Ilustrasi makan pakai tangan. Foto: Net
Buletinmedia.com – Makan pakai tangan sudah menjadi kebiasaan yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Selain dianggap lebih praktis, sebagian orang merasa makanan justru terasa lebih nikmat ketika disantap langsung menggunakan tangan. Menariknya, sebuah penelitian menemukan bahwa sentuhan langsung dengan makanan memang dapat memengaruhi cara seseorang menikmati dan menilai rasa makanan.
Bagi banyak orang Indonesia, makan pakai tangan bukan sesuatu yang asing. Kebiasaan tersebut sudah menjadi bagian dari budaya makan sehari-hari dan dapat ditemukan di berbagai daerah.
Nasi hangat dengan lauk, sambal, sayur, hingga berbagai hidangan tradisional sering kali terasa lebih nikmat ketika disantap menggunakan tangan. Bahkan, bagi sebagian orang, makan dengan sendok atau garpu justru terasa kurang lengkap.
Kebiasaan makan menggunakan tangan juga sudah dilakukan sejak lama dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Anak-anak biasanya mulai mengenal cara makan dengan tangan sejak kecil, terutama ketika menikmati makanan rumahan bersama keluarga.
Meski begitu, bukan berarti penggunaan sendok dan garpu menjadi sesuatu yang salah.
Peralatan makan tetap memiliki fungsi penting dan digunakan dalam berbagai situasi. Makanan berkuah, misalnya, tentu lebih mudah disantap menggunakan sendok. Begitu pula makanan tertentu yang lebih sulit diambil langsung dengan tangan.
Yang menarik, pertanyaan mengenai mengapa makanan terasa lebih enak ketika dimakan menggunakan tangan ternyata tidak hanya berkaitan dengan kebiasaan atau budaya.
Ada penjelasan dari sisi psikologis dan sensorik.
Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Retailing pada 2020 menunjukkan bahwa sentuhan langsung dengan makanan dapat memengaruhi pengalaman seseorang ketika menikmati makanan.
Temuan tersebut memberikan gambaran bahwa pengalaman makan tidak hanya ditentukan oleh lidah.
Indra lain, termasuk sentuhan, juga dapat ikut berperan dalam membentuk persepsi seseorang terhadap makanan.
Makan Pakai Tangan Sudah Menjadi Budaya di Indonesia
Indonesia memiliki banyak tradisi makan yang melibatkan tangan secara langsung.
Nasi dan lauk yang tersedia di meja makan sering kali disantap dengan tangan. Di sejumlah daerah, makan bersama juga menjadi bagian dari tradisi sosial dan budaya.
Kebiasaan tersebut tidak hanya berkaitan dengan cara memasukkan makanan ke mulut.
Ada proses yang dilakukan sebelum makanan disantap. Makanan disentuh, dicampur, dibentuk menjadi suapan, kemudian dimasukkan ke dalam mulut.
Bagi orang yang sudah terbiasa, proses tersebut terasa alami.
Makan menggunakan tangan juga memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan menggunakan sendok dan garpu.
Ketika menggunakan sendok, kontak antara tangan dan makanan hampir tidak terjadi. Tangan hanya memegang alat makan, sedangkan makanan langsung berpindah dari sendok menuju mulut.
Sementara itu, ketika makan menggunakan tangan, seseorang dapat merasakan tekstur dan suhu makanan secara langsung.
Nasi yang masih hangat dapat dirasakan.
Tekstur lauk juga bisa diketahui sebelum masuk ke mulut.
Sambal yang lembut, ayam yang renyah, atau sayuran yang masih terasa segar memberikan pengalaman sentuhan yang berbeda.
Pengalaman tersebut kemudian dapat ikut memengaruhi bagaimana makanan dinilai.
Bukan Berarti Makan dengan Tangan Selalu Lebih Enak
Meski penelitian menunjukkan adanya pengaruh sentuhan terhadap pengalaman makan, bukan berarti semua makanan pasti terasa lebih enak ketika dimakan menggunakan tangan.
Ada banyak faktor yang menentukan kenikmatan makanan.
