Analis teknologi Rob Enderle memprediksi pembuat chip China akan menggenjot upaya mereka untuk mencuri pasar dari AS. (LG Innotek)
Alih-alih menekan, strategi dagang Amerika Serikat terhadap China justru dianggap membuka jalan emas bagi Negeri Tirai Bambu untuk mempercepat kemandirian teknologinya.
Kebijakan pembatasan ekspor chip ke China, yang diinisiasi pemerintahan mantan Presiden Donald Trump, telah menempatkan raksasa semikonduktor AS seperti Nvidia dan AMD dalam posisi sulit. Namun di sisi lain, langkah ini justru dinilai para analis sebagai pemicu kebangkitan industri chip dalam negeri China.
Menurut Jack Gold, analis dari J. Gold Associates, pembatasan ini ibarat “menghadiahkan kemenangan” kepada China. Ia menyebut bahwa upaya untuk menghambat pasokan chip dari AS hanya akan memicu akselerasi inovasi dalam negeri China.
“China akan berinovasi karena dipaksa. Ketika mereka sudah siap, chip buatan mereka akan dipasarkan ke dunia dan konsumen akan membelinya,” ujarnya, dikutip dari AFP.
🎯 Strategi Boomerang Bagi AS?
Kebijakan ekspor ketat yang diterapkan pada Nvidia dan AMD membuat kedua perusahaan harus memperoleh lisensi khusus sebelum dapat mengekspor chip mereka ke China.
-
Nvidia dikabarkan bisa mengalami kerugian hingga US$5,5 miliar (sekitar Rp92,7 triliun) untuk memenuhi persyaratan ekspor chip H20—chip berbasis AI yang memang dirancang khusus untuk pasar China.
-
AMD diprediksi merugi US$800 juta (sekitar Rp13,4 triliun) demi lisensi untuk ekspor GPU MI308, chip berperforma tinggi yang banyak digunakan di sektor gim dan AI.
Sayangnya, tidak ada jaminan bahwa lisensi itu akan diberikan. Hal ini membuat prospek bisnis keduanya di China menjadi penuh ketidakpastian.
💡 China Berpotensi Menyalip AS di Pasar Global Chip
Analis teknologi Rob Enderle menilai situasi ini sebagai “berkah terselubung” bagi China. Negara tersebut, katanya, akan mempercepat pengembangan industri mikroprosesornya sendiri dan bisa mengambil alih pangsa pasar global yang sebelumnya dikuasai AS.
“Ini adalah cara tercepat bagi AS untuk kehilangan kepemimpinan di dunia mikroprosesor dan GPU,” ujarnya.
Bukan hanya soal chip, Gold juga menyoroti bahwa kebijakan tarif dagang AS yang meluas ke berbagai negara justru bisa mempersulit perusahaan-perusahaan AS sendiri dalam bersaing di pasar global.
“Yang dilakukan Trump bukannya menekan China, tapi justru membatasi potensi teknologi AS sendiri,” ungkap Gold.
