Dampak Fenomena Aphelion terhadap Cuaca di Indonesia. (Sumber Foto : Pixabay/BlenderTimer)
Buletinmedia.com – Masyarakat di sejumlah wilayah Indonesia, khususnya di bagian selatan garis khatulistiwa seperti Pulau Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara, belakangan ini mengeluhkan suhu udara yang terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Fenomena udara dingin ini terasa sangat menggigit, terutama pada waktu malam hari hingga menjelang pagi hari.
Secara bersamaan, lini masa media sosial kerap diramaikan oleh narasi yang mengaitkan suhu dingin ini dengan fenomena astronomi yang disebut Aphelion. Informasi yang beredar menyebutkan bahwa karena Bumi berada di titik terjauh dari Matahari, maka suhu di permukaan Bumi otomatis merosot tajam.
Namun, benarkah demikian secara ilmiah? Apakah fenomena aphelion menjadi biang keladi utama di balik dinginnya suhu udara saat ini? Mari kita bedah fakta-fakta sains di balik dinamika atmosfer dan astronomi ini agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Mengenal Apa Itu Fenomena Aphelion
Secara astronomis, aphelion adalah fenomena tahunan yang sangat wajar. Istilah aphelion sendiri berakar dari bahasa Yunani kuno, yaitu kata “apo” yang memiliki arti jauh, dan “helios” yang berarti Matahari. Jadi, secara harfiah, aphelion dapat diartikan sebagai posisi ketika Bumi berada di titik paling jauh dari Matahari dalam jalur orbitnya. Untuk tahun ini, fenomena aphelion secara presisi jatuh pada tanggal 6 Juli.
Banyak orang mengira bahwa Bumi mengelilingi Matahari dalam lintasan yang berbentuk bulat sempurna. Faktanya, lintasan atau orbit Bumi saat mengitari Matahari berbentuk elips atau oval condong. Karena bentuk lintasannya yang tidak bulat sempurna inilah, jarak antara Bumi dan Matahari selalu berubah-ubah sepanjang tahun.
Dalam siklus tahunan tersebut, terdapat dua titik ekstrem yang dilewati oleh Bumi:
- Perihelion: Titik di mana posisi Bumi berada pada jarak paling dekat dengan Matahari. Fenomena ini biasanya terjadi pada kisaran bulan Januari.
- Aphelion: Titik di mana posisi Bumi berada pada jarak paling jauh dari Matahari. Fenomena ini konsisten terjadi setahun sekali pada kisaran bulan Juli.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sendiri menegaskan bahwa aphelion murni merupakan fenomena astronomis biasa yang terjadi secara periodik setiap tahunnya.
Meluruskan Mitos: Jarak Matahari Tidak Memengaruhi Cuaca Lokal
Meskipun pada saat aphelion posisi Matahari berada pada titik jarak terjauh dari Bumi, kondisi ruang angkasa tersebut sebenarnya tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perubahan cuaca atau fenomena atmosfer di permukaan Bumi. Perubahan jarak antara Bumi dan Matahari saat aphelion memang ada, namun rasionya terlalu kecil untuk bisa mengubah suhu global secara drastis dalam waktu singkat.
Fakta sainsnya adalah, cuaca dingin yang saat ini sedang melanda sebagian besar wilayah Indonesia sama sekali tidak diakibatkan oleh fenomena aphelion. Penurunan suhu udara ini murni disebabkan oleh faktor meteorologis atau kondisi pergantian musim yang sedang berlangsung di bumi bagian selatan.
Iklim dan cuaca di suatu wilayah di Bumi lebih banyak ditentukan oleh kemiringan poros Bumi saat mengorbit, yang kemudian memicu pergantian musim, distribusi daratan dan lautan, serta pergerakan massa angin, bukan ditentukan oleh jarak elips orbit Bumi ke Matahari.
Dalang Sebenarnya: Monsun Dingin Australia
Jika aphelion bukan penyebabnya, lalu mengapa suhu udara di Indonesia terasa begitu dingin belakangan ini? BMKG menjelaskan bahwa fenomena suhu udara dingin ini merupakan fenomena alamiah yang sangat umum dan selalu terjadi pada bulan-bulan puncak musim kemarau, yaitu pada periode Juli hingga September.
Pada periode bulan Juli ini, wilayah Indonesia bagian selatan, mulai dari Pulau Jawa, Bali, NTB, hingga NTT, sedang berada di tengah-tengah musim kemarau. Musim kemarau di wilayah-wilayah ini ditandai oleh adanya pergerakan angin monsun yang berembus dari arah timur hingga tenggara. Angin ini bertiup dari Benua Australia menuju Benua Asia melewati wilayah Indonesia.
Secara bersamaan pada bulan Juli, Benua Australia sedang mengalami puncak musim dingin (winter). Karena posisi matahari berada di belahan bumi utara, terjadi pola tekanan udara yang relatif sangat tinggi di daratan Australia. Tekanan tinggi ini mendorong massa udara yang bersuhu sangat dingin dan kering bergerak keluar meninggalkan Australia menuju Indonesia. Fenomena pergerakan udara inilah yang di dunia meteorologi dikenal dengan istilah Monsun Dingin Australia.
