Vihara Dharmayana, kuil Buddha Tionghoa (shutterstock.com)
Buletinmedia.com – Imlek dan Sincia sering kali digunakan secara bergantian, namun keduanya memiliki perbedaan yang cukup signifikan meskipun berkaitan erat. Imlek adalah istilah yang merujuk pada kalender peredaran bulan Cina yang digunakan untuk menentukan waktu perayaan Tahun Baru Cina. Dalam bahasa Hokkien, Imlek berasal dari dua kata, yaitu “Im” yang berarti bulan, dan “Lek” yang berarti penanggalan. Kalender Imlek ini memiliki siklus tahunan yang berbeda dengan kalender Masehi yang digunakan secara internasional. Jadi, Imlek sebenarnya merujuk pada sistem penanggalan yang digunakan oleh masyarakat Tionghoa dalam merayakan Tahun Baru Cina.
Sementara itu, Sincia merujuk pada perayaan Tahun Baru Cina itu sendiri yang dilaksanakan sesuai dengan kalender Imlek. Istilah Sincia berasal dari dua kata dalam bahasa Hokkien, yaitu “Sin” yang berarti baru dan “Chia” yang berarti bulan pertama. Dengan demikian, Sincia adalah hari dimulainya tahun baru menurut penanggalan Imlek, yang biasanya jatuh pada akhir Januari atau awal Februari. Sincia lebih fokus pada perayaan dan kegiatan yang dilakukan untuk menyambut tahun baru, sedangkan Imlek lebih merujuk pada sistem penanggalan yang digunakan untuk menghitung tahun baru tersebut.
Selain Imlek dan Sincia, terdapat pula istilah lain yaitu Konyen, yang berasal dari bahasa Hakka “Ko Nyen” yang artinya merayakan Tahun Baru Cina. Ketiga istilah ini sering kali saling tumpang tindih, karena meskipun berbeda, ketiganya memiliki makna yang serupa. Namun, perbedaan terletak pada konteks penggunaannya, di mana Imlek merujuk pada kalender Cina, sementara Sincia dan Konyen lebih berfokus pada perayaan Tahun Baru.
Saat merayakan Imlek atau Sincia, ada sejumlah tradisi yang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan tersebut. Salah satu tradisi pertama yang dilakukan adalah membersihkan rumah. Biasanya, sebulan sebelum Sincia, masyarakat Tionghoa mulai membersihkan rumah mereka sebagai simbol menyambut tahun baru dengan kebersihan dan keberuntungan. Seluruh anggota keluarga terlibat dalam proses ini, dan aktivitas tersebut sering kali menjadi momen kebersamaan.
Selain itu, pakaian merah juga menjadi simbol yang sangat khas dalam perayaan Imlek dan Sincia. Merah dianggap sebagai warna yang membawa keberuntungan dan mengusir roh jahat. Oleh karena itu, masyarakat Tionghoa biasanya mengenakan pakaian serba merah selama perayaan, baik itu di rumah maupun saat berkunjung ke kerabat atau teman.
Tak ketinggalan, tradisi membagikan angpau, atau amplop merah berisi uang, juga menjadi salah satu hal yang paling dinanti. Angpau biasanya diberikan kepada anak-anak, orang yang belum menikah, serta orang tua oleh anak-anak yang sudah berkeluarga. Pemberian angpau melambangkan doa agar penerimanya mendapatkan keberuntungan, kemakmuran, dan kesehatan di tahun yang baru.
Singkatnya, meskipun Imlek dan Sincia sering dianggap serupa, keduanya memiliki makna yang berbeda. Imlek merujuk pada sistem kalender Cina yang digunakan untuk menentukan waktu perayaan, sementara Sincia adalah perayaan Tahun Baru Cina yang dimulai berdasarkan kalender tersebut.
