Bubur Suro. Foto: Istimewa/Sajian Sedap
Buletinmedia.com – Pada Malam 1 Suro, yang juga dikenal sebagai Tahun Baru Islam dalam kalender Jawa, masyarakat Jawa memiliki tradisi unik berupa makan bubur suro bersama keluarga. Bubur suro adalah hidangan khas yang terdiri dari bubur putih, kedelai hitam yang digoreng, telur ayam kampung yang digoreng dadar dan diiris, serta disajikan bersama serundeng kelapa dan rujak degan. Selain itu, setiap rumah biasanya memasang janur kuning di pintu sebagai simbol khusus saat perayaan ini.
Tradisi makan bubur suro tidak hanya soal kuliner, tetapi mengandung makna mendalam tentang kerukunan dan rasa syukur. Bubur ini disantap sebagai simbol kebersamaan keluarga yang harmonis, sekaligus wujud rasa terima kasih atas kesempatan berkumpul dan menikmati hidangan sederhana namun penuh arti.
Setiap bahan dalam bubur suro memiliki filosofi tersendiri. Bubur putih melambangkan kesucian jalan hidup yang dijalani, sementara kedelai hitam yang digoreng mencerminkan sikap hidup yang baik dan benar, sesuai ajaran para leluhur yang menjadi pegangan dalam berperilaku dan menjaga tata krama. Telur ayam kampung yang diiris menandakan kehidupan yang berkesinambungan dan persaudaraan antar sesama manusia.
Serundeng kelapa pada bubur suro mengingatkan kita pada filosofi pohon kelapa yang tumbuh subur dan bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan. Semua bagian pohon kelapa bermanfaat, melambangkan bahwa manusia juga harus berguna dan mampu beradaptasi dalam kehidupan sosial. Sedangkan rujak degan yang disantap bersama bubur mengajarkan pentingnya semangat dan kerja keras dalam menjalani hidup sebagai bentuk syukur kepada Tuhan.
Janur kuning yang dipasang di pintu rumah pada malam 1 Suro melambangkan kehidupan yang sejati dan kedekatan manusia dengan Tuhan. Tradisi ini menjadi pengingat bahwa hidup harus selalu dijalani dengan penuh kesadaran spiritual dan menjaga hubungan baik dengan sesama serta Sang Pencipta.
