Ilustrasi sulit tidur (Tangkapan Layar)
Buletinmedia.com – Banyak orang mengaku mengalami kesulitan tidur ketika pasangan sedang bepergian, menjalani perjalanan dinas, atau tinggal terpisah karena hubungan jarak jauh (LDR). Padahal, saat tidur bersama, mereka bisa terlelap dengan cepat tanpa mengalami gangguan berarti. Kondisi ini ternyata bukan sekadar perasaan, tetapi memiliki penjelasan ilmiah yang berkaitan dengan cara kerja otak, kebiasaan, hingga ikatan emosional.
Para ahli tidur menjelaskan bahwa kesulitan tidur saat jauh dari pasangan merupakan fenomena yang cukup umum. Hal tersebut tidak selalu menunjukkan seseorang terlalu bergantung secara emosional kepada pasangannya. Sebaliknya, kondisi tersebut lebih berkaitan dengan rutinitas yang sudah terbentuk dalam waktu lama.
Lalu, mengapa seseorang bisa sulit tidur ketika pasangan tidak berada di sampingnya? Berikut penjelasan lengkap berdasarkan pendapat para pakar.
Mengapa Sulit Tidur Saat Jauh dari Pasangan?
Tidur merupakan aktivitas yang dipengaruhi banyak faktor, mulai dari kondisi fisik, lingkungan, hingga kebiasaan sehari-hari. Jika seseorang telah bertahun-tahun tidur bersama pasangan, otak akan menganggap kehadiran pasangan sebagai bagian dari rutinitas tidur.
Psikolog klinis sekaligus pakar tidur, Dr. Wendy Troxel, menjelaskan bahwa kehadiran pasangan dapat menjadi sinyal rasa aman bagi tubuh. Seiring waktu, otak belajar menghubungkan keberadaan pasangan dengan waktu untuk beristirahat.
Menurut Troxel, ketika pasangan menjadi bagian dari rutinitas sebelum tidur, tubuh akan lebih mudah memasuki kondisi rileks. Sebaliknya, saat pasangan tidak ada, sinyal tersebut ikut menghilang sehingga proses untuk tertidur menjadi lebih sulit.
Fenomena ini sebenarnya sama seperti kebiasaan seseorang yang hanya bisa tidur setelah membaca buku, mematikan lampu tertentu, atau mendengarkan musik favorit.
Otak Belajar Mengenali Rutinitas Tidur
Ahli neurologi sekaligus Direktur Northwestern Medicine Center for Sleep, Dr. Hrayr Attarian, menjelaskan bahwa manusia memiliki kemampuan membentuk kebiasaan melalui proses belajar.
Jika setiap malam seseorang tidur bersama pasangan, maka otak akan menganggap kehadiran pasangan sebagai bagian dari ritual sebelum tidur.
Rutinitas tersebut kemudian menjadi pemicu alami yang memberi tahu tubuh bahwa waktunya beristirahat.
Semakin lama kebiasaan itu berlangsung, semakin kuat pula hubungan antara kehadiran pasangan dengan proses tidur.
Ketika pasangan sedang tidak berada di rumah, tubuh memerlukan waktu untuk menyesuaikan diri karena salah satu bagian penting dari rutinitas tersebut menghilang.
Rutinitas Sebelum Tidur Memiliki Peran Penting
Banyak pasangan memiliki kebiasaan sederhana sebelum tidur tanpa menyadarinya.
Misalnya:
- Mengobrol beberapa menit sebelum tidur.
- Menonton televisi bersama.
- Membaca buku.
- Berdoa bersama.
- Mematikan lampu secara bersamaan.
- Saling mengucapkan selamat malam.
- Berpelukan sebelum tidur.
Rutinitas-rutinitas kecil tersebut ternyata menjadi isyarat yang sangat kuat bagi otak.
Dr. Joseph Dzierzewski dari National Sleep Foundation menjelaskan bahwa aktivitas sederhana tersebut membantu tubuh mengenali bahwa waktu istirahat telah tiba.
