta memberikan nilai tambah pada penilaian pengguna yang diakui sistem sebagai berpengetahuan,” demikian keterangan resmi TasteAtlas yang dikutip pada Minggu (21/6/2026).
Lebih dari 700 Ribu Penilaian Terkumpul
Hingga pembaruan 16 Juni 2026, daftar 100 makanan terburuk dunia tersebut telah mengumpulkan total 777.514 penilaian dari pengguna. Dari jumlah itu, sekitar 504.634 penilaian dianggap sah dan valid oleh sistem.
Meski begitu, pihak TasteAtlas menegaskan bahwa daftar ini bukanlah penilaian mutlak atau kesimpulan final mengenai kualitas makanan dari suatu negara. Peringkat ini lebih bersifat referensi berbasis opini pengguna global.
Tujuan utama dari pemeringkatan tersebut adalah untuk memperkenalkan kuliner lokal dari berbagai belahan dunia, mendorong rasa penasaran terhadap hidangan tradisional, serta meningkatkan apresiasi terhadap makanan khas yang mungkin belum dikenal luas.
Paniki dari Indonesia Masuk Daftar Makanan Terburuk Dunia
Di antara ratusan makanan yang masuk dalam daftar tersebut, salah satu kuliner khas Indonesia turut tercatat, yaitu Paniki, makanan tradisional dari Sulawesi Utara. Hidangan ini mendapatkan penilaian sekitar 2,2 dalam sistem penilaian TasteAtlas.
Paniki dikenal sebagai makanan khas masyarakat Minahasa yang menggunakan daging kelelawar buah sebagai bahan utama. Hidangan ini sudah lama menjadi bagian dari tradisi kuliner di Sulawesi Utara dan memiliki nilai budaya tersendiri bagi masyarakat setempat.
Menurut keterangan TasteAtlas, Paniki secara tradisional diolah dengan berbagai proses memasak khas. Kelelawar biasanya dibakar terlebih dahulu untuk menghilangkan bulu, kemudian dibersihkan secara menyeluruh sebelum dipotong menjadi bagian kecil.
Setelah itu, daging direbus dan dimasak dalam kuah santan yang kaya rempah. Bumbu yang digunakan antara lain bawang merah, bawang putih, jahe, daun bawang, daun kari, serai, hingga tambahan santan untuk menghasilkan cita rasa yang kuat dan khas.
Hidangan ini umumnya disajikan bersama nasi putih hangat dan menjadi bagian dari sajian tradisional dalam berbagai acara adat masyarakat Minahasa.
Tujuan Daftar Makanan Terburuk Dunia Versi TasteAtlas
Meski sering menimbulkan perdebatan, pihak TasteAtlas menegaskan bahwa daftar makanan dengan rating terendah ini tidak dimaksudkan untuk merendahkan kuliner suatu negara.
Sebaliknya, daftar ini dibuat untuk mendorong eksplorasi makanan tradisional yang kurang dikenal serta memberikan gambaran mengenai preferensi rasa dari berbagai belahan dunia.
TasteAtlas juga menyebut bahwa setiap penilaian dalam sistem mereka sangat bergantung pada pengalaman subjektif pengguna, sehingga hasilnya dapat berbeda-beda tergantung budaya dan kebiasaan makan masing-masing individu.
Daftar 25 Makanan dengan Rating Terendah di Dunia
Berikut sebagian daftar 25 makanan dengan rating terendah dalam 100 Worst Rated Foods in the World versi TasteAtlas 2026:
- Pizza Vulkanen (Swedia)
- Svið (Islandia)
- Thorramatur (Islandia)
- Blodplättar / Veriohukainen (Swedia–Finlandia)
- Trucha a la Navarra (Spanyol)
- Milcao (Chile)
- Blodpalt (Swedia–Finlandia)
- Kugel Yerushalmi (Israel)
- Jellied Eels (Inggris)
- Chapalele (Chile)
- Deep Fried Silk Worms (Thailand)
- Aginares Salata (Yunani)
- Ambuyat (Brunei Darussalam)
- Tortilla Paisana (Spanyol)
- Heusuppe (Swiss)
- Nervetti (Italia)
- Żymłok (Polandia)
- Ramen Burger (Amerika Serikat)
- Kichel (Israel)
- Khoresh Kangar (Iran)
- Cookie Salad (Amerika Serikat)
- Balaleet (Uni Emirat Arab/Bahrain)
- Sadza (Zimbabwe)
- Paniki (Indonesia)
- Kaeng tai pla (Thailand)
Sorotan Publik terhadap Kuliner Indonesia
Masuknya Paniki dalam daftar tersebut memicu beragam respons dari publik, terutama di Indonesia. Sebagian menilai bahwa penilaian makanan sangat bergantung pada selera masing-masing individu, sehingga tidak dapat dijadikan ukuran mutlak untuk menilai kualitas sebuah kuliner tradisional.
Di sisi lain, banyak juga yang menilai bahwa perbedaan budaya makan menjadi faktor utama mengapa suatu hidangan bisa dianggap “tidak biasa” atau kurang disukai oleh sebagian orang dari luar daerah asalnya.
Kuliner tradisional seperti Paniki sendiri merupakan bagian dari warisan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun. Di daerah asalnya, hidangan ini tetap memiliki tempat tersendiri dan masih dikonsumsi dalam berbagai acara adat maupun perayaan tertentu.
Penutup
Rilis daftar 100 makanan terburuk dunia versi TasteAtlas 2026 kembali menunjukkan bagaimana perbedaan budaya kuliner di dunia sangat beragam. Penilaian terhadap suatu makanan tidak bisa dilepaskan dari selera, kebiasaan, dan latar belakang budaya masing-masing individu.
Masuknya Paniki dari Indonesia dalam daftar tersebut tidak mengurangi nilai budaya dari hidangan tradisional ini, melainkan menjadi pengingat bahwa kuliner dunia memiliki spektrum rasa yang sangat luas dan berbeda-beda di setiap wilayah.
Sumber : www.kompas.com
