Ilustrasi pramugari dan pilot. (Sumber Foto: Wavebreakmedia_micro/Magnific)
Buletinmedia.com – Sebuah penelitian terbaru mengungkap temuan yang menarik perhatian terkait kesehatan pekerja di industri penerbangan. Pramugari dan pilot disebut memiliki risiko kematian akibat kanker yang berkaitan dengan radiasi lebih tinggi dibandingkan pekerja pada umumnya.
Riset yang diterbitkan di jurnal JAMA Internal Medicine tersebut menganalisis data kematian dalam jumlah besar di Amerika Serikat. Penelitian ini melihat lebih dari 12 juta sertifikat kematian dan membandingkan lebih dari 500 kelompok pekerjaan untuk mengetahui pola kematian akibat kanker yang berkaitan dengan paparan radiasi.
Hasilnya cukup mencolok. Pramugari berada di posisi pertama, sedangkan pilot menempati urutan kedua dalam hal persentase kematian akibat kanker yang dikategorikan berkaitan dengan paparan radiasi.
Dalam penelitian tersebut, pramugari memiliki kemungkinan sekitar 50 persen lebih tinggi untuk meninggal akibat kanker terkait radiasi dibandingkan populasi pekerja umum. Sementara itu, pilot memiliki kemungkinan sekitar 36 persen lebih tinggi.
Meski demikian, temuan ini perlu dipahami secara hati-hati. Penelitian tersebut tidak membuktikan bahwa paparan radiasi kosmik secara langsung menyebabkan kanker pada seorang pilot atau pramugari. Para peneliti juga mengakui bahwa mereka tidak memiliki data mengenai dosis radiasi yang diterima setiap individu selama bekerja.
Namun, tingginya angka pada dua profesi yang sama-sama menghabiskan banyak waktu di ketinggian membuat paparan radiasi kosmik menjadi salah satu faktor yang mendapat perhatian.
Pramugari dan Pilot Menempati Posisi Teratas
Penelitian yang dipimpin Dr. Vishal Patel dari Harvard Medical School tersebut menggunakan data nasional Amerika Serikat untuk melihat hubungan antara pekerjaan dan kematian akibat kanker yang berkaitan dengan radiasi.
Data yang digunakan mencakup lebih dari 12 juta sertifikat kematian dengan informasi mengenai pekerjaan. Para peneliti kemudian membandingkan angka kematian dari berbagai profesi untuk melihat pekerjaan mana yang menunjukkan proporsi kematian akibat kanker terkait radiasi paling tinggi.
Dari lebih dari 500 pekerjaan yang dianalisis, pramugari berada di urutan pertama. Pilot berada tepat di bawahnya. Bahkan, kedua profesi tersebut berada di atas pekerjaan yang selama ini lebih sering dikaitkan dengan paparan sumber radiasi tertentu.
Secara keseluruhan, sekitar 6,9 persen kematian pada pramugari dalam data penelitian disebabkan oleh kanker yang dikategorikan berkaitan dengan radiasi. Angka tersebut setara dengan sekitar satu dari setiap 14 kematian.
Sementara itu, pada pilot, kanker terkait radiasi menyumbang sekitar 6,7 persen dari seluruh kematian yang dianalisis.
Sebagai perbandingan, pada populasi pekerja secara umum, angkanya berada di kisaran 5 persen.
Perbedaan tersebut menjadi alasan mengapa hasil penelitian mendapat perhatian. Meski selisih persentasenya tidak berarti setiap orang yang bekerja sebagai pilot atau pramugari akan mengalami kanker, pola yang ditemukan cukup spesifik untuk menjadi bahan penelitian dan pembahasan lebih lanjut.
Kanker yang Diteliti Berkaitan dengan Paparan Radiasi
Dalam penelitian ini, para peneliti tidak melihat seluruh jenis kanker secara umum. Fokusnya adalah kelompok kanker yang memiliki kaitan dengan paparan radiasi.
Beberapa jenis kanker yang masuk dalam analisis antara lain leukemia, limfoma, multiple myeloma, kanker kulit, kanker payudara, kanker tiroid, kanker prostat, serta kanker pada sistem saraf pusat.
Pemilihan kelompok kanker tersebut penting karena penelitian ingin melihat apakah terdapat pola tertentu pada pekerjaan yang memungkinkan seseorang menerima paparan radiasi lebih tinggi.
