Ilustrasi menonton bola di TV (Tangkapan Layar)
Buletinmedia.com – Dunia saat ini sedang dilanda demam sepak bola yang luar biasa. Di berbagai penjuru lini masa dan sudut kota, atmosfer turnamen akbar Piala Dunia 2026 begitu terasa. Layar televisi di ruang tamu rumah, kafe tempat nongkrong, hingga area nonton bareng hampir setiap malam ramai menyiarkan pertandingan demi pertandingan yang mempertemukan negara-negara terbaik di dunia. Riuh rendah sorakan penonton seolah menjadi latar suara harian kita belakangan ini.
Menonton tim kesayangan berlaga memang menyajikan hiburan yang tiada taranya. Ketegangan saat menyusun serangan, drama keputusan wasit, hingga euforia saat gol tercipta merupakan paket lengkap yang menguras emosi. Namun, di balik keseruan dan kepuasan emosional tersebut, tahukah Anda bahwa ada sisi gelap yang mengintai kesehatan fisik kita?
Sejumlah studi ilmiah dari berbagai lembaga kesehatan dunia justru menemukan adanya dampak negatif yang cukup signifikan dari kebiasaan menonton pertandingan olahraga di televisi. Alih-alih membuat rileks, aktivitas yang terlihat pasif ini ternyata bisa memberikan beban kerja yang sangat berat bagi kesehatan kardiovaskular atau sistem jantung dan pembuluh darah manusia.
Fenomena Unik di Ruang Gawat Darurat Saat Pertandingan Besar
Ada sebuah pola menarik yang kerap diamati oleh para tenaga medis di berbagai belahan dunia saat turnamen olahraga besar berlangsung. Mengutip laporan berkala dari Harvard Health Publishing, banyak dokter dan perawat di rumah sakit menggambarkan betapa sepinya ruang gawat darurat (UGD) selama pertandingan-pertandingan krusial berlangsung, seperti saat laga penentuan di Piala Dunia. Masyarakat seolah menahan segala keperluan mereka demi tidak melewatkan satu menit pun jalannya laga.
Namun, pemandangan tersebut akan berubah drastis 180 derajat begitu peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan ditiup oleh wasit. Ruang gawat darurat cenderung langsung berubah menjadi jauh lebih ramai dan sibuk dari jam-jam sebelumnya.
Gelombang pasien yang datang pasca-pertandingan umumnya mengeluhkan gejala yang serupa: nyeri dada yang menjalar, kesulitan bernapas atau sesak napas, jantung berdebar kencang (palpitasi), hingga pusing berlebih. Secara medis, kemungkinannya sangat jelas. Setiap pertandingan yang memicu tensi tinggi di layar kaca ternyata mampu menyalurkan tekanan emosional yang cukup besar pada tubuh penonton. Tekanan instan inilah yang bertindak sebagai pemantik utama terjadinya serangan jantung, stroke, atau kondisi kardiovaskular berbahaya lainnya yang mengancam nyawa.
Lonjakan Denyut Nadi Setara Olahraga Intensitas Tinggi
Salah satu penelitian yang mendasari kekhawatiran ini diterbitkan dalam Canadian Journal of Cardiology. Dalam studi tersebut, para ahli menemukan fakta mengejutkan bahwa menonton pertandingan olahraga yang menegangkan dapat memberikan tekanan fisik pada jantung yang hampir sama besarnya dengan tekanan yang dirasakan oleh para atlet yang sedang bermain di dalam lapangan itu sendiri.
Berdasarkan laporan yang dilansir dari Time, para peneliti menemukan bahwa denyut nadi orang yang gemar menonton pertandingan lewat siaran televisi rata-rata meningkat hingga 75 persen dari kondisi normal mereka. Angka lonjakan ini bahkan semakin melesat tajam menjadi 110 persen ketika seseorang menonton pertandingan tersebut secara langsung di dalam stadion atau arena. Dalam dunia medis, tingkat kenaikan detak jantung seperti ini sudah setara dengan beban kerja jantung akibat aktivitas olahraga dengan intensitas tinggi, seperti berlari cepat atau angkat beban.
Untuk membuktikan hipotesis ini, para peneliti di Montreal, Kanada, melakukan eksperimen khusus yang melibatkan 20 orang dewasa. Seluruh peserta dipastikan tidak memiliki riwayat penyakit jantung sebelumnya dan telah menyerahkan informasi kesehatan pribadi mereka secara detail.
Para peneliti kemudian membagi peserta menjadi dua kelompok dan memantau denyut nadi mereka saat menyaksikan pertandingan hoki yang terkenal dengan tempo permainan cepatnya:
- Kelompok Pertama: Diminta menonton jalannya pertandingan dari rumah atau ruangan melalui layar televisi.
- Kelompok Kedua: Membeli tiket dan menyaksikan langsung jalannya laga dari tribun arena pertandingan.
Hasil pemantauan menunjukkan perbedaan yang signifikan terkait durasi ketegangan jantung:
- Penonton di depan layar televisi mengalami lonjakan detak jantung rata-rata sebesar 75 persen, dan kondisi menegangkan tersebut bertahan di tubuh mereka selama sekitar 39 menit.
- Penonton yang berada langsung di dalam arena mengalami kenaikan denyut nadi mencapai 110 persen, dengan durasi stres jantung yang jauh lebih lama, yaitu sekitar 72 menit.