Sebelum mencapai daratan Indonesia, Monsun Dingin Australia ini harus bergerak melewati perairan Samudra Hindia (Samudra Indonesia). Pada periode kemarau, suhu permukaan laut di Samudra Hindia juga sedang mengalami penurunan dan cenderung relatif lebih dingin. Akibatnya, angin yang melintasi samudra tersebut membawa serta suhu dingin laut dan menghempaskannya ke wilayah Indonesia yang berada di selatan garis khatulistiwa. Inilah alasan utama mengapa udara di sekitar kita terasa sejuk sekaligus kering di siang hari, dan berubah menjadi sangat dingin di malam hari.
Faktor Langit Bersih Tanpa Awan (Clear Sky)
Selain faktor tiupan angin dingin dari Benua Kangguru, ada satu faktor lokal krusial yang membuat suhu malam hari di musim kemarau terasa jauh lebih dingin ketimbang musim hujan. Faktor tersebut adalah berkurangnya tutupan awan secara signifikan di atas langit Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara.
Pada musim kemarau, kandungan uap air di atmosfer sangat rendah, sehingga intensitas pembentukan awan hujan menjadi sangat minim. Langit yang cenderung bersih tanpa awan (clear sky) ini membawa dampak berantai pada pelepasan energi panas bumi:
- Pada Siang Hari: Sinar matahari langsung menembus permukaan bumi tanpa ada penghalang awan, membuat suhu siang hari terasa terik dan menyengat.
- Pada Malam Hari: Bumi akan melepaskan kembali energi panas radiasi gelombang panjang yang diserapnya pada siang hari ke luar angkasa. Ketika langit bersih dari awan, tidak ada uap air atau “selimut awan” yang bertugas memerangkap dan menyimpan energi panas tersebut di dalam atmosfer.
Akibat tidak adanya penghalang, seluruh energi panas radiasi balik dari permukaan Bumi langsung lepas begitu saja menuju atmosfer luar. Kondisi ini membuat suhu udara di dekat permukaan Bumi merosot dengan sangat cepat, terutama pada waktu malam hari hingga menjelang pagi hari. Fenomena hilangnya panas secara instan inilah yang membuat udara pagi hari terasa menusuk tulang.
Potensi Munculnya Fenomena Embun Es di Dataran Tinggi
BMKG mengingatkan bahwa fenomena penurunan suhu tahunan ini adalah siklus reguler yang tidak perlu dikhawatirkan secara berlebihan. Namun, bagi masyarakat yang tinggal di dataran tinggi atau wilayah pegunungan, penurunan suhu ini bisa memicu fenomena unik yang menarik sekaligus menantang.
Suhu dingin yang ekstrem pada puncak musim kemarau berpotensi memicu terbentuknya kristal es atau yang sering disebut sebagai embun es (di kalangan masyarakat lokal dikenal dengan istilah embun upas). Fenomena pembekuan embun ini biasanya terjadi di wilayah dataran tinggi dengan vegetasi terbuka, salah satu contoh tempat yang paling terkenal adalah di Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah, serta di kawasan pegunungan Bromo, Semeru, dan jajaran pegunungan lainnya di Indonesia.
Ketika suhu udara di dekat permukaan tanah di dataran tinggi tersebut menyentuh angka mendekati atau bahkan di bawah 0 derajat Celsius pada dini hari, uap air yang menempel pada daun, rumput, atau tanah akan langsung membeku dan berubah menjadi hamparan kristal es putih yang menyerupai salju. Fenomena ini kerap menarik perhatian banyak wisatawan domestik untuk datang berkunjung.
Meskipun menyajikan pemandangan yang indah bagi wisatawan, fenomena embun upas ini menjadi tantangan tersendiri bagi para petani setempat, karena sifat es yang dingin dapat merusak jaringan tanaman kentang atau sayuran lainnya, hingga menyebabkan gagal panen jika tidak diantisipasi dengan baik.
Kesimpulan: Bijak Menyikapi Perubahan Suhu
Dapat disimpulkan bahwa fenomena suhu dingin yang terjadi di Indonesia pada bulan Juli ini sama sekali tidak memiliki kaitan langsung dengan fenomena astronomi aphelion. Jarak terjauh Bumi-Matahari tidak mengubah tatanan cuaca lokal kita, melainkan dinamika angin Monsun Dingin Australia dan hilangnya tutupan awan malam harilah yang menjadi penyebab utamanya.
Mengingat puncak musim kemarau ini masih akan berlangsung hingga beberapa bulan ke depan, masyarakat diimbau untuk tetap menjaga kondisi kesehatan tubuh. Gunakan pakaian hangat atau jaket saat beraktivitas di luar ruangan pada malam dan pagi hari, perbanyak konsumsi air putih untuk mencegah dehidrasi akibat udara kering, serta gunakan pelembap kulit agar terhindar dari dampak buruk cuaca kering khas monsun Australia.
Sumber : www.cnnindonesia.com
