sumber foto : instagram/aurelie
Kisah kelam yang diungkap Aurelie Moeremans dalam buku memoarnya berjudul Broken Strings terus menjadi perbincangan publik. Melalui buku tersebut, Aurelie secara terbuka menceritakan pengalaman pahit yang ia alami saat masih berusia 15 tahun, ketika dirinya menjadi korban child grooming hingga kekerasan seksual.
Pengakuan tersebut menuai dukungan luas dari masyarakat maupun rekan-rekan sesama artis. Salah satu figur publik yang secara terbuka menyuarakan solidaritas untuk Aurelie adalah Hesti Purwadinata. Namun, dukungan tersebut justru berujung pada situasi tak terduga.
Hesti Purwadinata bersama sang suami, Edo Borne, diketahui menerima pesan bernada ancaman dari sosok yang diduga sebagai pelaku child grooming yang diceritakan dalam buku Broken Strings. Dalam pesan tersebut, Hesti dan Edo disebut akan dibawa ke jalur hukum. Meski demikian, keduanya memilih untuk tidak menanggapi ancaman tersebut.
Seiring mencuatnya kisah ini, publik mulai berspekulasi mengenai identitas pelaku child grooming yang disebut dalam buku Aurelie Moeremans. Meski nama pelaku disamarkan, sejumlah ciri yang diungkap dalam buku membuat sebagian warganet menduga bahwa sosok tersebut merujuk pada aktor Roby Tremonti.
Spekulasi semakin menguat setelah Roby Tremonti menyampaikan kekecewaannya terhadap isi buku Broken Strings, yang menurutnya berpotensi mencemarkan nama baik. Menanggapi hal tersebut, Hesti Purwadinata diduga melontarkan sindiran melalui unggahannya di media sosial Threads.
“Ketika klarifikasi jadi konfirmasi #leboktahsia,” tulis Hesti dalam unggahannya, dikutip Selasa (13/1).
Unggahan tersebut kemudian memicu reaksi luas dari warganet. Banyak netizen ramai-ramai mengkritik Roby Tremonti terkait hubungannya di masa lalu dengan Aurelie Moeremans. Tak sedikit pula yang menyuarakan tuntutan cancel culture serta mengecam keras praktik child grooming, yang dinilai sebagai tindakan serius dan merugikan korban.
Hingga kini, buku memoar Broken Strings masih menjadi sorotan publik. Selain mengungkap kisah pribadi Aurelie Moeremans, buku tersebut dinilai turut membuka ruang diskusi yang lebih luas mengenai bahaya child grooming, serta meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bentuk kekerasan seksual yang kerap terjadi secara tersembunyi.