Rasa, aroma, tekstur, suhu, tampilan, kondisi tubuh, suasana hati, hingga lingkungan ketika makan dapat memengaruhi pengalaman seseorang.
Kebiasaan juga memiliki peran.
Seseorang yang sejak kecil terbiasa makan dengan tangan mungkin merasa cara tersebut lebih nyaman.
Sebaliknya, orang yang sejak kecil terbiasa menggunakan sendok dan garpu mungkin merasa lebih nyaman menggunakan peralatan makan.
Jadi, pengalaman makan sangat mungkin berbeda antara satu orang dan orang lainnya.
Penelitian mengenai sentuhan langsung terhadap makanan memberikan salah satu penjelasan mengenai fenomena tersebut, tetapi bukan satu-satunya faktor yang menentukan rasa makanan.
Penelitian tentang Makan dengan Tangan
Penjelasan mengenai hubungan antara sentuhan dan pengalaman makan berasal dari penelitian yang dilakukan Adriana Madzharov dari Stevens Institute of Technology di Amerika Serikat.
Dalam salah satu eksperimennya, Madzharov melibatkan 45 mahasiswa sebagai peserta.
Para peserta diminta mengonsumsi keju Muenster yang telah dipotong berbentuk kubus.
Namun, sebelum memakannya, peserta terlebih dahulu diminta memeriksa dan mengevaluasi keju tersebut.
Mereka juga diberi kesempatan untuk memegang makanan secara langsung.
Setelah itu, peserta dibagi ke dalam kondisi berbeda.
Sebagian peserta memakan keju menggunakan tangan.
Peserta lainnya menggunakan tusuk gigi.
Hasil eksperimen tersebut menunjukkan adanya perbedaan dalam penilaian terhadap makanan.
Peserta yang memiliki pengendalian diri lebih baik dalam hal konsumsi makanan menilai keju terasa lebih enak dan lebih menggugah selera ketika dimakan menggunakan tangan.
Temuan tersebut menjadi menarik karena menunjukkan bahwa sentuhan langsung dengan makanan dapat memberikan pengaruh terhadap pengalaman sensorik seseorang.
Mengapa Sentuhan Bisa Memengaruhi Rasa Makanan?
Lantas, bagaimana mungkin tangan membuat makanan terasa lebih enak?
Jawabannya berkaitan dengan pengalaman sensorik.
Ketika seseorang makan menggunakan tangan, ia tidak hanya melihat makanan dan merasakannya melalui lidah.
Indra peraba juga ikut terlibat.
Sebelum makanan masuk ke mulut, tangan dapat merasakan beberapa karakteristik makanan, seperti tekstur, suhu, bentuk, dan tingkat kelembutannya.
Informasi tersebut kemudian menjadi bagian dari pengalaman makan.
Sebagai contoh, ketika seseorang mengambil ayam goreng menggunakan tangan, ia bisa langsung merasakan permukaan ayam yang renyah dan bagian dalam yang masih hangat.
Ketika mengambil nasi, tangan juga dapat merasakan apakah nasi tersebut pulen, kering, atau terlalu lembek.
Begitu pula ketika seseorang mencampur nasi dengan sambal dan lauk.
Ada pengalaman fisik yang tidak diperoleh ketika menggunakan sendok atau garpu.
Pengalaman tersebut dapat membuat aktivitas makan menjadi lebih terasa.
Pengalaman Sensorik Membuat Makanan Lebih Menggugah Selera
Menurut penelitian tersebut, peningkatan pengalaman sensorik menjadi salah satu hal yang berkaitan dengan efek tersebut.
Sentuhan langsung memungkinkan seseorang mendapatkan lebih banyak informasi mengenai makanan sebelum dan ketika makanan dikonsumsi.
Hal tersebut kemudian dapat memengaruhi persepsi terhadap makanan.
Makanan yang sebelumnya terlihat biasa saja dapat terasa lebih menarik ketika disentuh langsung.
Proses ini menunjukkan bahwa persepsi mengenai makanan sebenarnya cukup kompleks.
Lidah memang berperan dalam mengenali rasa.
Namun, pengalaman makan secara keseluruhan melibatkan banyak indra.