Secara akumulatif, detak jantung penonton mengalami peningkatan rata-rata sebesar 92 persen sepanjang jalannya pertandingan. Para peneliti juga mencatat bahwa titik puncak detak jantung (peak heart rate) selalu terjadi setiap kali muncul peluang emas untuk mencetak gol atau saat terjadi momen krusial di depan gawang.
“Bukan hasil akhir pertandingan yang menentukan intensitas respons stres emosional seseorang, melainkan euforia dan ketegangan yang dialami saat menyaksikan bagian-bagian pertandingan yang berintensitas tinggi,” tulis tim peneliti dalam kesimpulan laporan mereka.
Ancaman terhadap Kesehatan Kardiometabolik
Dampak buruk menonton olahraga tidak berhenti pada sistem sirkulasi darah saja. Sebuah studi yang lebih baru dan dipublikasikan dalam jurnal Preventive Medicine mengungkapkan bahwa hobi menonton pertandingan olahraga secara berlebihan juga berdampak buruk pada kesehatan kardiometabolik secara keseluruhan.
“Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa menonton olahraga dapat berdampak buruk pada faktor kesehatan kardiometabolik, seperti peningkatan Indeks Massa Tubuh (BMI), risiko hipertensi (tekanan darah tinggi), hingga potensi diabetes,” papar tim peneliti dalam jurnal tersebut.
Secara spesifik, korelasi negatif ini ditemukan sangat kuat pada kelompok masyarakat yang menghabiskan waktu berjam-jam menonton pertandingan olahraga melalui siaran televisi. Ada beberapa faktor yang diduga kuat menjadi dalang di balik penurunan kualitas kesehatan ini:
- Ledakan Emosi Negatif yang Tersembunyi
Saat tim yang didukung mengalami kekalahan, bermain buruk, atau dirugikan oleh keputusan pengadil lapangan, penonton sering kali tidak mampu membendung emosi negatif mereka. Rasa marah, ketegangan, frustrasi, dan kecemasan yang melanda secara mendadak akan merangsang tubuh melepaskan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin. Jika hormon ini melonjak terlalu sering, dampaknya akan langsung merusak dinding pembuluh darah dan memicu hipertensi kronis.
- Perilaku Sedenter (Sedentary Behavior)
Menonton pertandingan sepak bola yang berdurasi minimal 90 menit memaksa seseorang untuk duduk diam atau rebahan dalam waktu yang lama. Kurangnya pergerakan fisik ini membuat proses pembakaran kalori melambat dan mengganggu metabolisme gula dalam darah.
- Kebiasaan Ngemil Makanan Tidak Sehat
Menonton bola rasanya kurang lengkap tanpa adanya camilan. Sayangnya, teman menonton yang paling sering dipilih adalah makanan ringan yang tinggi natrium (garam), makanan manis, gorengan, atau minuman bersoda. Kombinasi antara tubuh yang tidak bergerak dan pasokan kalori serta garam yang tinggi ini merupakan resep sempurna memicu obesitas dan resistensi insulin.
Tips Menikmati Piala Dunia 2026 dengan Aman dan Sehat
Merayakan pesta akbar Piala Dunia 2026 saban hari tentu boleh-boleh saja, apalagi momen ini hanya datang setiap empat tahun sekali. Namun, agar euforia sepak bola ini tidak berubah menjadi bencana bagi kesehatan Anda, sangat penting untuk mengimbangi kegiatan menonton tersebut dengan kebiasaan sehat lainnya. Berikut beberapa tips praktis yang bisa Anda terapkan:
- Selingi dengan Berdiri atau Peregangan: Jangan duduk terpaku selama 45 menit penuh. Manfaatkan jeda waktu istirahat babak pertama (half-time) untuk berdiri, berjalan-jalan kecil di sekitar rumah, atau melakukan peregangan otot ringan guna melancarkan kembali aliran darah yang sempat tersumbat di area kaki.
- Bijak Memilih Camilan Nonton: Ganti keripik asin atau kacang goreng dengan pilihan yang lebih ramah bagi jantung, seperti potongan buah segar, edamame rebus, atau kacang almond panggang tanpa garam. Selalu sediakan air putih sebagai pengganti minuman manis atau bersoda.
- Kelola Ekspektasi Emosional: Ingatlah kembali bahwa sepak bola adalah sarana hiburan. Hindari membawa fanatisme saking berlebihannya hingga merusak suasana hati Anda seharian penuh jika tim kesayangan kalah. Menjaga pikiran tetap rileks adalah kunci utama menjaga detak jantung tetap stabil.
- Tetap Jaga Waktu Tidur: Karena perbedaan zona waktu, pertandingan Piala Dunia sering kali disiarkan pada dini hari. Jika Anda terpaksa begadang untuk menonton tim favorit, pastikan Anda membayar utang tidur tersebut di siang hari atau tidur lebih awal sebelum pertandingan dimulai agar jantung tidak bekerja ekstra keras akibat kurang istirahat.
Menikmati keindahan permainan sepak bola di lapangan hijau memang menyenangkan, tetapi menjaga kesehatan organ jantung di dalam dada jauh lebih utama. Selamat menikmati sisa kompetisi Piala Dunia 2026 dengan bijak dan sehat
Sumber : www.cnnindonesia.com
