ChatGPT (Emiliano Vittoriosi/Unsplash)
Buletinmedia.com – ChatGPT kerap digunakan sebagai alat bantu menulis karena kemampuannya memberikan jawaban instan, merapikan kalimat, hingga menyusun argumen. Namun, di balik kemudahannya, muncul kekhawatiran soal dampaknya terhadap kemampuan berpikir manusia. Sebuah studi dari MIT mengungkap bahwa terlalu sering menggunakan AI untuk menulis esai bisa menyebabkan hutang kognitif yakni kondisi ketika otak menjadi kurang aktif karena terbiasa dibantu.
Dalam studi tersebut, 54 peserta diminta menulis tiga esai dengan tiga pendekatan berbeda: menggunakan AI (seperti ChatGPT), mesin pencari, atau hanya mengandalkan otak sendiri. Aktivitas otak mereka diukur melalui analisis sinyal listrik dan isi esai yang dihasilkan. Hasilnya menunjukkan bahwa kelompok yang menggunakan AI memiliki tingkat aktivitas kognitif paling rendah dan cenderung tidak ingat isi tulisan mereka. Mereka juga merasa kurang terhubung secara emosional dengan tulisan yang dihasilkan.
Menariknya, ketika kelompok pengguna AI diberi tugas menulis esai tanpa bantuan, performa mereka tetap lebih rendah dibanding kelompok yang sejak awal menggunakan otaknya. Ini menunjukkan bahwa penggunaan AI secara terus-menerus bisa menurunkan kemampuan berpikir mandiri, karena otak tidak dilatih secara aktif selama proses belajar. Sementara itu, kelompok yang awalnya menulis tanpa AI justru mampu memanfaatkan AI dengan lebih strategis ketika diberi kesempatan.
Meski hasilnya menarik, para peneliti mengingatkan bahwa studi ini masih bersifat awal dan memiliki keterbatasan. Hanya sebagian kecil peserta yang menyelesaikan seluruh sesi, dan efek familiarisasi (keterbiasaan terhadap tugas) juga berperan dalam peningkatan performa kelompok tertentu. Namun demikian, temuan ini tetap menjadi sinyal penting agar penggunaan AI tidak menggantikan proses belajar itu sendiri.
Seperti halnya kalkulator di masa lalu, AI bukanlah sesuatu yang harus dihindari, tapi perlu diintegrasikan secara bijak ke dalam proses belajar. Pendidik perlu menaikkan standar tugas dan mendorong siswa untuk tetap berpikir kritis saat menggunakan AI. Misalnya, AI bisa dipakai untuk menyusun ide awal atau struktur tulisan, tapi tetap perlu penilaian manual, diskusi lisan, atau refleksi untuk menjaga keterlibatan kognitif siswa. Dengan pendekatan yang tepat, AI bisa menjadi alat bantu yang memperkaya proses belajar, bukan menghambatnya.