Ketika salah satu bagian rutinitas hilang, tubuh membutuhkan proses adaptasi agar dapat tertidur seperti biasanya.
Kehadiran Pasangan Memberikan Rasa Aman
Selain karena kebiasaan, faktor psikologis juga memegang peranan penting.
Kehadiran pasangan dapat memberikan rasa aman yang membuat tubuh lebih rileks.
Saat seseorang merasa aman, sistem saraf menjadi lebih tenang sehingga produksi hormon stres menurun.
Sebaliknya, ketika pasangan sedang bepergian, sebagian orang mengalami sedikit peningkatan kewaspadaan.
Meskipun tidak selalu disadari, otak menjadi lebih aktif memantau lingkungan sekitar sehingga membuat proses tertidur membutuhkan waktu lebih lama.
Peran Hormon Oksitosin dalam Tidur
Kedekatan fisik dengan pasangan juga memengaruhi hormon di dalam tubuh.
Saat berpelukan atau tidur berdampingan, tubuh menghasilkan hormon oksitosin yang dikenal sebagai hormon kasih sayang atau “hormon cinta”.
Hormon ini memiliki beberapa manfaat, antara lain:
- Mengurangi stres.
- Menurunkan kecemasan.
- Membantu tubuh menjadi lebih rileks.
- Memberikan rasa nyaman.
- Mendukung kualitas tidur yang lebih baik.
Karena itu, tidak sedikit orang yang merasa kehilangan kenyamanan ketika pasangan sedang tidak berada di sampingnya.
Penelitian Menunjukkan Tidur Bersama Bisa Meningkatkan Kualitas Tidur
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa tidur bersama pasangan memiliki kaitan dengan kualitas tidur yang lebih baik.
Salah satu studi yang dipublikasikan pada tahun 2022 menemukan bahwa orang yang berbagi tempat tidur dengan pasangan cenderung memiliki:
- Kualitas tidur yang lebih baik.
- Tingkat stres lebih rendah.
- Risiko kecemasan yang lebih kecil.
- Gejala depresi yang lebih rendah.
- Kondisi psikologis yang lebih stabil.
Namun demikian, hasil tersebut bukan berarti semua pasangan akan memperoleh manfaat yang sama.
Tidak Semua Orang Tidur Lebih Nyenyak Bersama Pasangan
Meski banyak penelitian menunjukkan manfaat berbagi tempat tidur, ada pula pasangan yang justru mengalami gangguan tidur.
Beberapa penyebabnya antara lain:
- Pasangan Mendengkur
Dengkuran yang keras dapat membuat seseorang sering terbangun sepanjang malam.
- Banyak Bergerak Saat Tidur
Sebagian orang memiliki kebiasaan berpindah posisi secara berlebihan sehingga mengganggu pasangan.
- Jadwal Tidur Berbeda
Ada pasangan yang terbiasa tidur lebih larut sementara pasangannya tidur lebih awal.
Perbedaan ini dapat mengganggu kualitas istirahat masing-masing.
- Suhu Ruangan Tidak Sama
Sebagian orang lebih nyaman tidur dalam suhu dingin, sedangkan pasangannya menyukai suhu ruangan yang lebih hangat.
Perbedaan preferensi tersebut bisa memengaruhi kenyamanan tidur.
Karena itu, para ahli menilai tidak ada aturan yang berlaku untuk semua pasangan. Yang terpenting adalah menemukan pola tidur yang membuat keduanya mendapatkan waktu istirahat yang cukup.
Apakah Sulit Tidur Saat Jauh dari Pasangan Berbahaya?
Pada umumnya, kondisi ini bukan masalah serius.
Kesulitan tidur biasanya hanya berlangsung sementara hingga tubuh mulai beradaptasi.
Namun, apabila gangguan tidur berlangsung selama berminggu-minggu, disertai kecemasan berlebihan atau mengganggu aktivitas sehari-hari, sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan atau dokter.