Mata melihat warna dan bentuk makanan.
Hidung mencium aromanya.
Tangan merasakan teksturnya.
Lidah mengenali rasa.
Bahkan suara juga dapat memengaruhi pengalaman, misalnya bunyi renyah ketika menggigit kerupuk atau ayam goreng.
Semua informasi tersebut kemudian membentuk pengalaman makan yang utuh.
Eksperimen Kedua Melibatkan Lebih Banyak Peserta
Madzharov kemudian melakukan eksperimen kedua untuk melihat apakah hasil tersebut tetap ditemukan dalam kondisi berbeda.
Pada eksperimen ini, jumlah peserta lebih banyak, yaitu 145 mahasiswa.
Peserta dibagi menjadi dua kelompok dengan kondisi yang berbeda.
Kelompok pertama diminta untuk lebih berhati-hati dalam mengontrol pola makan.
Mereka diarahkan untuk mengurangi konsumsi makanan dengan tujuan mendapatkan bentuk tubuh yang diinginkan.
Sementara itu, kelompok kedua diminta untuk lebih menikmati makanan lezat dan memandang aktivitas makan sebagai salah satu bentuk kesenangan.
Para peserta kemudian diberikan makanan berupa donat.
Mereka mendapatkan dua cangkir plastik yang berisi empat donat.
Sebagian peserta diminta memakan donat menggunakan tangan.
Sementara peserta lainnya menggunakan tusuk gigi.
Hasil eksperimen kembali memperlihatkan adanya perbedaan dalam cara peserta menilai makanan.
Peserta yang memiliki pengendalian diri terhadap konsumsi makanan memberikan penilaian yang lebih positif terhadap makanan ketika mereka dapat menyentuhnya secara langsung.
Temuan tersebut memperkuat dugaan bahwa sentuhan langsung dengan makanan dapat memengaruhi pengalaman sensorik, terutama bagi orang yang terbiasa mengontrol konsumsi makanan.
Ada Hubungan dengan Pengendalian Diri
Bagian menarik lainnya dari penelitian tersebut adalah keterkaitan antara sentuhan makanan dan pengendalian diri.
Orang yang sering mengontrol konsumsi makanan mungkin memiliki perhatian yang lebih besar terhadap makanan yang mereka makan.
Mereka cenderung lebih sadar terhadap apa yang dikonsumsi.
Ketika makanan kemudian disentuh secara langsung, perhatian terhadap makanan dapat meningkat.
Dengan kata lain, sentuhan mungkin membuat seseorang lebih fokus terhadap pengalaman makan.
Kondisi tersebut kemudian dapat membuat makanan terasa lebih menarik atau menggugah selera.
Penjelasan tersebut juga dapat membantu memahami mengapa cara makan yang berbeda bisa menghasilkan pengalaman yang berbeda.
Ketika seseorang menggunakan sendok, perhatian mungkin lebih terfokus pada rasa dan proses makan.
Ketika menggunakan tangan, terdapat tambahan informasi yang berasal dari sentuhan.
Makan dengan Tangan Memberikan Pengalaman yang Lebih Lengkap
Bayangkan ketika makan nasi padang.
Nasi diletakkan di atas piring bersama rendang, daun singkong, sambal, dan berbagai lauk lainnya.
Ketika menggunakan tangan, seseorang biasanya akan mengambil nasi, mencampurnya dengan sedikit kuah dan sambal, lalu mengambil lauk.
Proses tersebut membuat tangan berinteraksi langsung dengan makanan.
Tekstur nasi dapat dirasakan.
Kuah yang membasahi nasi juga terasa.
Potongan lauk dapat disesuaikan dengan ukuran suapan.
Bagi orang yang terbiasa, proses tersebut justru menjadi bagian dari kenikmatan makan.
Hal yang sama juga dapat ditemukan ketika makan ayam goreng, pecel, lalapan, atau makanan tradisional lainnya.
Ada sensasi yang tidak muncul ketika menggunakan sendok dan garpu.
Inilah yang mungkin membuat sebagian orang mengatakan bahwa makanan terasa lebih enak jika dimakan menggunakan tangan.
