Sumber foto : freepik
Buletinmedia.com – Generasi Z (lahir antara 1997–2012, kini berusia 12–27 tahun) kerap dijuluki sebagai generasi paling melek teknologi. Mereka tumbuh di tengah gempuran internet, media sosial, dan revolusi kecerdasan buatan (AI). Dari sekadar pengguna smartphone, Gen Z berkembang menjadi kelompok yang sangat cepat dalam mengadopsi inovasi baru, termasuk AI generatif. Namun, di balik kepercayaan diri tersebut, muncul pertanyaan besar: apakah Gen Z terlalu percaya pada AI?
Data riset terbaru menunjukkan bahwa Gen Z bukan sekadar pengguna AI, tetapi telah menjadikannya bagian rutin dalam kehidupan sehari-hari. Namun, ada indikasi bahwa ketergantungan ini berisiko menciptakan generasi yang “terlalu percaya” tanpa memahami batasan teknologi.
Dominasi AI Generatif dalam Kehidupan Gen Z
Riset Salesforce memberikan gambaran jelas mengenai penetrasi AI generatif di kalangan Gen Z. Sekitar 70 persen Gen Z sudah memanfaatkan AI generatif dalam keseharian mereka, baik untuk belajar, bekerja, maupun hiburan. Bahkan lebih dari separuh responden (52 persen) percaya AI mampu membantu mengambil keputusan penting.
Lebih dari itu, intensitas penggunaan AI juga meningkat. Setengah responden mengaku lebih sering memakai AI sekarang dibanding saat pertama kali mencoba. Ini menunjukkan bahwa Gen Z bukan lagi sekadar early adopter. Mereka telah bertransformasi menjadi “super-user” AI yang mengandalkan teknologi ini sebagai mitra dalam berpikir, berkreasi, hingga menyelesaikan tugas.
Penggunaan AI oleh Gen Z pun tidak hanya terbatas pada konten kreatif atau pencarian informasi. Mereka mulai mengintegrasikan AI dalam berbagai aspek kehidupan, seperti:
-
menulis tugas atau laporan,
-
membuat konten media sosial,
-
mengoptimalkan presentasi,
-
mengedit foto dan video,
-
hingga membantu dalam proses pengambilan keputusan.
Dengan kemudahan yang ditawarkan AI, tidak heran jika Gen Z merasa AI seperti “teman setia” yang selalu siap membantu.
Gen Z: Dekat dengan AI, Namun Penuh Dilema
Meski tampak percaya diri, kedekatan Gen Z dengan AI tidak selalu berbanding lurus dengan pemahaman kritis terhadap teknologi tersebut. Penelitian Gallup terhadap 3.465 pekerja Gen Z menunjukkan bahwa 47 persen menggunakan AI generatif setiap minggu. Namun, fakta menariknya adalah 41 persen mengaku cemas dengan kehadiran teknologi ini.
Artinya, meski Gen Z rajin memakai AI, banyak di antara mereka yang masih ragu dan cemas terhadap dampaknya. Mereka merasa AI berguna, tetapi belum sepenuhnya memahami konsekuensi, batasan, dan risiko penggunaan teknologi ini.
Fenomena ini kemudian menimbulkan paradoks: lahirnya generasi yang percaya diri menguasai teknologi, tetapi minim kemampuan evaluasi kritis.
Tantangan Kritis: Gen Z “Merasa Ahli” Tapi Belum Memahami AI
Temuan portal karier EY memperkuat kekhawatiran ini. Banyak Gen Z merasa sudah “ahli” dalam AI. Namun ketika diuji, misalnya diminta menulis prompt yang efektif atau mengidentifikasi kelemahan AI, hasilnya masih jauh dari harapan.
Ini menunjukkan bahwa:
-
Gen Z mungkin terlalu percaya pada kemampuan AI,
-
tetapi belum memiliki kemampuan evaluasi kritis yang memadai,
-
serta belum memahami cara kerja AI secara mendalam.
Padahal, kemampuan seperti prompt engineering, memahami bias data, hingga menilai keakuratan output AI merupakan keterampilan penting agar pengguna tidak terjebak dalam informasi palsu atau kesalahan.