Cara Mengatasi Sulit Tidur Saat Pasangan Sedang Bepergian
Ada beberapa langkah sederhana yang dapat membantu tubuh lebih mudah beradaptasi ketika harus tidur sendiri.
- Pertahankan Rutinitas Sebelum Tidur
Tetap lakukan kebiasaan yang biasa dilakukan setiap malam.
Misalnya:
- Membaca buku.
- Mendengarkan musik yang menenangkan.
- Minum teh herbal tanpa kafein.
- Meditasi ringan.
- Peregangan sederhana.
Rutinitas yang konsisten membantu otak mengenali waktu tidur.
- Hindari Bermain Ponsel Terlalu Lama
Paparan cahaya biru dari layar ponsel dapat menghambat produksi hormon melatonin yang membantu proses tidur.
Usahakan menghentikan penggunaan gawai sekitar 30 hingga 60 menit sebelum tidur.
- Gunakan Aroma yang Menenangkan
Beberapa orang merasa lebih nyaman menggunakan aroma lavender atau wewangian yang familiar.
Bagi pasangan yang terbiasa tinggal bersama, aroma pakaian pasangan juga dapat memberikan rasa nyaman.
- Gunakan Bantal Peluk
Sebagian orang merasa lebih rileks dengan memeluk bantal saat tidur.
Meskipun terdengar sederhana, cara ini cukup membantu menciptakan sensasi nyaman yang mirip ketika tidur bersama pasangan.
- Jaga Jadwal Tidur Tetap Konsisten
Tidur dan bangun pada jam yang sama setiap hari membantu mengatur ritme sirkadian tubuh sehingga proses tidur menjadi lebih mudah.
- Hindari Kafein pada Malam Hari
Kopi, teh berkafein, dan minuman energi sebaiknya tidak dikonsumsi menjelang waktu tidur karena dapat membuat tubuh tetap terjaga.
- Lakukan Aktivitas Relaksasi
Latihan pernapasan, meditasi ringan, atau mendengarkan suara alam dapat membantu mengurangi ketegangan sehingga tubuh lebih cepat mengantuk.
Apakah Orang yang LDR Lebih Rentan Mengalami Gangguan Tidur?
Tidak selalu.
Pasangan yang menjalani hubungan jarak jauh biasanya sudah lebih terbiasa tidur sendiri sehingga otak telah beradaptasi.
Sebaliknya, pasangan yang setiap hari tidur bersama lalu tiba-tiba harus berpisah beberapa hari justru lebih sering mengalami kesulitan tidur karena perubahan rutinitas yang mendadak.
Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter?
Segera mencari bantuan medis apabila gangguan tidur:
- Berlangsung lebih dari beberapa minggu.
- Menyebabkan rasa lelah berlebihan setiap hari.
- Disertai kecemasan atau stres yang berat.
- Mengganggu pekerjaan maupun aktivitas harian.
- Menimbulkan gejala lain seperti mendengkur berat atau henti napas saat tidur.
Pemeriksaan lebih lanjut dapat membantu mengetahui apakah terdapat gangguan tidur lain yang memerlukan penanganan khusus.
Kesimpulan
Sulit tidur saat jauh dari pasangan merupakan kondisi yang cukup umum dan memiliki dasar ilmiah. Kebiasaan tidur bersama dalam waktu lama membuat otak mengaitkan kehadiran pasangan dengan rasa aman serta waktu untuk beristirahat. Selain itu, pelepasan hormon oksitosin ketika berada dekat dengan pasangan juga berkontribusi menciptakan rasa nyaman yang mendukung kualitas tidur.
Meski demikian, kondisi ini bukan berarti seseorang mengalami ketergantungan emosional yang tidak sehat. Dalam banyak kasus, tubuh hanya membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan perubahan rutinitas. Dengan mempertahankan kebiasaan sebelum tidur, menjaga jadwal istirahat yang teratur, serta menciptakan suasana kamar yang nyaman, proses adaptasi biasanya akan berlangsung lebih cepat sehingga kualitas tidur tetap terjaga meski pasangan sedang tidak berada di samping.
Sumber : www.kompas.com