Para peneliti kemudian membandingkan angka kematian akibat kanker terkait radiasi dengan kanker yang tidak termasuk dalam kelompok tersebut.
Hasil perbandingan memberikan temuan yang cukup menarik.
Pada pramugari dan pilot, peningkatan terlihat pada kelompok kanker yang berkaitan dengan radiasi. Sementara itu, angka kematian akibat kanker yang tidak dikaitkan dengan radiasi tidak menunjukkan pola peningkatan yang sama.
Temuan tersebut kemudian menjadi salah satu dasar bagi peneliti dan komentator untuk mempertimbangkan kemungkinan adanya faktor pekerjaan yang berhubungan dengan paparan radiasi.
Namun, sekali lagi, hasil tersebut belum dapat dianggap sebagai bukti bahwa radiasi kosmik adalah penyebab langsung kanker pada awak pesawat.
Mengapa Awak Pesawat Bisa Terpapar Radiasi Kosmik?
Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah radiasi kosmik.
Radiasi kosmik berasal dari luar angkasa dan sebagian kecil mencapai permukaan bumi. Ketika seseorang berada di ketinggian yang jauh lebih tinggi dibandingkan permukaan tanah, perlindungan atmosfer terhadap radiasi tersebut menjadi lebih rendah.
Pesawat komersial terbang pada ketinggian yang jauh di atas permukaan bumi. Pilot dan awak kabin dapat menghabiskan banyak waktu dalam kondisi tersebut, terutama mereka yang memiliki jadwal penerbangan padat atau menjalani rute jarak jauh.
Karena itulah, paparan radiasi kosmik pada awak pesawat telah lama menjadi perhatian dalam bidang kesehatan kerja dan keselamatan penerbangan.
Paparan yang diterima dalam satu penerbangan memang tidak serta-merta berarti seseorang akan mengalami masalah kesehatan. Yang menjadi perhatian adalah paparan yang berlangsung berulang kali selama bertahun-tahun.
Semakin sering seseorang terbang, semakin banyak waktu yang dihabiskan pada ketinggian. Namun, jumlah paparan yang diterima setiap orang dapat berbeda tergantung pada sejumlah faktor, termasuk pola kerja dan rute penerbangan.
Dalam penelitian terbaru tersebut, sayangnya peneliti tidak memiliki catatan dosis radiasi secara spesifik untuk setiap pilot dan pramugari. Keterbatasan ini membuat hubungan sebab-akibat tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan data yang dianalisis.
Bukan Berarti Semua Pilot dan Pramugari Akan Terkena Kanker
Temuan mengenai meningkatnya risiko kematian akibat kanker terkait radiasi pada pilot dan pramugari tentu bisa menimbulkan kekhawatiran.
Namun, hasil penelitian tidak boleh diterjemahkan sebagai kesimpulan bahwa seseorang yang bekerja sebagai pilot atau pramugari pasti akan terkena kanker.
Angka 50 persen lebih tinggi pada pramugari dan 36 persen lebih tinggi pada pilot merupakan ukuran perbandingan risiko dalam kelompok penelitian. Angka tersebut bukan berarti 50 persen pramugari akan meninggal karena kanker akibat radiasi.
Begitu pula dengan angka 36 persen pada pilot.
Data penelitian menunjukkan adanya perbedaan peluang kematian akibat kanker terkait radiasi dibandingkan populasi pekerja umum. Penelitian tersebut tidak mengatakan bahwa paparan radiasi merupakan satu-satunya penyebab kanker.
Pemahaman ini penting agar informasi mengenai penelitian tidak menimbulkan kesimpulan yang berlebihan.
Kanker merupakan penyakit kompleks yang dapat dipengaruhi oleh banyak faktor. Karena itu, temuan mengenai satu faktor pekerjaan harus dilihat bersama dengan faktor lain dan keterbatasan data yang digunakan.
Dalam kasus penelitian ini, para peneliti sendiri menyebutkan adanya sejumlah faktor yang belum dapat dihitung secara sempurna.
Jet Lag dan Gangguan Jam Biologis Juga Menjadi Perhatian
Paparan radiasi bukan satu-satunya hal yang menjadi perhatian dalam pekerjaan penerbangan.