Faktor Kebiasaan Juga Tidak Bisa Diabaikan
Selain penjelasan ilmiah mengenai sentuhan, faktor kebiasaan tetap memiliki peranan.
Orang yang sejak kecil terbiasa makan dengan tangan kemungkinan memiliki hubungan emosional tertentu dengan cara makan tersebut.
Misalnya, pengalaman makan bersama keluarga.
Makanan rumahan yang disajikan di meja kemudian disantap bersama-sama menggunakan tangan.
Pengalaman semacam itu dapat membentuk persepsi bahwa makan dengan tangan merupakan sesuatu yang nyaman dan menyenangkan.
Ketika dewasa, kebiasaan tersebut tetap terbawa.
Karena itu, rasa lebih enak yang dirasakan seseorang mungkin merupakan kombinasi dari faktor sensorik dan pengalaman pribadi.
Bukan hanya karena tangan menyentuh makanan, tetapi juga karena cara tersebut sudah menjadi bagian dari rutinitas.
Mengapa Makanan Tradisional Sering Lebih Nikmat Dimakan dengan Tangan?
Banyak makanan Indonesia memang cocok disantap menggunakan tangan.
Nasi liwet, nasi uduk, nasi kuning, nasi padang, pecel, lalapan, hingga berbagai jenis lauk rumahan bisa dinikmati dengan cara tersebut.
Makanan yang memiliki tekstur tertentu juga lebih mudah disantap menggunakan tangan.
Nasi dapat dibentuk menjadi satu suapan.
Lauk dapat dipotong atau dipisahkan sesuai kebutuhan.
Sambal dapat dicampurkan sesuai selera.
Cara tersebut membuat seseorang memiliki kendali lebih besar terhadap ukuran dan komposisi setiap suapan.
Hal ini berbeda ketika menggunakan sendok, karena komposisi makanan lebih banyak ditentukan oleh ukuran sendok.
Bagi sebagian orang, kebebasan mengatur setiap suapan tersebut membuat pengalaman makan menjadi lebih menyenangkan.
Makan Pakai Tangan Tetap Harus Memperhatikan Kebersihan
Meskipun makan menggunakan tangan merupakan kebiasaan yang umum, kebersihan tetap menjadi hal utama.
Tangan bersentuhan dengan banyak benda sebelum digunakan untuk makan.
Gagang pintu, ponsel, meja, kendaraan, uang, dan berbagai benda lain dapat menjadi tempat menempelnya kotoran maupun mikroorganisme.
Karena itu, mencuci tangan sebelum makan merupakan kebiasaan penting.
Tangan sebaiknya dicuci menggunakan sabun dan air mengalir.
Bagian telapak, punggung tangan, sela-sela jari, ujung jari, dan kuku perlu dibersihkan.
Setelah itu, tangan dikeringkan dengan baik.
Kebersihan tangan tidak kalah penting dibandingkan jenis makanan yang dikonsumsi.
Makanan yang sehat tetap perlu disantap dengan cara yang higienis.
Kapan Sebaiknya Menggunakan Sendok dan Garpu?
Tidak semua makanan cocok dimakan menggunakan tangan.
Makanan berkuah seperti sup, soto, atau hidangan dengan kuah dalam jumlah banyak tentu lebih praktis menggunakan sendok.
Begitu pula makanan tertentu yang memiliki tekstur sangat panas atau sulit disentuh secara langsung.
Dalam situasi seperti itu, menggunakan sendok dan garpu justru lebih nyaman dan aman.
Peralatan makan juga menjadi pilihan yang tepat ketika seseorang makan di tempat umum dan tidak memiliki fasilitas untuk mencuci tangan dengan baik.
Jadi, tidak perlu menganggap penggunaan sendok dan garpu sebagai sesuatu yang bertentangan dengan budaya makan menggunakan tangan.
Keduanya memiliki fungsi masing-masing.
Tidak Ada Cara Makan yang Paling Benar untuk Semua Orang
Cara makan pada dasarnya dipengaruhi oleh budaya, kebiasaan, jenis makanan, dan situasi.
