Sejumlah warga Sirkandi Purwareja Klampok saat berdoa bersama di TPU setempat yang dilanjut dengan menikmati makanan yang sudah dibawa dari rumah masing-masing (Tangkapan Layar)
Buletinmedia.com – Suasana penuh kekhusyukan menyelimuti pelaksanaan tradisi Sadranan yang digelar oleh masyarakat Desa Tuban, Gondangrejo, Karanganyar, pada Senin pagi (24/2/2025) di Makam Krendo Wayah. Acara ini dihadiri sekitar 1.500 warga dari tiga dusun, yakni Tuban Kidul, Tuban Lor, dan Tuban Kulon. Dilansir dari Kompas.com, warga mulai berdatangan sejak pukul 06:00 WIB dan duduk di sekitar makam. Sebelum acara utama dimulai, mereka lebih dulu melaksanakan zikir dan tahlil selama sekitar 30 menit sejak pukul 06:30 WIB. Acara inti diawali dengan sambutan dari panitia, diikuti oleh pejabat pemerintahan, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, tausiah, serta ritual ziarah makam.
Ketua Makam Krendo Wayah, Muhammad Subkhan (50), menyampaikan bahwa tradisi Sadranan di Desa Tuban telah diwariskan dari generasi ke generasi, meskipun tidak ada catatan pasti kapan tradisi ini dimulai. “Sebagai pengurus makam, kami hanya melestarikan tradisi yang sudah ada sejak lama. Saat saya masih kecil, tradisi ini sudah berlangsung, setidaknya sejak tahun 1980-an,” ungkapnya. Sadranan di Desa Tuban rutin dilaksanakan setiap tanggal 25 Ruwah dalam kalender Jawa atau 25 Sya’ban dalam kalender Hijriah. Menurut Subkhan, tradisi ini dimaknai sebagai “pepiling” atau pengingat bagi masyarakat bahwa setiap orang pada akhirnya akan mengalami kematian.
Salah satu peserta Sadranan, Suroto (69) dari Bandung, tampak khusyuk berjongkok di hadapan makam ayahnya, Bejo Jimin Sumito. Dengan penuh haru, ia membacakan Surah Al-Fatihah dan ayat-ayat Al-Qur’an lainnya, berharap agar orang tuanya serta keluarga yang telah berpulang mendapatkan ketenangan di alam kubur. “Saya berharap keluarga saya berada di jalan yang terang dan selamat dunia akhirat,” ucapnya.
Suroto datang ke Makam Krendo Wayah bersama istri, anak, menantu, dan cucunya untuk berziarah ke makam keluarga besarnya. Ia menyebutkan bahwa banyak kerabat buyutnya juga dimakamkan di tempat tersebut. “Mungkin ada ratusan anggota keluarga saya yang beristirahat di sini, mulai dari kakek hingga buyut-buyut kami,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Desa Tuban, Aris Santoso, menyampaikan bahwa penyelenggaraan Sadranan memerlukan anggaran sekitar Rp 7 juta, yang diperoleh melalui iuran warga. “Total biayanya sekitar Rp 6-7 juta,” ungkapnya. Setiap dusun di Desa Tuban juga memiliki tanggung jawab masing-masing dalam mendukung kelancaran acara ini. Misalnya, Dusun Tuban Kidul bertugas menyiapkan perlengkapan, Tuban Kulon mengurus kiai dan sistem suara, sedangkan Tuban Lor bertanggung jawab atas konsumsi. Aris berharap tradisi ini terus berlangsung tanpa membebani masyarakat serta fasilitasnya dapat lebih ditingkatkan di masa mendatang.