Pilot dan pramugari juga memiliki pola kerja yang berbeda dibandingkan banyak pekerja lainnya. Mereka dapat bekerja pada malam hari, menjalani penerbangan jarak jauh, berpindah zona waktu, serta memiliki jadwal kerja yang berubah-ubah.
Kondisi tersebut dapat mengganggu ritme sirkadian atau jam biologis tubuh.
Para peneliti mengakui bahwa gangguan ritme sirkadian akibat jet lag dan jadwal kerja yang tidak teratur merupakan faktor lain yang mungkin berhubungan dengan risiko kanker. Faktor ini tidak dapat sepenuhnya dipisahkan dalam analisis yang dilakukan.
Karena itu, ketika membicarakan kesehatan awak pesawat, perhatian tidak cukup hanya diarahkan pada radiasi.
Kualitas tidur, perubahan waktu tidur, perjalanan melintasi zona waktu, serta jadwal kerja yang tidak menentu juga menjadi bagian dari kondisi kerja yang perlu diperhatikan.
Pekerjaan sebagai pilot atau pramugari memang memiliki karakteristik yang berbeda. Mereka harus tetap bekerja dalam kondisi ketika sebagian besar orang sedang beristirahat.
Dalam jangka panjang, pola kerja seperti ini dapat menjadi salah satu aspek yang perlu diteliti lebih jauh untuk memahami kesehatan awak pesawat.
Pemerintah Amerika Serikat Belum Mewajibkan Pemantauan Dosis Radiasi
Temuan penelitian tersebut juga menyoroti kebijakan mengenai paparan radiasi pada awak pesawat di Amerika Serikat.
Administrasi Penerbangan Federal atau FAA telah mengakui bahwa awak pesawat dapat terpapar radiasi pengion selama penerbangan. Namun, menurut penulis penelitian, pemerintah Amerika Serikat belum menetapkan batas dosis federal khusus atau mewajibkan pemantauan paparan radiasi secara rutin bagi awak pesawat.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena sulit mengetahui seberapa besar paparan yang diterima seseorang jika dosisnya tidak diukur secara rutin.
Dr. Vishal Patel menyampaikan pandangan tersebut melalui pernyataan yang kemudian banyak dikutip dalam pemberitaan mengenai penelitian ini.
Ia menekankan bahwa paparan yang tidak diukur akan sulit dikelola.
Persoalan pengukuran menjadi penting terutama bagi pekerja yang menjalani penerbangan dalam jangka panjang. Dengan adanya data paparan individu, pekerja dan pihak yang bertanggung jawab terhadap keselamatan kerja akan memiliki informasi yang lebih jelas untuk menilai tingkat risikonya.
Tanpa data tersebut, penilaian terhadap paparan individu menjadi lebih terbatas.
Serikat Pekerja Ikut Menyoroti Risiko Kesehatan Awak Kabin
Temuan penelitian juga mendapat perhatian dari Association of Flight Attendants-CWA, serikat pekerja yang mewakili puluhan ribu pramugari.
Presiden serikat tersebut, Sara Nelson, mengatakan hasil penelitian memperkuat kekhawatiran yang selama ini telah disampaikan oleh para awak kabin.
Menurut Nelson, persoalan paparan radiasi bukan sesuatu yang sepenuhnya baru. Namun, ia menilai awak pesawat masih membutuhkan informasi dan edukasi yang lebih memadai mengenai risiko kesehatan yang berkaitan dengan pekerjaan mereka.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan kesehatan awak pesawat tidak hanya menjadi perhatian para peneliti.
Pekerja penerbangan juga membutuhkan informasi yang jelas mengenai kondisi lingkungan kerja mereka. Dengan informasi yang memadai, pekerja dapat memahami risiko dan berdiskusi dengan tenaga kesehatan mengenai langkah pemeriksaan yang sesuai.
Bagi serikat pekerja, penelitian seperti ini dapat menjadi bahan untuk mendorong pembahasan mengenai perlindungan kesehatan yang lebih baik.
Ada Keterbatasan dalam Penelitian
Walaupun hasil penelitian menarik perhatian, para peneliti tidak menutup mata terhadap sejumlah keterbatasan.
Salah satu keterbatasan paling penting adalah tidak tersedianya data mengenai dosis radiasi yang diterima setiap individu.