Ketergantungan AI dan Risiko “Keterampilan Tumpul”
Riset dari Aithor menambahkan lapisan lain terkait dampak ketergantungan AI. Hampir 80 persen profesional Gen Z menggunakan AI untuk menyelesaikan lebih dari separuh pekerjaannya, sementara 38 persen mengaku tidak bisa lepas dari AI setiap hari.
Sayangnya, sebagian besar dari mereka belum mampu menilai kapan AI keliru atau memberikan jawaban menyesatkan. Di titik inilah risiko besar muncul: keterampilan analitis manusia bisa tumpul karena terlalu bergantung pada mesin.
Ketika AI dianggap sebagai sumber jawaban utama, kemampuan berpikir kritis, menilai fakta, dan memverifikasi informasi dapat menurun. Hal ini berpotensi membuat Gen Z menjadi generasi yang cepat mengonsumsi informasi, tetapi kurang mampu menganalisis kebenarannya.
=Efek Domino: AI Membuat Soft Skills Gen Z Terganggu
Survei TalentLMS bahkan menyoroti efek domino dari penggunaan AI berlebihan. Pekerja muda yang menjadikan AI sebagai “tongkat penopang” justru dilaporkan kesulitan membangun soft skills seperti:
-
komunikasi,
-
kerja sama tim,
-
manajemen konflik,
-
serta hubungan profesional.
Padahal, soft skills menjadi fondasi karier jangka panjang dan sangat dibutuhkan dalam lingkungan kerja modern. Ironisnya, alat yang digadang-gadang mampu mendongkrak produktivitas justru bisa mengikis kecakapan manusiawi yang tidak tergantikan.
Optimisme Gen Z: AI Sebagai Alat, Bukan Pengganti
Walau begitu, Gen Z bukanlah generasi yang sepenuhnya menutup mata. Mereka sadar akan risiko sekaligus peluang AI. Survei Udemy menunjukkan bahwa 30 persen Gen Z ingin mengasah keterampilan AI lebih lanjut.
Menariknya, persentase yang sama (30 persen) juga menempatkan komunikasi sebagai keterampilan yang perlu dikembangkan, disusul berpikir kritis (26 persen).
Ini menunjukkan bahwa Gen Z menyadari bahwa kemampuan teknis saja tidak cukup. Mereka mulai memahami bahwa:
-
AI bisa membantu menyelesaikan tugas,
-
namun kemampuan komunikasi dan pemikiran kritis tetap menjadi nilai tambah manusia.
Soft Skills Jadi Kunci: AI dan Kecerdasan Emosional Harus Seimbang
Kesadaran ini semakin kuat ketika 84 persen responden Gen Z menyebut soft skills sebagai kunci keberhasilan profesional. Bagi mereka, AI memang alat bantu penting—efisien, pintar, dan cepat—tetapi bukan pengganti kemampuan dasar manusia.
Justru kombinasi keduanya yang dianggap akan melahirkan generasi pekerja unggul: mahir memanfaatkan AI, namun tetap tangguh dalam berpikir kritis, berkomunikasi, dan membangun hubungan nyata.
Kesimpulan: Gen Z Tidak Terlalu Percaya, Mereka Hanya Sedang Belajar Menyeimbangkan AI
Secara keseluruhan, data menunjukkan bahwa Gen Z memang sangat dekat dengan AI generatif. Mereka adalah pengguna paling aktif dan adaptif, bahkan bisa disebut sebagai “super-user” AI. Namun, kedekatan tersebut tidak selalu diikuti dengan pemahaman kritis yang memadai.
Gen Z saat ini berada di persimpangan penting:
-
Di satu sisi, mereka menikmati kemudahan AI.
-
Di sisi lain, mereka harus belajar memahami batasan dan risiko teknologi ini.
Pertanyaan “apakah Gen Z terlalu percaya pada AI?” mungkin tidak bisa dijawab dengan jawaban tunggal. Lebih tepat jika dikatakan bahwa Gen Z sedang dalam proses belajar menyeimbangkan optimisme dan kewaspadaan. Mereka perlu meningkatkan kemampuan evaluasi kritis, memperkuat soft skills, dan membangun pemahaman yang lebih dalam tentang AI.
Dengan demikian, Gen Z bukan sekadar generasi yang cepat mengadopsi teknologi, tetapi generasi yang mampu menggunakan AI dengan bijak sebagai alat bantu, bukan sebagai sumber kebenaran mutlak.
