ilustrasi dampak super-el Nino di Indonesia . (Sumber Foto : Dok. BRIN)
Buletinmedia.com – Fenomena El Nino 2026 diperkirakan akan menjadi salah satu yang paling kuat dalam sejarah pengamatan modern. Sejumlah pakar iklim dari berbagai lembaga internasional memprediksi intensitas El Nino tahun ini berpotensi melampaui seluruh rekor yang pernah tercatat selama lebih dari 150 tahun terakhir.
Jika prediksi tersebut menjadi kenyataan, dunia diperkirakan akan menghadapi peningkatan suhu global yang lebih tinggi, cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi, hingga ancaman terhadap sektor pertanian, ketersediaan air bersih, dan kesehatan masyarakat.
Perkiraan tersebut muncul berdasarkan hasil simulasi sejumlah model iklim yang menunjukkan bahwa suhu permukaan laut di Samudra Pasifik terus mengalami peningkatan dan berpotensi mencapai level yang belum pernah terjadi sebelumnya.
El Nino 2026 Diprediksi Lampaui Rekor Sebelumnya
Ilmuwan iklim dari Berkeley Earth, Zeke Hausfather, mengungkapkan bahwa hasil analisis terhadap 14 model prakiraan musiman menunjukkan El Nino tahun ini memiliki peluang besar menjadi yang terkuat dalam sejarah pencatatan modern.
Menurutnya, berbagai model iklim memperkirakan anomali suhu permukaan laut di kawasan Pasifik tropis dapat mencapai sekitar 3,6 derajat Celsius di atas rata-rata.
Angka tersebut sekitar 0,8 derajat Celsius lebih tinggi dibandingkan rekor yang tercatat saat Super El Nino 2015–2016, yang selama ini dianggap sebagai salah satu fenomena El Nino paling kuat dalam sejarah.
Hausfather menilai prediksi tersebut menunjukkan situasi yang belum pernah diamati sebelumnya.
Ia menjelaskan bahwa perbedaan suhu antara El Nino terkuat dengan peringkat kelima dalam kurun sekitar 150 tahun hanya berkisar 0,5 derajat Celsius. Karena itu, apabila proyeksi saat ini benar-benar terjadi, maka lonjakan intensitas El Nino 2026 akan menjadi sesuatu yang sangat luar biasa.
Berbagai model iklim bahkan menggambarkan kondisi yang berada di luar rentang pengamatan historis sehingga membutuhkan perhatian serius dari pemerintah maupun masyarakat.
NOAA Resmi Menyatakan Fase El Nino Dimulai
Lembaga pemantau cuaca dan iklim Amerika Serikat, National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), sebelumnya telah mengumumkan bahwa fase El Nino resmi dimulai pada Juni 2026.
Dalam kondisi El Nino, suhu permukaan laut di wilayah tengah hingga timur Samudra Pasifik meningkat secara signifikan. Kenaikan suhu tersebut menyebabkan laut melepaskan lebih banyak panas ke atmosfer sehingga memengaruhi pola cuaca di berbagai belahan dunia.
Berdasarkan proyeksi NOAA, puncak pemanasan permukaan laut diperkirakan terjadi antara November 2026 hingga Februari 2027.
Karena puncak El Nino biasanya berlangsung menjelang pergantian tahun, dampak terhadap suhu global umumnya baru akan terasa paling kuat pada tahun berikutnya.
Itulah sebabnya banyak ilmuwan memperkirakan tahun 2027 berpotensi menjadi salah satu tahun terpanas yang pernah tercatat.
Suhu Global Diperkirakan Tembus 1,7 Derajat Celsius
Hausfather menjelaskan bahwa kombinasi antara El Nino yang sangat kuat dengan pemanasan global akibat perubahan iklim berpotensi meningkatkan rata-rata suhu Bumi hingga sekitar 1,7 derajat Celsius dibandingkan masa pra-industri.
Jika angka tersebut tercapai, maka kenaikan suhu global akan melampaui batas 1,5 derajat Celsius yang menjadi target utama dalam Perjanjian Paris (Paris Agreement).
Batas tersebut selama ini dianggap sebagai ambang penting untuk mengurangi risiko dampak perubahan iklim yang lebih parah.
Para ilmuwan menilai bahwa semakin jauh suhu global melampaui angka tersebut, semakin besar pula kemungkinan munculnya gelombang panas ekstrem, kekeringan berkepanjangan, kebakaran hutan, hujan dengan intensitas tinggi, hingga badai yang lebih kuat.
Tahun 2026 Berpeluang Pecahkan Rekor Panas Dunia
Selain memperkirakan tahun 2027 sebagai periode yang sangat panas, Hausfather juga menyebut tahun 2026 memiliki peluang sekitar 28 persen untuk melampaui rekor suhu global yang sebelumnya tercatat pada 2024.
Meski probabilitas tersebut belum mencapai mayoritas, peluang tersebut tetap dianggap cukup besar mengingat kondisi iklim global saat ini masih berada dalam tren pemanasan.
Apabila El Nino terus menguat sesuai prediksi, maka dua tahun ke depan diperkirakan akan menjadi periode yang penuh tantangan bagi berbagai negara.
BRIN: Intensitas El Nino Sudah Lampaui Tahun 2023
Prediksi serupa juga disampaikan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Profesor Riset dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Erma Yulihastin, mengatakan intensitas El Nino 2026 telah melampaui fenomena yang terjadi pada 2023.