Peneliti mengetahui profesi orang yang tercatat dalam data kematian, tetapi tidak mengetahui secara pasti berapa lama setiap orang bekerja sebagai pilot atau pramugari, berapa banyak penerbangan yang dijalani, serta berapa besar paparan radiasi yang diterima selama bekerja.
Perbedaan tersebut penting karena paparan radiasi pada setiap awak pesawat tidak selalu sama.
Pilot yang bekerja dengan jadwal tertentu bisa memiliki pola penerbangan berbeda dengan pilot lainnya. Begitu pula dengan pramugari. Ada yang lebih banyak menjalani penerbangan jarak jauh, sementara lainnya mungkin lebih sering melakukan penerbangan jarak pendek.
Karena itu, angka risiko yang dihasilkan penelitian merupakan gambaran pada tingkat kelompok, bukan pengukuran risiko individual.
Keterbatasan lainnya adalah kemungkinan adanya kesalahan dalam pencatatan profesi pada sertifikat kematian. Peneliti juga tidak dapat sepenuhnya memperhitungkan faktor gangguan ritme sirkadian akibat jet lag dan jadwal kerja tidak teratur.
Keterbatasan tersebut menjadi alasan mengapa hasil penelitian perlu dibaca secara proporsional.
Mengapa Temuan Ini Tetap Penting?
Meski memiliki keterbatasan, penelitian tersebut tetap dianggap penting karena menggunakan jumlah data yang sangat besar dan membandingkan lebih dari 500 kelompok pekerjaan.
Penelitian dengan cakupan seperti ini memberikan gambaran yang lebih luas mengenai pola kematian akibat kanker terkait radiasi di berbagai profesi.
Temuan bahwa pilot dan pramugari berada di dua posisi teratas menjadi hal yang sulit diabaikan.
Lebih menarik lagi, peningkatan tersebut terlihat pada kelompok kanker yang berkaitan dengan radiasi, sementara kanker yang tidak masuk dalam kelompok tersebut tidak menunjukkan pola peningkatan yang sama pada kedua profesi.
Catherine Olsen dan Ken Karipidis, dua ahli radiasi dari Australia yang menulis komentar pendamping penelitian dan tidak terlibat dalam riset utama, menilai pola tersebut mendukung hipotesis bahwa paparan radiasi akibat pekerjaan mungkin berperan terhadap temuan yang terlihat.
Namun, dukungan terhadap hipotesis tetap berbeda dengan pembuktian hubungan sebab-akibat.
Masih diperlukan penelitian lebih lanjut yang dapat mengukur paparan radiasi secara langsung pada individu dan mengikuti kondisi kesehatan mereka dalam jangka panjang.
Pemeriksaan Kesehatan untuk Awak Penerbangan
Dengan adanya temuan tersebut, para ahli memberikan sejumlah rekomendasi mengenai pemeriksaan kesehatan bagi orang yang bekerja dalam penerbangan ketinggian.
Salah satu rekomendasi yang muncul adalah pemeriksaan kulit secara rutin setiap tahun bagi personel yang sering bekerja dalam penerbangan ketinggian.
Hal ini berkaitan dengan adanya kanker kulit yang termasuk dalam kelompok kanker terkait radiasi yang dianalisis dalam penelitian.
Untuk awak pesawat perempuan, para ahli juga menyarankan agar pemeriksaan mamografi dapat dipertimbangkan lebih awal atau dilakukan dengan frekuensi lebih sering sesuai kondisi dan pertimbangan medis.
Rekomendasi tersebut bukan berarti semua pilot dan pramugari harus langsung menjalani pemeriksaan tertentu tanpa mempertimbangkan kondisi masing-masing.
Pemeriksaan kesehatan sebaiknya dibicarakan dengan tenaga medis, terutama jika seseorang memiliki faktor risiko tertentu atau menjalani pekerjaan dengan paparan yang tinggi.
Dokter yang menangani pilot dan pramugari juga disarankan memiliki perhatian lebih terhadap kemungkinan kanker ketika melakukan evaluasi kesehatan pasien dari kelompok pekerjaan tersebut.
Pentingnya Edukasi Kesehatan bagi Pilot dan Pramugari
Selain pemeriksaan kesehatan, edukasi juga menjadi bagian penting dalam upaya melindungi awak pesawat.
