Gunung Semeru di Jawa Timur dilaporkan mengalami erupsi sebanyak enam kali, Kamis (5/11). Muntahan abu vulkanik tebal dan awan panas guguran memicu kepanikan warga serta para pekerja tambang pasir di lereng gunung tersebut. (Sumber Foto: CNN Indonesia) - Buletin Media
Buletinmedia.com – Gunung Semeru yang berada di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, mengalami peningkatan aktivitas vulkanik dengan tercatat mengalami enam kali erupsi pada Kamis (5/11/2026). Aktivitas tersebut disertai keluarnya abu vulkanik tebal dan awan panas guguran (APG) yang meluncur hingga sejauh 4,5 kilometer ke arah tenggara. Kondisi ini memicu kepanikan masyarakat, khususnya para pekerja dan sopir truk yang sedang melakukan aktivitas penambangan pasir di sekitar kaki gunung. Sejumlah pekerja terlihat menghentikan kegiatan dan bergegas meninggalkan lokasi setelah melihat kepulan abu vulkanik membumbung tinggi. Peristiwa tersebut terjadi akibat meningkatnya aktivitas Gunung Semeru yang masih berstatus Level III atau Siaga. Menyikapi kondisi tersebut, petugas meminta masyarakat dan para penambang untuk menjauhi kawasan yang berpotensi terdampak awan panas guguran.
Erupsi Semeru Picu Kepanikan di Area Tambang Pasir
Aktivitas vulkanik Gunung Semeru pada Kamis pagi membuat suasana di sekitar kawasan penambangan pasir berubah menjadi mencekam. Berdasarkan rekaman video amatir yang beredar, sejumlah pekerja dan sopir truk terlihat berlarian meninggalkan area tambang setelah menyaksikan kolom abu vulkanik yang semakin membesar.
Dalam rekaman tersebut, terlihat beberapa kendaraan truk pengangkut pasir segera memutar arah untuk menjauhi lokasi. Setidaknya terdapat tujuh truk, satu alat berat, dan sejumlah sepeda motor yang terlihat berada di kawasan tersebut ketika erupsi terjadi.
Kepanikan juga terlihat dari suara warga yang merekam kejadian. Mereka saling mengingatkan agar para pekerja segera meninggalkan area penambangan dan mencari tempat yang lebih aman. Peringatan tersebut disampaikan karena awan panas yang keluar dari kawasan gunung terlihat cukup besar dan berpotensi membahayakan orang-orang yang berada di sekitarnya.
Tidak hanya para penambang, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai juga turut meningkatkan kewaspadaan. Warga saling mengingatkan agar orang-orang yang masih berada di bagian bawah aliran sungai segera naik menuju tempat yang lebih tinggi.
Situasi tersebut memperlihatkan bagaimana aktivitas erupsi gunung dapat memberikan ancaman langsung terhadap masyarakat yang sedang beraktivitas di kawasan rawan bencana. Terlebih, sebagian warga di sekitar Semeru memiliki pekerjaan yang berkaitan dengan kegiatan penambangan dan pengangkutan pasir.
Awan Panas Guguran Meluncur hingga 4,5 Kilometer
Berdasarkan informasi dari Pos Pengamatan Gunung Semeru, aktivitas erupsi pada Kamis pagi telah terjadi sejak dini hari. Beberapa letusan tercatat berlangsung pada pukul 03.33 WIB, 05.37 WIB, 06.33 WIB, dan 08.43 WIB. Aktivitas tersebut kemudian berlanjut dengan erupsi yang lebih besar pada pukul 09.24 WIB.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Sigit Rian Alfian, menjelaskan bahwa erupsi pada pukul 09.24 WIB menghasilkan kolom abu vulkanik setinggi kurang lebih 700 meter di atas puncak gunung. Dengan demikian, ketinggian kolom abu mencapai sekitar 4.376 meter di atas permukaan laut.
Abu vulkanik yang keluar terlihat berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal. Arah pergerakannya terpantau condong menuju wilayah selatan dan barat daya, sedangkan awan panas guguran bergerak ke arah tenggara.
Berdasarkan rekaman seismograf di pos pengamatan, erupsi tersebut memiliki amplitudo maksimum sebesar 31 milimeter dengan durasi letusan mencapai 7 menit 27 detik.
Sigit menjelaskan bahwa awan panas guguran meluncur sejauh kurang lebih 4.500 meter dari kawah puncak. Arah luncuran tersebut menuju sektor tenggara, tepatnya di kawasan aliran Sungai Besuk Kobokan.
Sementara itu, Ketua Tim Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Jawa Timur, Muhammad Amrul, menyampaikan bahwa hingga pukul 12.00 WIB telah teramati tiga kali awan panas guguran dengan jarak luncur berkisar antara 3.000 hingga 4.500 meter.
