CIREBON, Buletinmedia.com – Kelangkaan solar industri atau bahan bakar non-subsidi menyebabkan ratusan kapal nelayan di Pelabuhan Kejawanan, Kota Cirebon, Jawa Barat, tidak dapat berlayar. Kondisi tersebut terjadi sejak lebih dari satu bulan terakhir dan membuat aktivitas nelayan lumpuh. Kapal-kapal berukuran besar yang biasa melaut kini hanya terparkir dan menumpuk di area pelabuhan.
Situasi ini menjadi perhatian serius para pemilik kapal dan nelayan. Mereka mengaku kesulitan mendapatkan pasokan solar industri yang menjadi kebutuhan utama untuk operasional kapal. Tanpa bahan bakar, kapal tidak dapat berangkat melaut dan para nelayan kehilangan sumber penghasilan.
Pada Kamis siang, pemandangan ratusan kapal nelayan yang bersandar rapat terlihat jelas di Pelabuhan Kejawanan. Kapal-kapal lintas pulau tersebut tidak bergerak dan sebagian besar hanya menunggu kepastian pasokan bahan bakar tersedia kembali.
Kapal yang paling terdampak adalah kapal berukuran di atas tiga puluh gross ton. Jenis kapal ini menggunakan bahan bakar non-subsidi dalam jumlah besar untuk keperluan perjalanan melaut selama beberapa hari hingga berminggu-minggu.
Para nelayan menyebut kelangkaan solar industri kali ini menjadi yang paling parah dalam dua tahun terakhir. Jika sebelumnya pasokan sempat tersendat namun cepat kembali normal, kini kelangkaan berlangsung lebih lama hingga lebih dari satu bulan.
Akibat kondisi tersebut, roda perekonomian nelayan ikut terganggu. Banyak anak buah kapal yang sementara tidak bekerja karena kapal tempat mereka mencari nafkah tidak dapat beroperasi.
Kapal Besar Butuh Puluhan Ribu Liter Solar
Untuk sekali berlayar, kapal nelayan berukuran besar membutuhkan bahan bakar dalam jumlah sangat besar. Rata-rata kapal di atas tiga puluh gross ton memerlukan sekitar dua puluh empat kiloliter solar atau setara dua puluh empat ribu liter.
Jumlah tersebut dibutuhkan untuk perjalanan mencari ikan ke wilayah perairan yang jauh dari daratan. Selain untuk mesin utama kapal, bahan bakar juga dipakai untuk generator, pendingin, dan kebutuhan operasional lainnya selama berada di laut.
Para pemilik kapal sebenarnya telah berupaya mencari solusi. Mereka meminta tambahan jatah solar industri dari lima belas kiloliter menjadi dua puluh kiloliter agar kapal tetap bisa berangkat. Namun permintaan itu belum terpenuhi karena stok yang tersedia sangat terbatas.
Tidak hanya itu, sejumlah pemilik kapal juga mencoba mencari pasokan dari pihak swasta. Sayangnya, upaya tersebut belum membuahkan hasil karena pasokan di lapangan juga sulit diperoleh.
Nelayan Mengeluh Tidak Bisa Melaut
Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia Kota Cirebon, Kasrudin, mengatakan ratusan kapal nelayan sudah hampir sebulan tidak bisa berlayar akibat minimnya ketersediaan solar industri.
Menurutnya, kebutuhan kapal besar tidak mungkin dipenuhi jika stok terus terbatas. Sementara jika kapal dipaksakan berangkat dengan bahan bakar kurang, perjalanan akan berisiko di tengah laut.
Ia menegaskan kondisi ini membuat para pemilik kapal merugi. Selain harus menanggung biaya perawatan kapal yang tetap berjalan, mereka juga kehilangan pendapatan dari hasil tangkapan ikan.
Anak buah kapal pun ikut terdampak karena sebagian besar mengandalkan sistem bagi hasil setelah kapal kembali dari melaut. Ketika kapal tidak berangkat, maka tidak ada pemasukan yang bisa dibawa pulang.
Pemerintah Daerah Cari Solusi
Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan, dan Pertanian Kota Cirebon menyatakan telah menindaklanjuti keluhan para nelayan terkait sulitnya memperoleh BBM non-subsidi.
Sebagai langkah awal, Pertamina telah mengirimkan delapan ribu liter Pertamina Dex ke wilayah Pelabuhan Kejawanan. Namun jumlah tersebut dinilai masih jauh dari cukup jika dibandingkan dengan kebutuhan ratusan kapal nelayan.
Satu kapal besar saja bisa membutuhkan puluhan ribu liter bahan bakar. Karena itu, tambahan delapan ribu liter hanya menjadi solusi sementara dan belum mampu mengatasi persoalan secara menyeluruh.
Kabid Kelautan dan Perikanan DKPP Kota Cirebon, Yudi Lukman Hakim, mengatakan pihaknya masih berupaya berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk swasta, agar pasokan bahan bakar segera tersedia.
Pemerintah berharap kapal-kapal yang saat ini mangkrak di pelabuhan bisa kembali beroperasi dalam waktu dekat sehingga nelayan dapat kembali melaut.
Dampak ke Pasokan Ikan dan Ekonomi Lokal
Kelangkaan solar industri tidak hanya berdampak pada nelayan, tetapi juga berpotensi memengaruhi pasokan ikan di pasar. Jika kapal tidak melaut dalam waktu lama, hasil tangkapan otomatis menurun.
Kondisi tersebut bisa berdampak pada harga ikan di tingkat pedagang maupun konsumen. Selain itu, usaha lain yang bergantung pada aktivitas pelabuhan, seperti jasa angkut, es batu, logistik, hingga pengepakan ikan, juga ikut terkena imbas.
Pelabuhan Kejawanan selama ini menjadi salah satu pusat aktivitas perikanan penting di Kota Cirebon. Ketika ratusan kapal berhenti beroperasi, perputaran ekonomi di kawasan pelabuhan pun ikut melambat.
Nelayan Berharap Pasokan Segera Normal
Para pemilik kapal berharap pemerintah dan pihak terkait segera menemukan solusi nyata atas kelangkaan solar non-subsidi ini. Mereka meminta distribusi bahan bakar kembali normal agar kapal bisa berlayar seperti biasa.
Menurut nelayan, keterlambatan penanganan hanya akan menambah kerugian. Kapal yang terlalu lama bersandar juga memerlukan biaya perawatan lebih besar, sementara pemasukan tidak ada.
Selain itu, para pekerja kapal membutuhkan kepastian kerja. Banyak keluarga nelayan yang menggantungkan kebutuhan sehari-hari dari hasil melaut.
Kelangkaan Terparah Dua Tahun Terakhir
Sejumlah nelayan menyebut kondisi sekarang sebagai masa tersulit dalam dua tahun terakhir. Jika sebelumnya kelangkaan hanya terjadi beberapa hari, kali ini berlangsung lebih dari satu bulan.
Karena itu, mereka berharap ada langkah cepat dan permanen agar kejadian serupa tidak terus berulang. Pasokan BBM non-subsidi dinilai sangat penting bagi keberlangsungan usaha perikanan tangkap, khususnya kapal-kapal besar.
Hingga kini, ratusan kapal nelayan masih tertahan di Pelabuhan Kejawanan, Kota Cirebon. Para nelayan menanti kabar baik agar mesin kapal kembali menyala dan mereka bisa kembali mencari ikan di laut.