Pekerja perlu memahami bahwa bekerja di ketinggian memiliki karakteristik lingkungan yang berbeda dari pekerjaan di darat.
Paparan radiasi kosmik merupakan salah satu kondisi yang telah diakui dalam lingkungan penerbangan. Namun, banyak orang mungkin belum mengetahui bagaimana paparan tersebut berbeda tergantung pada ketinggian, durasi penerbangan, rute, serta frekuensi penerbangan.
Informasi tersebut dapat membantu pekerja memahami mengapa kesehatan perlu menjadi perhatian dalam jangka panjang.
Edukasi juga dapat membuat pekerja lebih sadar terhadap tanda-tanda penyakit yang perlu diperiksa.
Dengan pengetahuan yang cukup, awak pesawat dapat lebih mudah berdiskusi dengan dokter mengenai riwayat pekerjaan dan kemungkinan faktor risiko yang relevan.
Hal ini penting karena informasi mengenai pekerjaan seseorang dapat membantu dokter dalam melakukan penilaian kesehatan secara lebih menyeluruh.
Paparan Radiasi Kosmik Sudah Lama Menjadi Perhatian di Dunia Penerbangan
Sebenarnya, pembahasan mengenai radiasi kosmik pada penerbangan bukan hal yang sepenuhnya baru.
Ketinggian penerbangan membuat awak pesawat menerima paparan radiasi pengion yang lebih tinggi dibandingkan orang yang sebagian besar waktunya berada di permukaan bumi.
Karena itu, isu tersebut telah lama menjadi bagian dari pembahasan kesehatan dan keselamatan kerja di industri penerbangan.
Penelitian terbaru memberikan tambahan data mengenai kemungkinan dampaknya terhadap kesehatan dalam jangka panjang.
Yang membuat penelitian ini menarik adalah jumlah data yang digunakan serta perbandingan lintas profesi.
Dengan lebih dari 12 juta sertifikat kematian dan lebih dari 500 jenis pekerjaan, penelitian tersebut memberikan gambaran yang cukup luas mengenai pola kematian terkait kanker radiasi di lingkungan kerja.
Namun, para ahli tetap membutuhkan data yang lebih rinci untuk mengetahui hubungan antara jumlah paparan dan risiko penyakit.
Tidak Semua Penerbangan Memberikan Paparan yang Sama
Penting juga untuk memahami bahwa paparan radiasi pada penerbangan tidak selalu memiliki tingkat yang sama.
Ketinggian pesawat, durasi penerbangan, jalur penerbangan, serta aktivitas matahari dapat memengaruhi tingkat paparan radiasi kosmik yang diterima awak pesawat.
Karena itu, seseorang yang bekerja di penerbangan tidak otomatis mendapatkan dosis yang sama dengan pekerja penerbangan lainnya.
Faktor lama bekerja juga dapat menjadi pertimbangan. Seseorang yang baru bekerja beberapa bulan tentu memiliki riwayat paparan berbeda dengan orang yang sudah puluhan tahun berada di industri penerbangan.
Sayangnya, penelitian berbasis sertifikat kematian tidak dapat memberikan gambaran sedetail itu.
Itulah sebabnya para peneliti menyebut tidak adanya data dosis individu sebagai salah satu keterbatasan utama.
Penelitian berikutnya dapat memberikan gambaran yang lebih kuat apabila mampu menggabungkan data pekerjaan, jumlah penerbangan, durasi kerja, rute penerbangan, dan estimasi paparan radiasi setiap pekerja.
Perlu Penelitian Lebih Lanjut
Hasil penelitian ini membuka ruang bagi penelitian berikutnya.
Para ilmuwan dapat melakukan penelitian dengan metode yang mampu mengikuti pekerja penerbangan selama bertahun-tahun. Dengan cara tersebut, peneliti dapat mengetahui hubungan antara riwayat pekerjaan, jumlah penerbangan, paparan radiasi, dan kondisi kesehatan.
Data yang lebih rinci juga dapat membantu membedakan pengaruh radiasi kosmik dengan faktor lain.
Misalnya, gangguan tidur, jet lag, pola kerja malam, perubahan zona waktu, serta faktor kesehatan lain yang mungkin berbeda antara pekerja penerbangan dan pekerja umum.
