Momen wasit asal Polandia Szymon Marciniak memberikan kartu merah kepada bek AC Milan Theo Hernandez (kanan) pada laga leg kedua babak playoff Liga Champions UEFA antara AC Milan dan Feyenoord di stadion San Siro di Milan, pada18 Februari 2025.(AFP/PIERO CRUCIATTI)
Musim kompetisi 2024-2025 berakhir dengan catatan yang pilu bagi AC Milan. Meski berhasil menutup laga terakhir dengan kemenangan 2-0 atas Monza pada Sabtu, 24 Mei 2025, di kandang kebanggaan mereka, San Siro, rasa kemenangan itu seolah hampa dan tak mampu menghapus kekecewaan mendalam. Pasalnya, kemenangan ini tak cukup membawa Milan lolos ke kompetisi Eropa musim depan, sebuah target yang sudah lama dinanti oleh para penggemar setianya.
Suporter Rossoneri Meluapkan Kekecewaan, Stadion San Siro Mendadak Sunyi
Demonstrasi kekecewaan suporter muncul nyata dan masif. Di Tribun Selatan yang terkenal dengan sebutan Curva Sud, para fans Rossoneri memilih meninggalkan stadion secara massal hanya dalam 15 menit awal pertandingan. Bentangan spanduk-spanduk kritikan kepada manajemen klub yang dianggap gagal mengelola Milan dengan baik menghiasi tribun. Sebuah gambaran betapa besar rasa frustrasi yang dirasakan pendukung tim berjuluk Il Diavolo Rosso ini.
Tak hanya di stadion, suasana panas juga terasa di luar lapangan. Ribuan pendukung Milan mendatangi markas klub, Casa Milan, sebagai bentuk protes keras terhadap kondisi klub saat ini. Situasi ini menjadi sebuah pemandangan yang sangat menyakitkan hati bagi Alessandro Nesta, pelatih Monza yang dulu merupakan salah satu ikon penting Milan dari tahun 2002 hingga 2012.
Alessandro Nesta: “Saya Belum Pernah Melihat Milan Seperti Ini”
Dalam wawancara eksklusif bersama DAZN, dikutip SempreMilan, Nesta menyampaikan kesedihan mendalamnya melihat kondisi terkini tim yang pernah ia bela dengan sepenuh hati selama satu dekade. “Melihat San Siro kosong dan suporter yang meninggalkan stadion seperti itu membuat saya sangat sedih,” ungkapnya dengan nada penuh keprihatinan.
Menurutnya, para fans Milan adalah pencinta sepak bola sejati yang hanya akan menunjukkan reaksi keras jika tim benar-benar mengecewakan mereka. “Ketika sorakan dan cemoohan datang, itu berarti Anda benar-benar gagal menunjukkan performa yang layak,” kata legenda bertahan ini.
Milan dan Real Madrid: Sejarah Besar yang Tak Layak Menjadi Seperti Ini
Nesta mengibaratkan Milan dengan raksasa Eropa lain, Real Madrid, yang memiliki sejarah legendaris dan prestasi gemilang. “Milan, seperti Real Madrid, memiliki sejarah yang terlalu besar untuk menyaksikan malam-malam yang penuh kekecewaan seperti ini,” ujarnya. Ia menyerukan agar seluruh pihak terkait—manajemen, pelatih, pemain, hingga pendukung—bersatu padu untuk membawa klub kembali ke jalur kemenangan.
Nostalgia Kejayaan di Era Berlusconi
Dalam nostalgia yang menyentuh, Nesta mengenang era emas AC Milan saat dipimpin oleh Silvio Berlusconi, sosok yang menurutnya merupakan presiden klub yang sangat istimewa dan visioner. “Memiliki Berlusconi sebagai presiden adalah sebuah jaminan bagi stabilitas dan kekuatan klub,” ujar Nesta.
Dia menambahkan, “Ketika Anda menang, Anda merasa kuat, dan Berlusconi selalu memastikan Anda memiliki sumber daya dan orang-orang terbaik untuk mempertahankan kejayaan itu. Visi dan kepemimpinannya sungguh luar biasa; ia memanjakan kami dengan segala yang dibutuhkan agar bisa sukses.”
Sulit Mencari Sosok Seperti Berlusconi di Era Modern
Menurut Nesta, kehadiran seorang pemimpin seperti Berlusconi sangat jarang ditemui dalam sepak bola masa kini, sehingga membuat kerinduan akan kejayaan Milan semakin besar. “Sosok seperti dia sulit dicari di sepak bola modern ini,” pungkasnya penuh harap.
