Pelatih sepak bola timnas putri Indonesia Satoru Mochizuki di Dewa United Arena, Kabupaten Tangerang, Banten, 25 Juni 2025. Antara/Putra M. Akbar
Buletinmedia.com – PSSI resmi mengumumkan perpisahan dengan Satoru Mochizuki yang selama ini menjabat sebagai pelatih kepala Timnas Putri Indonesia. Kabar tersebut disampaikan melalui unggahan di akun Instagram Timnas Indonesia pada Kamis (5/11/2026).
Keputusan ini sekaligus mengakhiri perjalanan pelatih asal Jepang tersebut bersama Garuda Pertiwi setelah melewati berbagai fase, mulai dari membangun tim, mengantarkan Indonesia meraih gelar juara, hingga kembali dipercaya memimpin skuad pada 2026.
Dalam unggahan perpisahan itu, PSSI menyampaikan apresiasi atas dedikasi dan kontribusi Mochizuki selama menangani sepak bola putri Indonesia.
“Arigatou gozaimashita, Coach Mochi. Terima kasih atas dedikasi, kerja keras, dan sejarah indah yang ditinggalkan untuk Garuda Pertiwi,” tulis pernyataan singkat dalam unggahan tersebut.
Ucapan tersebut menjadi bentuk penghargaan federasi terhadap sosok yang berhasil membawa Timnas Putri Indonesia meraih dua gelar juara AFF Women’s Cup, masing-masing pada 2024 dan 2026.
Meski masa baktinya berakhir, nama Satoru Mochizuki tetap memiliki tempat tersendiri dalam perjalanan Timnas Putri Indonesia. Dua gelar yang diraih selama kepemimpinannya menjadi pencapaian penting bagi Garuda Pertiwi di level regional.
Satoru Mochizuki Didatangkan PSSI pada Februari 2024
Perjalanan Satoru Mochizuki bersama Timnas Putri Indonesia dimulai pada Februari 2024. Saat itu, PSSI mendatangkan pelatih asal Jepang tersebut dengan tugas khusus menangani tim nasional sepak bola putri.
Kehadirannya menjadi bagian dari langkah federasi dalam mengembangkan sepak bola putri Indonesia. Mochizuki kemudian dipercaya memimpin Garuda Pertiwi dan mulai menjalankan tugasnya untuk mempersiapkan tim menghadapi berbagai agenda kompetisi.
Pelatih yang akrab disapa Coach Mochi itu bukan sosok yang hanya datang untuk mengisi posisi pelatih. Ia mendapat tanggung jawab untuk membawa Timnas Putri Indonesia berkembang dan mampu bersaing di tingkat regional.
Tantangan tersebut tentu bukan perkara mudah. Tim nasional membutuhkan persiapan, kekompakan, serta proses pembentukan tim yang berkelanjutan. Pelatih juga harus mampu menyatukan pemain dengan latar belakang dan pengalaman berbeda agar dapat menjalankan strategi secara maksimal.
Namun, pada tahun pertama masa kepemimpinannya, Mochizuki langsung memberikan hasil yang membanggakan. Ia berhasil mengantarkan Timnas Putri Indonesia meraih gelar juara AFF Women’s Cup 2024.
Keberhasilan tersebut menjadi pencapaian penting dalam perjalanan kepelatihannya bersama Garuda Pertiwi. Gelar itu sekaligus menjadi bukti bahwa kerja sama antara pelatih, pemain, dan tim pendukung mampu menghasilkan prestasi di tingkat regional.
Bagi Timnas Putri Indonesia, keberhasilan menjadi juara AFF Women’s Cup 2024 bukan sekadar tambahan trofi. Pencapaian tersebut memberikan pengalaman berharga bagi para pemain sekaligus menjadi modal untuk menghadapi kompetisi berikutnya.
Nama Satoru Mochizuki pun semakin dikenal oleh pencinta sepak bola nasional. Pelatih asal Jepang itu mulai mendapat perhatian karena berhasil membawa Garuda Pertiwi meraih prestasi pada tahun pertamanya menangani tim.
Sempat Dicopot dari Jabatan Pelatih Kepala pada 2025
Meski mengawali kiprahnya dengan hasil positif, perjalanan Satoru Mochizuki bersama Timnas Putri Indonesia tidak selalu berjalan tanpa perubahan.
Pada 2025, PSSI sempat mencopot Mochizuki dari jabatan pelatih kepala Timnas Putri Indonesia. Setelah tidak lagi memimpin skuad secara langsung, ia kemudian mendapat tugas baru sebagai Ketua Tim Pengembangan Sepak Bola Putri.