Penelitian lanjutan juga diperlukan untuk mengetahui apakah risiko berbeda berdasarkan jenis penerbangan, lama bekerja, atau jumlah jam terbang.
Semakin lengkap data yang tersedia, semakin mudah pula para ahli menyusun rekomendasi kesehatan bagi pekerja penerbangan.
Apa yang Perlu Diketahui Pekerja Penerbangan?
Bagi pilot dan pramugari, hasil penelitian ini tidak perlu langsung menimbulkan kepanikan.
Temuan tersebut lebih tepat dipandang sebagai pengingat bahwa kesehatan kerja perlu mendapatkan perhatian yang serius.
Paparan radiasi kosmik merupakan salah satu kondisi yang berkaitan dengan pekerjaan di ketinggian. Karena itu, pemeriksaan kesehatan secara rutin dan komunikasi terbuka dengan tenaga medis menjadi hal yang penting.
Awak pesawat juga dapat menyampaikan riwayat pekerjaan mereka kepada dokter, terutama terkait durasi bekerja, pola penerbangan, serta jadwal kerja.
Jika terdapat kekhawatiran tertentu mengenai kanker atau kondisi kesehatan lainnya, pemeriksaan sebaiknya dilakukan berdasarkan saran tenaga medis.
Langkah tersebut jauh lebih tepat dibandingkan mengambil kesimpulan sendiri berdasarkan angka penelitian.
Temuan Studi Jadi Perhatian bagi Industri Penerbangan
Penelitian yang diterbitkan dalam JAMA Internal Medicine ini memberikan perhatian baru terhadap kesehatan pilot dan pramugari.
Dari lebih dari 500 profesi yang dianalisis, kedua pekerjaan tersebut menempati posisi teratas untuk proporsi kematian akibat kanker yang berkaitan dengan radiasi. Pramugari tercatat memiliki sekitar 50 persen lebih tinggi odds kematian akibat kanker terkait radiasi dibandingkan populasi pekerja umum, sementara pilot sekitar 36 persen lebih tinggi.
Dalam angka absolut, kanker terkait radiasi menyumbang sekitar 6,9 persen dari kematian pramugari dan 6,7 persen dari kematian pilot dalam data penelitian. Pada populasi pekerja umum, angkanya sekitar 5 persen.
Meski demikian, penelitian tersebut belum dapat memastikan bahwa radiasi kosmik menjadi penyebab langsung dari kanker yang dialami para pekerja tersebut.
Tidak adanya data dosis radiasi individu, kemungkinan kesalahan pencatatan pekerjaan, serta faktor jet lag dan gangguan ritme sirkadian menjadi beberapa keterbatasan yang perlu diperhatikan.
Karena itu, hasil penelitian lebih tepat dipahami sebagai temuan yang memperkuat alasan untuk melakukan penelitian lebih lanjut dan meningkatkan perhatian terhadap kesehatan awak pesawat.
Di sisi lain, rekomendasi seperti pemeriksaan kulit tahunan dan pertimbangan pemeriksaan payudara yang lebih awal atau lebih sering bagi perempuan yang bekerja dalam penerbangan ketinggian dapat menjadi bahan diskusi dengan tenaga medis.
Pada akhirnya, pekerjaan sebagai pilot dan pramugari memang memiliki berbagai tuntutan yang tidak dimiliki sebagian besar profesi lain. Selain menghadapi jadwal kerja yang berubah-ubah dan perjalanan lintas zona waktu, mereka juga bekerja di lingkungan dengan paparan radiasi kosmik yang lebih tinggi daripada di permukaan bumi.
Temuan terbaru ini menunjukkan bahwa aspek kesehatan tersebut layak mendapat perhatian lebih besar.
Bukan untuk menakut-nakuti para pekerja penerbangan, melainkan untuk mendorong tersedianya informasi, pemantauan, dan perlindungan kesehatan yang lebih baik.
Dengan penelitian lanjutan dan data paparan yang lebih lengkap, para ahli diharapkan dapat memahami seberapa besar pengaruh lingkungan kerja penerbangan terhadap risiko kanker. Hasilnya nantinya dapat menjadi dasar untuk menentukan langkah perlindungan yang lebih tepat bagi pilot, pramugari, dan pekerja penerbangan lainnya.
Sumber : www.cnnindonesia.com