Di Indonesia, makan menggunakan tangan merupakan hal yang umum.
Di negara lain, penggunaan sumpit menjadi bagian dari budaya.
Sementara itu, sendok dan garpu banyak digunakan dalam budaya makan Barat.
Tidak ada satu cara yang secara mutlak paling benar untuk semua orang.
Yang paling penting adalah menyesuaikan cara makan dengan situasi dan menjaga kebersihan.
Jika seseorang merasa lebih nyaman makan menggunakan tangan, hal tersebut tidak menjadi masalah selama tangan bersih dan makanan memang memungkinkan untuk disantap dengan cara tersebut.
Sentuhan Tangan dan Persepsi terhadap Makanan
Penelitian Madzharov memberikan gambaran menarik bahwa persepsi manusia terhadap makanan dapat dipengaruhi oleh lebih banyak hal daripada yang selama ini kita pikirkan.
Selama ini, ketika membicarakan rasa makanan, orang biasanya langsung menghubungkannya dengan lidah.
Padahal, pengalaman makan dimulai bahkan sebelum makanan masuk ke mulut.
Kita melihat makanan terlebih dahulu.
Kemudian mencium aromanya.
Kita mungkin menyentuhnya.
Setelah itu, makanan masuk ke mulut dan berbagai indra kembali bekerja.
Otak kemudian menggabungkan berbagai informasi tersebut menjadi sebuah pengalaman.
Karena itu, cara makanan disajikan dan cara seseorang berinteraksi dengan makanan dapat memengaruhi persepsinya.
Makan dengan Tangan Bisa Membuat Lebih Fokus pada Makanan
Ketika menggunakan tangan, seseorang harus berinteraksi lebih dekat dengan makanan.
Ia mengambil makanan secara langsung, merasakan teksturnya, lalu menyesuaikan ukuran suapan.
Proses tersebut dapat membuat perhatian terhadap makanan menjadi lebih besar.
Dalam konteks penelitian, peningkatan pengalaman sensorik tersebut menjadi salah satu penjelasan mengapa sebagian peserta memberikan penilaian yang lebih positif ketika makanan disentuh secara langsung.
Hal ini menarik karena menunjukkan bahwa pengalaman makan tidak selalu berhubungan dengan rasa secara biologis saja.
Persepsi juga memainkan peran.
Dua orang dapat mengonsumsi makanan yang sama, tetapi memberikan penilaian berbeda.
Bahkan orang yang sama dapat memberikan penilaian berbeda terhadap makanan yang sama jika situasi makannya berubah.
Makan dengan Tangan dan Kenikmatan
Kenikmatan makan pada akhirnya merupakan pengalaman yang sangat personal.
Ada orang yang merasa nasi goreng lebih enak ketika dimakan menggunakan sendok.
Ada yang justru merasa lebih puas ketika menggunakan tangan.
Ada pula orang yang memilih menggunakan garpu karena lebih nyaman.
Perbedaan tersebut merupakan hal yang wajar.
Penelitian mengenai sentuhan makanan tidak dimaksudkan untuk mengatakan bahwa setiap orang harus mulai makan menggunakan tangan.
Temuan tersebut lebih menunjukkan bahwa cara seseorang berinteraksi dengan makanan dapat memengaruhi persepsinya.
Jadi, jika selama ini Anda merasa makanan lebih nikmat ketika dimakan menggunakan tangan, ternyata ada penjelasan ilmiah yang dapat membantu memahami pengalaman tersebut.
Jangan Lupa Menikmati Makanan dengan Sadar
Selain cara makan, perhatian ketika mengonsumsi makanan juga penting.
Terlalu sering makan sambil melakukan banyak aktivitas dapat membuat seseorang kurang menyadari makanan yang sedang dikonsumsi.
Misalnya, makan sambil terus melihat ponsel atau menonton video.
Perhatian menjadi terbagi.
Sebaliknya, ketika seseorang benar-benar memperhatikan makanan, ia dapat lebih mudah menyadari rasa, aroma, tekstur, dan tingkat kenyang.
Makan dengan tangan secara tidak langsung dapat meningkatkan interaksi fisik dengan makanan.