Menurutnya, saat El Nino 2023 mencapai puncaknya, intensitas pemanasan maksimum berada di sekitar 1,6 derajat Celsius.
Sementara berdasarkan pemantauan satelit terbaru, intensitas El Nino tahun ini telah mencapai sekitar 1,74 derajat Celsius dan masih terus meningkat.
Artinya, kondisi saat ini sudah melampaui puncak El Nino 2023 meskipun fenomenanya belum mencapai fase maksimum.
Berpotensi Masuk Kategori Super El Nino
Erma memperkirakan intensitas El Nino akan terus bertambah dalam beberapa pekan mendatang.
Ia menyebut pada Agustus, suhu permukaan laut berpotensi menembus angka 2 derajat Celsius.
Dalam ilmu klimatologi, El Nino dengan intensitas mencapai atau melampaui angka tersebut dikategorikan sebagai Super El Nino.
Fenomena seperti ini sangat jarang terjadi.
Sepanjang sejarah modern, kategori Super El Nino hanya tercatat dua kali, yaitu pada 1997–1998 dan 2015–2016.
Namun, jika prediksi terbaru benar, El Nino 2026 berpotensi menjadi yang paling kuat dibandingkan dua peristiwa tersebut.
Dampak El Nino Diperkirakan Lebih Parah
Meningkatnya intensitas El Nino diperkirakan akan membawa berbagai konsekuensi terhadap kondisi cuaca di banyak negara, termasuk Indonesia.
Secara umum, El Nino menyebabkan berkurangnya curah hujan di sebagian wilayah Indonesia sehingga musim kemarau berlangsung lebih panjang.
Kondisi tersebut dapat memicu berbagai dampak, antara lain:
- Kekeringan di sejumlah daerah.
- Penurunan debit sungai dan waduk.
- Berkurangnya pasokan air bersih.
- Meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan.
- Penurunan hasil pertanian.
- Gangguan terhadap ketahanan pangan.
- Meningkatnya suhu udara harian.
Selain itu, cuaca yang lebih panas juga dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan seperti dehidrasi, heat stroke, hingga penurunan kualitas udara akibat kebakaran hutan.
Sektor Pertanian Berpotensi Paling Terdampak
Salah satu sektor yang paling rentan terhadap El Nino adalah pertanian.
Curah hujan yang menurun membuat kebutuhan air tanaman menjadi sulit dipenuhi, terutama di daerah yang mengandalkan sistem tadah hujan.
Produksi padi, jagung, kedelai, hingga tanaman hortikultura berpotensi mengalami penurunan apabila kekeringan berlangsung dalam waktu lama.
Selain memengaruhi hasil panen, kondisi tersebut juga dapat meningkatkan biaya produksi karena petani harus menggunakan irigasi tambahan.
Jika terjadi secara luas, dampaknya bisa memengaruhi stabilitas harga pangan.
Risiko Kebakaran Hutan Meningkat
Musim kemarau yang lebih panjang juga meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan.
Tanaman yang mengering lebih mudah terbakar, terutama di kawasan gambut yang memiliki tingkat kerentanan tinggi.
Asap akibat kebakaran tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga berdampak terhadap kesehatan serta transportasi udara.
Karena itu, pemerintah dan berbagai pihak diharapkan meningkatkan upaya mitigasi sejak dini apabila prediksi Super El Nino benar-benar terjadi.
Masyarakat Diminta Bersiap Menghadapi Cuaca Ekstrem
Para ahli mengingatkan bahwa prediksi iklim bukanlah kepastian mutlak, tetapi menjadi dasar penting untuk melakukan langkah antisipasi.
Persiapan sejak awal dinilai jauh lebih efektif dibandingkan menunggu dampak El Nino mulai dirasakan.
Masyarakat dapat melakukan berbagai langkah sederhana, seperti menghemat penggunaan air, menjaga kesehatan saat cuaca panas, serta mengikuti informasi cuaca dari lembaga resmi.
Sementara itu, pemerintah daerah juga diharapkan mulai memperkuat cadangan air, meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kebakaran hutan, serta menyiapkan strategi untuk menjaga ketahanan pangan apabila musim kemarau berlangsung lebih lama.
Fenomena yang Perlu Diwaspadai
Prediksi El Nino 2026 menjadi yang terkuat dalam 150 tahun menunjukkan bahwa perubahan iklim global semakin nyata. Kenaikan suhu permukaan laut yang diperkirakan melampaui rekor sebelumnya menjadi sinyal bahwa dunia perlu meningkatkan upaya adaptasi terhadap kondisi cuaca yang semakin ekstrem.
Meskipun hasil prakiraan masih dapat berubah seiring perkembangan kondisi atmosfer dan lautan, berbagai lembaga ilmiah sepakat bahwa potensi El Nino kali ini tidak boleh dianggap remeh.
Dengan kesiapan yang lebih baik, dampak terhadap masyarakat, sektor pertanian, sumber daya air, hingga aktivitas ekonomi diharapkan dapat diminimalkan. Kewaspadaan sejak dini menjadi langkah penting agar Indonesia mampu menghadapi kemungkinan terjadinya salah satu fenomena El Nino terkuat dalam sejarah modern.
Sumber : www.cnnindonesia.com
