95 Hektare Sawah Padi Kering Kerontang hingga Retak-Retak (Foto : Darfan)
CIREBON, Buletinmedia.com – Kemarau panjang yang melanda Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, mulai memberikan dampak serius terhadap sektor pertanian. Minimnya curah hujan dalam beberapa bulan terakhir membuat puluhan hektare lahan persawahan mengalami kekeringan parah hingga menyebabkan tanah retak-retak.
Salah satu wilayah yang terdampak cukup berat berada di Desa Kalisapu, Kecamatan Gunungjati, Kabupaten Cirebon. Di kawasan tersebut, lahan sawah yang sebelumnya menjadi sumber penghasilan para petani kini mengalami kondisi memprihatinkan akibat tidak mendapatkan pasokan air yang cukup.
Tanaman padi yang baru ditanam tidak mampu tumbuh secara optimal karena kebutuhan air tidak terpenuhi. Kondisi tersebut membuat sebagian petani harus menerima kerugian dan mencari alternatif lain agar lahan tetap dapat dimanfaatkan.
Kemarau panjang yang berlangsung selama beberapa bulan membuat sumber air untuk persawahan semakin terbatas. Bahkan, saluran irigasi yang menjadi jalur utama pengairan sawah dari wilayah hulu juga mengalami kekeringan.
Akibatnya, air yang seharusnya mengalir menuju lahan pertanian tidak dapat menjangkau area persawahan warga.
95 Hektare Sawah di Cirebon Alami Kekeringan
Hampir 95 hektare lahan sawah di Desa Kalisapu mengalami kekeringan akibat tidak adanya pasokan air yang mencukupi. Kondisi tanah yang seharusnya lembap berubah menjadi kering dan keras hingga mengalami retakan dengan kedalaman mencapai sekitar sepuluh sentimeter.
Bagi petani, kondisi ini menjadi ancaman serius karena tanaman padi membutuhkan ketersediaan air yang cukup sejak awal masa tanam hingga menjelang panen.
Namun, akibat kekurangan air, tanaman padi yang baru ditanam tidak mampu bertahan. Sebagian tanaman bahkan mengalami kerusakan sehingga petani terpaksa menghentikan perawatan karena dianggap tidak lagi memberikan hasil.
Beberapa pemilik lahan memilih mengganti tanaman padi dengan jenis tanaman lain yang dianggap lebih mampu bertahan dalam kondisi minim air. Tanaman seperti semangka dan timun suri menjadi pilihan alternatif karena memiliki tingkat kebutuhan air yang berbeda dibandingkan padi.
Langkah tersebut dilakukan petani agar lahan pertanian tetap produktif meskipun menghadapi kondisi musim kemarau yang panjang.
Saluran Irigasi Tidak Mendapat Pasokan Air
Kekeringan yang terjadi di Desa Kalisapu tidak hanya disebabkan oleh minimnya hujan, tetapi juga dipengaruhi kondisi saluran irigasi yang tidak mendapatkan aliran air dari wilayah hulu.
Saluran yang selama ini menjadi sumber pengairan bagi sawah petani tidak mampu mengalirkan air secara maksimal. Bahkan, upaya pemerintah desa untuk meminta bantuan pasokan air dari wilayah hulu belum membuahkan hasil yang diharapkan.
Alih-alih mendapatkan aliran air, saluran irigasi justru dipenuhi sampah sehingga semakin menghambat distribusi air menuju lahan pertanian.
Kondisi tersebut membuat petani semakin kesulitan mempertahankan tanaman padi mereka. Dalam satu tahun terakhir, sebagian petani bahkan hanya mampu melakukan satu kali tanam padi karena keterbatasan air.
Setelah itu, mereka harus mencari tanaman alternatif yang lebih sesuai dengan kondisi lahan kering.
Petani Berharap Ada Perbaikan Sistem Pengairan
Kekeringan yang terjadi setiap musim kemarau menjadi persoalan yang terus dihadapi petani di wilayah tersebut. Para petani berharap adanya perhatian lebih dari pemerintah untuk memperbaiki sistem pengairan agar pasokan air ke persawahan dapat kembali berjalan dengan baik.
Kepala Desa Kalisapu, Suhana, mengatakan bahwa sekitar 95 hektare lahan pertanian terdampak akibat tidak adanya pasokan air yang mencukupi.
“Untuk musim kemarau yang terjadi di Desa Kalisapu, yang terdampak sekitar 95 hektare karena tidak adanya pasokan air yang mencukupi. Saat ini sebagian lahan diganti dengan jenis tanaman lain seperti semangka dan timun suri,” ujar Suhana.
Menurutnya, kondisi kekeringan ini menjadi tantangan bagi masyarakat petani karena sektor pertanian sangat bergantung pada ketersediaan air.
Pemerintah desa bersama masyarakat terus berupaya mencari solusi agar lahan pertanian tetap dapat dimanfaatkan. Namun, perbaikan infrastruktur pengairan dinilai menjadi langkah penting untuk mengatasi persoalan tersebut.
Kemarau Panjang Ancam Produktivitas Pertanian Cirebon
Kabupaten Cirebon merupakan salah satu daerah yang memiliki sektor pertanian cukup besar, terutama tanaman padi. Oleh karena itu, perubahan kondisi iklim dan musim kemarau panjang dapat memberikan dampak langsung terhadap produktivitas petani.
Ketersediaan air menjadi faktor utama dalam keberhasilan pertanian. Ketika saluran irigasi mengalami gangguan, risiko gagal panen semakin besar dan dapat memengaruhi pendapatan para petani.
Bagi petani kecil, kondisi seperti ini tentu menjadi beban tersendiri karena biaya yang sudah dikeluarkan untuk membeli benih, pupuk, dan kebutuhan pertanian lainnya tidak selalu kembali jika tanaman mengalami kegagalan.
Masyarakat berharap persoalan kekeringan sawah di Desa Kalisapu tidak hanya mendapat perhatian ketika musim kemarau tiba, tetapi juga menjadi evaluasi untuk memperbaiki sistem pengairan secara berkelanjutan.
Perbaikan saluran irigasi, pengelolaan sumber air, serta pembersihan jalur pengairan menjadi beberapa langkah yang diharapkan dapat mencegah kejadian serupa terulang pada musim kemarau berikutnya.
Kondisi 95 hektare sawah di Desa Kalisapu yang mengalami kekeringan menjadi gambaran nyata bagaimana perubahan cuaca dan keterbatasan air dapat memberikan tekanan besar bagi sektor pertanian.
Dengan adanya kerja sama antara pemerintah, masyarakat, dan petani, diharapkan persoalan kekeringan dapat segera ditangani sehingga lahan pertanian kembali produktif dan mampu mendukung perekonomian warga.
