(Foto: Ilustrasi)
Buletinmedia.com – Saat ekonomi sedang sulit, kita sering mendapatkan nasihat untuk berhemat dan membeli hanya barang yang benar-benar dibutuhkan. Namun, kenyataannya banyak orang justru melakukan pembelian impulsif terhadap barang-barang murah yang bisa memberi kebahagiaan instan, seperti kosmetik, jajanan, minuman manis, atau pernak-pernik yang sebenarnya tidak penting. Perilaku ini bukan hanya terjadi sekali, tapi sudah terlihat pada beberapa periode krisis sebelumnya, seperti saat krisis ekonomi global 2008-2009 dan pandemi COVID-19.
Pembelian impulsif ini sebenarnya bisa dianggap sebagai bentuk coping mechanism atau cara seseorang mengatasi tekanan dan stres akibat situasi sulit. Ketika merasa cemas atau tertekan, membeli barang yang bisa memberikan rasa nyaman sesaat dianggap solusi cepat untuk menghilangkan ketegangan. Selain itu, tawaran diskon dan gratis ongkos kirim kerap membuat orang tergoda tanpa melakukan perbandingan harga dengan cermat.
Menurut penelitian, ada tiga faktor utama yang mendorong perilaku belanja impulsif saat krisis, yaitu ketakutan, kelangkaan, dan pengaruh dari lingkungan sekitar, yang juga dikenal dengan istilah FOMO (fear of missing out). Ketiga faktor ini sering kali bersifat subjektif atau persepsi pribadi, misalnya merasa takut melewatkan kesempatan promo atau khawatir barang incaran akan sulit didapatkan di kemudian hari.
Mentalitas YOLO (you only live once) juga banyak dianut oleh generasi muda, khususnya Gen Z, di tengah ketidakpastian ekonomi. Mereka lebih memilih menikmati hidup sekarang dan kurang memperhatikan tabungan atau masa depan finansial. Hal ini dipengaruhi oleh kondisi sulit seperti minimnya lapangan kerja, inflasi tinggi, dan kenaikan harga kebutuhan pokok yang tidak seimbang dengan kenaikan penghasilan.
Meskipun perilaku belanja impulsif ini bisa dimengerti sebagai reaksi alami terhadap stres, risiko jangka panjangnya tetap perlu diperhatikan. Tanpa dana darurat atau jaminan sosial yang memadai, kondisi ekonomi yang sulit bisa membawa dampak serius jika terjadi hal tak terduga. Oleh karena itu, membangun kebiasaan finansial yang baik dan meningkatkan literasi keuangan menjadi kunci untuk mengendalikan dorongan membeli secara impulsif demi kestabilan masa depan.