Perubahan posisi tersebut membuat perannya di lingkungan sepak bola putri nasional mengalami pergeseran. Jika sebelumnya bertanggung jawab langsung terhadap tim nasional, Mochizuki kemudian diarahkan untuk menjalankan tugas dalam pengembangan sepak bola putri.
Penugasan itu menjadi bagian lain dari perjalanan Mochizuki bersama PSSI. Meski tidak lagi berstatus sebagai pelatih kepala, pengalamannya tetap ditempatkan dalam lingkungan pengembangan sepak bola putri Indonesia.
Perubahan tersebut juga menunjukkan bahwa perjalanan seorang pelatih di tim nasional tidak selalu berlangsung dalam satu posisi. Ada kalanya federasi melakukan penyesuaian berdasarkan kebutuhan organisasi maupun arah pengembangan tim.
Namun, posisi Mochizuki ternyata kembali berubah pada tahun berikutnya. Setelah sempat menjalankan tugas sebagai Ketua Tim Pengembangan Sepak Bola Putri, PSSI kembali memberikan kepercayaan kepadanya untuk memimpin Timnas Putri Indonesia pada 2026.
Kembali Ditunjuk pada 2026, Coach Mochi Antar Garuda Pertiwi Juara Lagi
Keputusan PSSI menunjuk kembali Satoru Mochizuki sebagai pelatih kepala Timnas Putri Indonesia pada 2026 menjadi babak baru dalam perjalanan keduanya.
Mochizuki kembali mendapatkan tanggung jawab untuk memimpin Garuda Pertiwi. Kepercayaan tersebut tidak disia-siakan. Di bawah kepemimpinannya, Timnas Putri Indonesia kembali berhasil meraih gelar juara AFF Women’s Cup 2026.
Dengan hasil tersebut, Mochizuki tercatat mengantarkan Indonesia meraih dua gelar juara pada ajang AFF Women’s Cup, yakni edisi 2024 dan 2026.
Dua pencapaian itu menjadi bagian paling menonjol selama dirinya menangani tim nasional. Gelar pertama diraih pada tahun awal kedatangannya, sedangkan gelar kedua hadir setelah ia kembali dipercaya menjadi pelatih kepala pada 2026.
Keberhasilan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa hubungan Mochizuki dengan Timnas Putri Indonesia memiliki perjalanan yang cukup panjang. Ia pernah memimpin tim, berpindah tugas ke bagian pengembangan sepak bola putri, lalu kembali berada di kursi pelatih kepala.
Bagi para pemain dan tim, dua gelar tersebut tentu menjadi catatan penting. Prestasi di level regional dapat menjadi pengalaman untuk meningkatkan kepercayaan diri serta memperkuat ambisi Timnas Putri Indonesia menghadapi tantangan berikutnya.
Namun, keberhasilan meraih gelar juara tidak selalu berarti sebuah kerja sama akan berlangsung tanpa batas waktu. PSSI pada akhirnya memutuskan untuk mengakhiri kebersamaan dengan pelatih berusia 62 tahun tersebut.
Keputusan perpisahan itu menjadi perhatian karena Mochizuki meninggalkan tim setelah memberikan dua gelar juara. Meski demikian, melalui unggahan resminya, PSSI memilih menyampaikan penghargaan atas kontribusi yang telah diberikan sang pelatih.
PSSI Buat Video Khusus untuk Perpisahan Satoru Mochizuki
Tidak hanya menyampaikan ucapan terima kasih melalui tulisan, PSSI juga memberikan penghargaan terakhir kepada Satoru Mochizuki melalui sebuah video perpisahan.
Video tersebut berisi narasi yang menggambarkan perjalanan dan kontribusi Coach Mochi selama bersama Timnas Putri Indonesia. Pesan yang disampaikan tidak hanya menyoroti keberhasilan meraih gelar juara, tetapi juga menempatkan Mochizuki sebagai bagian penting dari sejarah Garuda Pertiwi.
Narasi dalam video itu dibuka dengan kalimat yang menggambarkan bahwa kehadiran seseorang terkadang membawa perubahan besar bagi sebuah tim.
“Tidak semua orang datang hanya untuk menjadi bagian dari sebuah tim. Ada yang datang untuk mengubah sejarah,” demikian narasi pembuka video perpisahan untuk Coach Mochi.
Kalimat tersebut menggambarkan bagaimana kehadiran Mochizuki dinilai memberikan warna tersendiri bagi perjalanan Timnas Putri Indonesia.
Selama menangani Garuda Pertiwi, ia berhasil membawa tim meraih dua pencapaian penting di ajang AFF Women’s Cup. Momen tersebut kemudian menjadi inti dari pesan penghormatan yang disampaikan PSSI.
