sumber foto : https://snki.go.id/bantuan-sosial-nontunai/
Dalam upaya mengantisipasi perlambatan ekonomi nasional, pemerintah Indonesia meluncurkan paket stimulus ekonomi senilai Rp 24,4 triliun. Langkah ini diambil demi menjaga laju pertumbuhan ekonomi agar tetap berada di jalur positif, khususnya untuk kuartal II tahun 2025. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan bahwa lima program utama telah disiapkan dalam paket tersebut, mencakup subsidi upah, diskon transportasi, potongan tarif tol, perluasan bansos, serta pengurangan iuran Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK).
“Presiden telah menyetujui pemberian paket stimulus sebagai respons terhadap potensi pelemahan ekonomi global. Tujuannya jelas: menjaga momentum pertumbuhan ekonomi domestik agar tetap mendekati angka 5 persen,” ujar Sri Mulyani usai rapat terbatas di Istana Negara pada Senin (2/6/2025).
Ekonomi Indonesia diketahui tumbuh sebesar 4,87 persen pada kuartal I-2025, turun dari 5,11 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya. Melalui paket ini, pemerintah berharap dapat menstabilkan kembali performa ekonomi nasional pada kuartal berikutnya.
Isi Bantuan yang Disiapkan Pemerintah:
1. Subsidi Upah Rp 300.000/Bulan untuk Pekerja Bergaji di Bawah Rp 3,5 Juta
Pemerintah akan menyalurkan bantuan subsidi upah (BSU) sebesar Rp 300.000 per bulan selama dua bulan (Juni–Juli 2025), sehingga total bantuan mencapai Rp 600.000 per pekerja. Target bantuan ini mencakup 17,3 juta pekerja formal yang terdaftar di BPJS Ketenagakerjaan dan berpenghasilan di bawah Rp 3,5 juta, serta 565.000 guru honorer di bawah Kemendikdasmen dan Kemenag.
2. Diskon Transportasi Nasional: Kereta, Pesawat, dan Kapal
Dalam rangka mendorong mobilitas selama liburan sekolah, pemerintah menyediakan diskon tiket transportasi umum yang berlaku selama Juni–Juli 2025:
-
Tiket kereta api: Diskon hingga 30% dengan anggaran Rp 300 miliar, menyasar 2,8 juta penumpang.
-
Tiket pesawat kelas ekonomi: Pemerintah menanggung PPN 6%, dengan alokasi Rp 430 miliar untuk 6 juta penumpang.
-
Tiket kapal laut: Diskon 50% untuk masa yang sama, dengan dana Rp 210 miliar.
Total anggaran diskon transportasi publik ini mencapai Rp 940 miliar.
3. Diskon Tarif Tol: Potongan 20% dari BUJT
Masyarakat juga akan menikmati diskon tarif tol sebesar 20%, tanpa membebani APBN. Insentif ini berasal dari inisiatif Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) dan ditujukan bagi 110 juta pengguna jalan tol selama Juni–Juli. Nilai estimasi bantuan ini mencapai Rp 650 miliar, disalurkan melalui mekanisme non-APBN.
4. Tambahan Bansos: Kartu Sembako dan Beras 20 Kg
Bansos diperluas melalui:
-
Tambahan kartu sembako sebesar Rp 400.000 (Rp 200.000/bulan selama 2 bulan) untuk 18,3 juta penerima manfaat.
-
Bantuan beras 10 kg per bulan selama Juni–Juli, dikoordinasikan oleh Bapanas dan Kementan.
Untuk tambahan bansos ini, pemerintah telah mengalokasikan dana sebesar Rp 11,93 triliun.
5. Diskon Iuran JKK bagi Industri Padat Karya
BPJS Ketenagakerjaan akan memberi diskon 50% untuk iuran Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) selama enam bulan, tanpa mengurangi manfaat perlindungan. Sasaran utama program ini adalah 2,7 juta pekerja di enam sektor industri padat karya yang terdampak tekanan global dan persaingan ekspor.
Diskon Listrik Dibatalkan, BSU Ditingkatkan
Satu program sempat direncanakan namun akhirnya dibatalkan, yaitu diskon tarif listrik 50%. Menurut Menkeu, proses penganggaran program ini tidak memungkinkan untuk realisasi cepat, padahal stimulus ditargetkan untuk bulan Juni dan Juli. Sebagai gantinya, BSU ditingkatkan dari Rp 150.000 menjadi Rp 300.000 per bulan.
“Dengan data dari BPJS Ketenagakerjaan dan DTSEN yang sudah bersih dan siap digunakan, kami menilai peningkatan subsidi upah jauh lebih tepat dan cepat dibandingkan diskon listrik,” terang Sri Mulyani.
Dengan kombinasi berbagai insentif ini, pemerintah berharap konsumsi masyarakat tetap bergairah dan mobilitas domestik meningkat, terutama selama momen libur panjang pertengahan tahun. Program ini juga diharapkan memberi napas segar bagi para pekerja, pelaku industri, dan sektor transportasi yang selama ini menjadi tulang punggung pergerakan ekonomi nasional.
