Hujan deras menyebabkan tebing setinggi sepuluh meter longsor dan menimpa rumah warga (Foto : Darfan)
CIREBON, Buletinmedia.com – Hujan deras yang mengguyur wilayah Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, selama seharian pada Senin hingga Selasa pagi menyebabkan bencana longsor yang menimpa sebuah rumah warga di Desa Gemulungtonggoh, Kecamatan Greged. Longsor terjadi setelah tebing setinggi sekitar sepuluh meter yang berada di belakang rumah warga runtuh, sehingga material tanah dan batu langsung menerjang bagian bangunan di bawahnya. Kejadian ini membuat satu rumah warga mengalami kerusakan parah, terutama pada bagian dapur. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, namun kerugian materi diperkirakan cukup besar karena rumah tidak bisa lagi digunakan secara normal.
Peristiwa longsor di Cirebon tersebut dipicu oleh intensitas hujan yang tinggi sejak Senin siang hingga malam. Curah hujan yang tinggi membuat kondisi tanah menjadi jenuh air dan labil, sehingga tidak mampu menahan beban air yang terus meningkat. Tanah yang jenuh air cenderung kehilangan kekuatan geser, sehingga mudah tergerus dan menyebabkan tebing menjadi rapuh. Kondisi ini diperparah karena di lokasi kejadian terdapat penahan tebing buatan warga yang ternyata tidak mampu menahan tekanan material longsor. Akibatnya, tebing yang berada di belakang rumah warga akhirnya runtuh dan menimpa bangunan yang berada tepat di bawahnya.
Pantauan di lokasi kejadian menunjukkan kondisi rumah milik Rosidi, warga Desa Gemulungtonggoh, mengalami kerusakan cukup parah. Bagian dapur rumah terlihat hancur akibat tertimpa material longsoran berupa tanah dan batu. Dinding dapur jebol dan perabotan rumah tangga tertimbun material longsor, sehingga bagian rumah tersebut tidak dapat digunakan. Bahkan, kondisi rumah saat ini dinilai berbahaya karena struktur bangunan sudah tidak stabil. Material longsor yang menutup bagian dapur juga membuat akses rumah terhambat, sehingga pemilik rumah belum bisa melakukan aktivitas normal di dalam rumah.
Longsor tebing ini diketahui terjadi pada Senin malam. Hujan deras yang mengguyur wilayah Kabupaten Cirebon sepanjang hari menjadi penyebab utama terjadinya bencana alam tersebut. Kondisi tanah yang jenuh air membuat struktur tebing menjadi rapuh dan akhirnya runtuh. Selain itu, penahan tebing yang berada di belakang rumah Rosidi juga jebol dan tidak mampu menahan beban tanah. Peristiwa longsor terjadi secara tiba-tiba dan disertai suara gemuruh yang cukup keras, membuat pemilik rumah panik dan berusaha menyelamatkan diri.
Rosidi, pemilik rumah yang terdampak longsor, mengungkapkan bahwa hujan deras memang mengguyur wilayah tersebut sejak pagi hingga sore hari. Ia mengaku sudah merasa khawatir dengan kondisi tebing di belakang rumahnya setiap kali hujan deras turun. Menurut Rosidi, kondisi tebing yang curam dan tanah yang mudah labil membuatnya selalu waspada, terutama saat hujan deras melanda. Ia menceritakan bahwa saat kejadian, dirinya sedang berjualan dan istrinya berada di rumah. Setelah sekitar jam empat sore, terdengar suara gemuruh dari arah tebing, kemudian tembok rumah langsung jebol dan material longsor masuk ke bagian dapur. Rosidi mengaku bahwa setiap tahun ia selalu khawatir akan adanya longsor karena wilayah tersebut termasuk daerah rawan.
Beruntung, saat kejadian, Rosidi dan keluarganya tidak berada di bagian dapur rumah. Saat longsor terjadi, pemilik rumah diketahui sedang berada di ruang salat sehingga masih sempat berlari menyelamatkan diri. Kondisi ini membuat keluarga Rosidi selamat tanpa mengalami luka atau korban jiwa. Meskipun demikian, kerugian materi tetap besar karena bagian dapur rumah rusak parah dan perabotan tertimbun tanah. Warga sekitar yang mengetahui adanya longsor langsung berdatangan ke lokasi untuk memberikan bantuan. Mereka bersama-sama membersihkan sebagian material longsor yang menutup dapur rumah, namun pembersihan dilakukan secara terbatas karena kondisi tanah yang masih labil dan dikhawatirkan terjadi longsor susulan.
Untuk mengantisipasi terjadinya longsor susulan, sejumlah warga bersama aparat desa berupaya membuat penahan tebing sementara. Penahan tersebut dibuat menggunakan bambu dan batu yang disusun di bagian belakang rumah warga. Langkah ini dilakukan sebagai solusi sementara sambil menunggu adanya penanganan lebih lanjut dari pihak terkait. Penahan tebing sementara ini dinilai penting untuk mengurangi risiko longsor susulan, terutama karena kondisi tanah di lokasi masih jenuh air dan rawan runtuh kembali. Namun, penahan sementara tersebut hanya bersifat sementara karena diperlukan penanganan profesional untuk memastikan kestabilan tebing dan keselamatan warga.
Kepala Desa Gemulungtonggoh, Agus Saifuddin, membenarkan bahwa longsor terjadi akibat hujan deras yang mengguyur wilayahnya selama beberapa jam. Menurutnya, intensitas hujan yang tinggi sejak siang hingga sore hari membuat tanah tidak mampu menahan beban air sehingga terjadi longsor. Agus juga menyampaikan bahwa wilayah Desa Gemulungtonggoh termasuk daerah rawan longsor, terutama saat musim hujan. Oleh karena itu, pihak desa mengimbau warga yang tinggal di sekitar tebing dan lereng untuk selalu waspada, terutama ketika hujan turun dengan intensitas tinggi dan durasi yang lama. Agus menegaskan bahwa keselamatan warga menjadi prioritas utama, sehingga warga diminta untuk tidak mengambil risiko dengan tetap tinggal di rumah yang berada dekat dengan tebing.
Hingga saat ini, warga masih berjaga dan memantau kondisi tebing di sekitar lokasi kejadian. Pemerintah desa juga telah berkoordinasi dengan pihak terkait untuk melakukan penanganan lanjutan, termasuk kemungkinan relokasi sementara bagi warga yang tinggal di daerah rawan longsor. Relokasi sementara menjadi opsi untuk memastikan keselamatan warga jika kondisi tebing dinilai sangat berbahaya. Selain itu, pihak desa juga berencana melakukan pendataan rumah yang berada di sekitar tebing dan melakukan langkah mitigasi seperti pemasangan penahan permanen, perbaikan drainase, serta penanaman vegetasi penahan tanah untuk mengurangi risiko longsor di masa mendatang.
Peristiwa longsor di Desa Gemulungtonggoh ini menjadi pengingat akan pentingnya mitigasi bencana, terutama di wilayah yang memiliki kontur tanah berbukit dan rawan longsor. Bencana longsor yang disebabkan hujan deras menunjukkan bahwa perubahan cuaca ekstrem dapat meningkatkan risiko bencana alam. Diharapkan, pemerintah daerah dapat segera melakukan langkah pencegahan yang lebih sistematis agar kejadian serupa tidak kembali terulang dan keselamatan warga dapat terjamin. Selain itu, masyarakat juga perlu meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan ketika musim hujan tiba, serta memahami tanda-tanda potensi longsor seperti retakan tanah, suara gemuruh, dan perubahan kondisi lereng.