“Bersama Timnas Putri Indonesia, Coach Mochi membawa kita kepada dua momen tak terlupakan. 2024 kita menjadi juara. 2026 kita kembali mengukir sejarah.”
Narasi itu secara khusus mengingatkan kembali keberhasilan Indonesia pada dua edisi AFF Women’s Cup. Tahun 2024 menjadi awal pencapaian bersama Mochizuki, sementara 2026 menjadi penanda keberhasilannya kembali membawa Garuda Pertiwi menjadi kampiun.
Video tersebut juga menyinggung perjuangan yang dilalui selama perjalanan bersama tim. Tidak hanya gelar juara, ada banyak cerita dan pengalaman yang menjadi bagian dari proses tersebut.
“Dua gelar juara, ribuan cerita perjuangan, dan sebuah warisan yang tak akan pernah terlupakan.”
PSSI kemudian menyampaikan bahwa meskipun perjalanan bersama Mochizuki harus berakhir, hasil kerja dan pengalaman yang telah dibangun tidak akan begitu saja hilang.
” Kini, mungkin perjalanan kita harus berlanjut dengan cerita yang berbeda. Namun, apa yang telah kau bangun akan selalu hidup di setiap langkah mereka.”
Pesan itu menjadi gambaran bahwa perpisahan dengan seorang pelatih bukan berarti seluruh hasil kerja selama ini ikut berakhir. Pengalaman, pembelajaran, dan prestasi yang sudah diraih tetap menjadi bagian dari perjalanan Timnas Putri Indonesia.
Video tersebut ditutup dengan ucapan terima kasih kepada Mochizuki. PSSI menyebut pelatih asal Jepang itu bukan hanya sosok yang berhasil mencetak sejarah, tetapi juga menjadi bagian dari sejarah sepak bola putri Indonesia.
“Terima kasih Coach Mochi. Anda tak hanya mencetak sejarah, Anda juga menjadi bagian dari sejarah itu,” tutup narasi dalam video perpisahan tersebut.
Dua Gelar AFF Women’s Cup Jadi Warisan Coach Mochi
Perpisahan PSSI dengan Satoru Mochizuki membuat perjalanan pelatih asal Jepang itu bersama Timnas Putri Indonesia resmi memasuki babak akhir.
Selama masa tugasnya, dua gelar AFF Women’s Cup pada 2024 dan 2026 menjadi pencapaian yang paling menonjol. Prestasi tersebut sekaligus menjadi alasan mengapa kepergiannya mendapat perhatian dari pencinta sepak bola nasional.
Mochizuki datang pada Februari 2024 dengan tugas menangani tim nasional. Tidak membutuhkan waktu terlalu lama, ia berhasil membawa Garuda Pertiwi meraih gelar juara pada tahun yang sama.
Setelah mengalami perubahan jabatan pada 2025, ia kembali dipercaya menjadi pelatih kepala pada 2026. Kesempatan tersebut kembali menghasilkan gelar juara bagi Indonesia.
Rangkaian perjalanan itu membuat masa kepelatihan Mochizuki memiliki sejumlah fase berbeda. Ia memulai tugas sebagai pelatih kepala, sempat beralih menjadi Ketua Tim Pengembangan Sepak Bola Putri, kemudian kembali memimpin tim nasional sebelum akhirnya berpisah dengan PSSI.
Kini, Timnas Putri Indonesia harus melanjutkan perjalanan dengan cerita baru. PSSI juga akan menghadapi pekerjaan berikutnya untuk menentukan arah kepemimpinan tim setelah berakhirnya kerja sama dengan Mochizuki.
Sosok pelatih berikutnya tentu akan memiliki tantangan tersendiri. Selain menjaga hasil yang sudah dicapai, pelatih baru diharapkan mampu melanjutkan proses pengembangan tim dan mempersiapkan Garuda Pertiwi menghadapi agenda kompetisi mendatang.
Sementara itu, kontribusi Mochizuki akan tetap tercatat melalui dua gelar yang berhasil dipersembahkannya. Bagi Timnas Putri Indonesia, keberhasilan tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan sepak bola putri nasional.
Perpisahan ini sekaligus menutup kebersamaan yang telah melewati berbagai dinamika. Dari kedatangan pada 2024, perubahan jabatan pada 2025, hingga keberhasilan meraih gelar kembali pada 2026, Coach Mochi meninggalkan catatan prestasi yang tidak mudah dilupakan.
PSSI pun telah menyampaikan pesan perpisahan dan apresiasi melalui unggahan media sosial serta video khusus. Kini, perjalanan Garuda Pertiwi akan berlanjut dengan cerita berbeda, sementara dua gelar juara bersama Satoru Mochizuki akan tetap menjadi bagian dari sejarah Timnas Putri Indonesia.
Sumber : www.kompas.com