Kondisi tersebut membuat petugas terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan aktivitas gunung. Masyarakat juga diminta tidak menganggap kondisi aman hanya karena aktivitas letusan sempat mereda, sebab potensi awan panas susulan masih dapat terjadi.
Status Gunung Semeru Masih Level III atau Siaga
Meningkatnya aktivitas vulkanik tidak membuat status Gunung Semeru berubah dari sebelumnya. Berdasarkan keterangan petugas pengamatan, gunung tersebut masih berada pada Level III atau Siaga.
Status tersebut menjadi dasar bagi petugas untuk mengingatkan masyarakat agar tidak mendekati kawasan yang memiliki potensi bahaya. Salah satu wilayah yang mendapatkan perhatian khusus adalah sektor tenggara di sepanjang aliran Sungai Besuk Kobokan.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengeluarkan imbauan agar masyarakat maupun penambang pasir menghentikan seluruh aktivitas di sektor tersebut hingga jarak 13 kilometer dari pusat erupsi.
Selain itu, masyarakat juga diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius lima kilometer dari kawah karena kawasan tersebut berpotensi terkena lontaran batu pijar. Ancaman lain yang perlu diperhatikan adalah awan panas guguran, material vulkanik, serta lahar yang dapat bergerak mengikuti aliran sungai.
Sungai Besuk Kobokan menjadi salah satu jalur yang perlu diwaspadai karena berada pada sektor arah luncuran awan panas. Masyarakat yang tinggal atau beraktivitas di sekitar kawasan tersebut diminta mengikuti arahan petugas dan segera menjauh apabila terdapat tanda-tanda peningkatan aktivitas gunung.
BNPB Minta Penambang dan Warga Menjauhi Zona Bahaya
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) turut memberikan perhatian terhadap aktivitas Gunung Semeru. Melalui imbauan yang disampaikan pada Kamis (5/11/2026), BNPB meminta masyarakat, wisatawan, dan para pekerja tambang pasir untuk tidak memasuki kawasan yang telah ditetapkan sebagai zona berbahaya.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan, menyampaikan bahwa masyarakat perlu mematuhi rekomendasi keselamatan yang diberikan oleh petugas. Para penambang juga diminta menghentikan kegiatan sementara dan memindahkan alat berat dari dasar sungai apabila masih berada di kawasan yang berisiko.
Selain itu, masyarakat di sekitar Semeru diminta meningkatkan kesiapsiagaan terhadap kemungkinan terjadinya awan panas guguran maupun lahar. Ancaman tersebut tidak hanya berasal dari material yang keluar saat erupsi, tetapi juga dapat muncul ketika material vulkanik bercampur dengan air hujan dan mengalir melalui sungai.
BNPB juga mengingatkan masyarakat agar menggunakan masker dan kacamata pelindung ketika terjadi hujan abu. Langkah tersebut diperlukan untuk mengurangi paparan abu vulkanik yang dapat mengganggu kesehatan, terutama pada saluran pernapasan dan mata.
Bagi pendaki maupun wisatawan, aktivitas pendakian juga diminta untuk ditunda selama kondisi gunung belum dinyatakan aman. Masyarakat diharapkan tidak mendekati kawasan berbahaya hanya untuk melihat atau merekam aktivitas erupsi.
Kondisi Pascaterjadinya Erupsi Masih Dipantau
Setelah serangkaian erupsi terjadi, petugas BPBD dan instansi terkait terus melakukan pemantauan terhadap kondisi di sekitar Gunung Semeru. Berdasarkan keterangan yang disampaikan dalam pemberitaan CNN Indonesia, hingga informasi awal diterima belum terdapat laporan kerusakan akibat aktivitas vulkanik tersebut.
Kejadian ini menjadi pengingat bahwa aktivitas ekonomi masyarakat di kawasan rawan bencana perlu memperhatikan kondisi alam dan arahan keselamatan dari petugas. Kegiatan penambangan pasir memang menjadi salah satu sumber mata pencaharian warga, tetapi keselamatan tetap harus menjadi prioritas ketika gunung mengalami peningkatan aktivitas.
Hingga Kamis (5/11/2026), Gunung Semeru masih berada pada Level III atau Siaga dengan potensi terjadinya aktivitas vulkanik susulan. Masyarakat dan para penambang pasir diimbau untuk terus mengikuti informasi resmi dari PVMBG, BPBD, dan BNPB. Kewaspadaan serta kepatuhan terhadap batas zona bahaya menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko jatuhnya korban akibat aktivitas Gunung Semeru.
