Gunung Marapi (Tangkapan Layar)
Gunung Marapi yang terletak di Sumatera Barat, tepatnya di Kabupaten Agam dan Tanah Datar, sering disalahpahami sebagai Gunung Merapi yang berada di perbatasan Jawa Tengah dan Yogyakarta. Meskipun namanya mirip, keduanya adalah gunung berapi yang berbeda. Gunung Marapi, dengan ketinggian 2.891 meter (9.465,2 kaki), dikenal sebagai salah satu gunung berapi paling aktif di Sumatera, sementara Gunung Merapi berada di Pulau Jawa.
Di sekitar Gunung Marapi, terdapat beberapa kota besar seperti Bukittinggi, Padang Panjang, dan Batusangkar. Dalam sejarahnya, Gunung Marapi sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Minangkabau sejak mereka pertama kali mendiami Sumatera Barat. Letusan pertama yang tercatat terjadi pada masa penjajahan Hindia Belanda, dan sejak itu, gunung ini terus menunjukkan aktivitas vulkanik.
Sejak 1807, Gunung Marapi telah aktif mengeluarkan asap vulkanik, dengan letusan besar tercatat pada 8 September 1830, ketika gunung ini menyemburkan awan abu kehitaman setinggi 1.500 meter, disertai suara gemuruh yang menggetarkan. Pada 30 April 1979, erupsi Gunung Marapi menyebabkan 60 korban jiwa dan tanah longsor yang menimpa 19 pekerja penyelamat.
Aktivitas gunung ini terus meningkat sepanjang abad ke-20 dan 21. Di akhir 2011 hingga awal 2014, Gunung Marapi semakin sering meletus, dengan semburan abu yang menjangkau wilayah yang jauh, termasuk Kabupaten Padang Pariaman. Pada 26 Februari 2014, erupsi melontarkan pasir, tefra, dan abu vulkanik hingga ke daerah Tanah Datar dan Agam, meskipun tidak ada evakuasi besar-besaran karena letusan ini masih dianggap normal.
Gunung Marapi memang memiliki siklus erupsi yang cenderung terjadi setiap lima tahun sekali, tetapi dalam beberapa tahun, letusan dapat terjadi lebih dari sekali. Contohnya, pada 7 Januari 2023, Gunung Marapi meletus lagi, menyebabkan sejumlah pendaki yang berkemah di sekitar gunung terjebak. Erupsi terakhir terjadi pada 3 Desember 2023, di mana abu vulkanik dilontarkan hingga setinggi 3.000 meter dari puncak dan mencapai 5.891 meter di atas permukaan laut. Warga dan pendaki diimbau untuk tetap menjaga jarak minimal 3 km dari puncak gunung guna menghindari bahaya.