Namun, kesadaran saat makan tetap dapat dilakukan meskipun menggunakan sendok dan garpu.
Intinya bukan semata-mata alat yang digunakan, melainkan bagaimana seseorang mengalami proses makan tersebut.
Makan dengan Tangan Bukan Sekadar Kebiasaan
Bagi masyarakat Indonesia, makan menggunakan tangan mungkin sudah terasa sangat biasa.
Namun, di balik kebiasaan sederhana tersebut terdapat pengalaman sensorik yang cukup kompleks.
Sentuhan tangan terhadap makanan dapat memberikan informasi mengenai tekstur, suhu, dan bentuk makanan.
Informasi tersebut kemudian dapat ikut membentuk persepsi terhadap makanan.
Penelitian Adriana Madzharov menunjukkan bahwa bagi orang yang secara rutin mengontrol konsumsi makanan, sentuhan langsung dapat berkaitan dengan respons sensorik yang lebih positif sehingga makanan dinilai lebih diinginkan dan menggugah selera.
Temuan tersebut membantu menjelaskan mengapa sebagian orang merasa makanan terasa lebih nikmat ketika dimakan menggunakan tangan.
Meski demikian, hasil penelitian tidak berarti bahwa tangan secara otomatis membuat semua makanan menjadi lebih enak.
Pengalaman setiap orang tetap berbeda.
Kebiasaan, budaya, jenis makanan, kondisi tubuh, suasana hati, serta lingkungan ketika makan tetap memiliki pengaruh.
Jadi, Kenapa Makan Pakai Tangan Terasa Lebih Enak?
Jika dirangkum, ada beberapa alasan yang dapat menjelaskan mengapa sebagian orang merasa makan menggunakan tangan lebih nikmat.
Pertama, sentuhan langsung memberikan pengalaman sensorik tambahan. Tangan dapat merasakan tekstur, suhu, dan bentuk makanan sebelum masuk ke mulut.
Kedua, interaksi langsung dengan makanan dapat meningkatkan perhatian terhadap makanan. Seseorang menjadi lebih sadar terhadap apa yang sedang dimakannya.
Ketiga, kebiasaan dan budaya turut memengaruhi persepsi. Bagi masyarakat yang sudah terbiasa makan menggunakan tangan sejak kecil, cara tersebut terasa lebih natural dan nyaman.
Keempat, jenis makanan juga berpengaruh. Hidangan tertentu memang lebih cocok disantap menggunakan tangan karena lebih mudah dicampur, diambil, dan disesuaikan dalam setiap suapan.
Kelima, pengalaman makan melibatkan banyak indra. Rasa bukan satu-satunya hal yang menentukan apakah makanan terasa nikmat.
Karena itu, tidak mengherankan jika sebagian orang merasa makanan yang sama memiliki sensasi berbeda ketika disantap dengan tangan dibandingkan menggunakan sendok atau garpu.
Pada akhirnya, makan menggunakan tangan maupun alat makan sama-sama memiliki tempat dalam kehidupan sehari-hari.
Yang terpenting adalah menjaga kebersihan dan menyesuaikan cara makan dengan makanan serta situasi.
Bagi yang terbiasa makan menggunakan tangan, jangan lupa mencuci tangan sebelum dan sesudah makan.
Sementara bagi yang lebih nyaman menggunakan sendok dan garpu, tidak ada alasan untuk mengubah kebiasaan hanya karena penelitian tersebut.
Namun, jika suatu hari Anda sedang menikmati nasi hangat dengan lauk favorit dan merasa rasanya menjadi jauh lebih nikmat ketika disantap menggunakan tangan, ternyata pengalaman tersebut bukan sekadar perasaan semata.
Ada faktor sensorik yang ikut bekerja di baliknya.
Sentuhan, tekstur, suhu, aroma, rasa, hingga kebiasaan semuanya dapat bertemu dalam satu aktivitas sederhana bernama makan.
Jadi, mungkin memang bukan makanannya yang berubah.
Cara kita berinteraksi dengan makananlah yang dapat membuat pengalaman makan terasa berbeda.
Sumber : www.indozone.id
