Ilustrasi Banjir di Brebes Rendam 400 Hektar Lahan Bawang Merah (Tangkapan Layar)
Buletinmedia.com – Banjir besar yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, pada Senin, 20 Januari 2025, telah menyebabkan dampak yang sangat merugikan bagi warga setempat, terutama bagi para petani. Banjir yang menggenangi lima kecamatan di daerah tersebut mengakibatkan ribuan rumah terendam air, sementara ratusan hektar lahan pertanian, khususnya bawang merah, mengalami kerusakan parah. Kecamatan yang paling terdampak adalah Kecamatan Jatibarang, Brebes, Wanasari, Songgom, dan Larangan. Menurut laporan dari Ketua Umum Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI), Dian Alex Chandra, sekitar 400 hektar lahan bawang merah yang berada di kecamatan-kecamatan tersebut telah terendam air banjir, yang menambah panjang daftar kerugian akibat bencana alam yang sering terjadi di wilayah ini, khususnya pada musim hujan.
Alex menyatakan bahwa banjir yang melanda pada Senin tersebut mengakibatkan kerugian yang diperkirakan mencapai angka yang sangat signifikan, yaitu sekitar Rp 20 miliar, yang terdiri dari kerusakan lahan pertanian serta kerugian yang dialami oleh petani dalam bentuk kerugian tanaman yang gagal panen. Ia menegaskan pentingnya kewaspadaan lebih tinggi bagi para petani, mengingat daerah tersebut memang dikenal dengan potensi banjir yang tinggi setiap tahunnya. Oleh karena itu, Alex mengimbau kepada seluruh petani bawang merah di daerah ini untuk lebih berhati-hati dan merencanakan penanaman tanaman dengan lebih baik lagi. Menurutnya, salah satu langkah yang bisa diambil oleh para petani adalah dengan menanam padi terlebih dahulu saat musim hujan datang, untuk meminimalisir risiko kerusakan pada tanaman bawang merah yang lebih rentan terhadap kondisi banjir. Setelah panen padi, barulah menanam bawang merah agar risiko kerusakan yang lebih besar dapat dihindari.
Selain itu, Juwari, seorang petani bawang merah yang berasal dari Desa Sidamulya, Kecamatan Wanasari, mengungkapkan bahwa sekitar 26 hektar lahan bawang merah di desanya terendam oleh banjir. Juwari menambahkan bahwa sebagian besar dari tanaman bawang merah yang terkena dampak banjir tersebut masih berusia sangat muda, yaitu kurang dari satu bulan, sehingga kerusakan yang ditimbulkan sangat besar. Kondisi ini tentu saja memberikan tekanan yang sangat berat bagi para petani yang telah menginvestasikan waktu, tenaga, dan biaya untuk merawat tanaman bawang merah mereka, namun harus menghadapi kenyataan pahit bahwa hasil usaha mereka musnah begitu saja akibat bencana alam yang datang secara tiba-tiba. Para petani pun dihadapkan pada kenyataan yang sulit, yaitu kebutuhan untuk memulai kembali dari awal dan menghadapi tantangan besar dalam mengatasi dampak yang ditinggalkan oleh banjir tersebut.
Banjir yang melanda Kabupaten Brebes ini juga mempertegas betapa pentingnya upaya mitigasi bencana yang lebih baik, baik dari segi perencanaan tata ruang, pengelolaan sumber daya alam, maupun penguatan sistem peringatan dini agar kejadian serupa dapat diminimalisir atau bahkan dihindari. Namun, meski berbagai upaya telah dilakukan untuk menanggulangi bencana, petani di daerah tersebut masih harus menghadapi kenyataan bahwa bencana alam merupakan ancaman nyata yang dapat merusak perekonomian mereka dan menggoyahkan ketahanan pangan di wilayah tersebut. Oleh karena itu, penting bagi pemerintah dan masyarakat setempat untuk terus bekerja sama dalam mencari solusi terbaik agar daerah rawan bencana ini dapat tetap bertahan dan berkembang meskipun tantangan yang dihadapi sangat berat.
