Warga Majalengka Datangi Kantor SPPG, Pertanyakan Titik Koordinat Bangunan (Foto : Darfan)
MAJALENGKA, Buletinmedia.com – Puluhan warga Desa Heuleut, Kecamatan Leuwimunding, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, mendatangi Kantor Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) pada Selasa siang. Kedatangan warga tersebut dipicu rasa kecewa terhadap pengelolaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai kurang transparan, khususnya terkait titik koordinat lokasi bangunan dan minimnya keterlibatan masyarakat setempat.
Sejak awal berdirinya kegiatan SPPG di wilayah tersebut, warga mengaku belum mendapatkan penjelasan yang jelas mengenai sejumlah aspek penting. Hal itu mulai dari lokasi pasti bangunan, sistem operasional, hingga dampak lingkungan seperti pengelolaan limbah yang dinilai perlu disampaikan secara terbuka kepada masyarakat sekitar.
Dalam kunjungan tersebut, warga datang secara langsung ke kantor SPPG dengan harapan dapat bertemu dengan pengurus atau perwakilan pengelola. Mereka ingin menyampaikan aspirasi secara langsung sekaligus meminta klarifikasi terkait berbagai hal yang menjadi pertanyaan di tengah masyarakat Desa Heuleut.
Namun saat tiba di lokasi, warga tidak menemukan adanya perwakilan pengurus yang dapat ditemui. Kondisi tersebut membuat warga merasa kecewa karena tidak ada pihak yang bisa memberikan penjelasan terkait tujuan kedatangan mereka.
Sebelum mendatangi kantor SPPG, warga mengaku sudah berupaya melakukan komunikasi melalui telepon seluler. Mereka berharap ada pertemuan resmi atau penjelasan langsung dari pihak pengelola, namun upaya tersebut tidak membuahkan hasil yang memuaskan.
Salah satu warga, Nanang, menyampaikan bahwa kedatangan mereka bukan untuk melakukan penolakan terhadap program pemerintah, melainkan untuk meminta kejelasan mengenai keberadaan SPPG di wilayah mereka.
Menurut Nanang, masyarakat hanya ingin mendapatkan informasi yang transparan terkait titik koordinat kantor SPPG, sistem pengelolaan kegiatan, serta keterlibatan warga desa dalam pelaksanaan program tersebut.
“Kami hanya ingin mempertanyakan keberadaan SPPG ini. Warga desa tidak dilibatkan, kemudian titik koordinat kantor dan pengelolaan limbah juga belum jelas. Sebelumnya sudah kami komunikasikan melalui telepon, tetapi saat kami datang tidak ada perwakilan yang bisa ditemui,” ujar Nanang.
Ia menambahkan bahwa masyarakat sebenarnya sangat mendukung program pemerintah, termasuk Program Makan Bergizi Gratis yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi anak-anak sekolah. Namun menurutnya, dukungan tersebut perlu diimbangi dengan keterbukaan informasi kepada warga sekitar.
Nanang juga menyoroti persoalan tenaga kerja yang dinilai belum melibatkan masyarakat lokal secara maksimal. Menurutnya, keberadaan program di suatu wilayah seharusnya memberikan manfaat langsung bagi warga sekitar, termasuk dalam bentuk kesempatan kerja.
Selain itu, warga juga mempertanyakan kejelasan mengenai dampak lingkungan dari kegiatan SPPG, khususnya terkait pengelolaan limbah operasional. Hal ini dianggap penting agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari.
Warga berharap pihak pengelola SPPG dapat segera memberikan penjelasan secara terbuka dan resmi. Mereka menilai komunikasi yang baik antara pengelola dan masyarakat menjadi kunci untuk mencegah kesalahpahaman yang lebih besar.
Menurut warga, transparansi informasi sangat penting agar tidak muncul spekulasi di tengah masyarakat. Terlebih lagi, keberadaan fasilitas tersebut berada di lingkungan desa yang langsung berdampak pada kehidupan warga sehari-hari.
Beberapa warga lainnya juga mengungkapkan kekecewaan serupa. Mereka menilai kurangnya sosialisasi dari pihak pengelola membuat masyarakat merasa tidak dilibatkan dalam proses yang terjadi di wilayah mereka sendiri.
Warga berharap ke depan ada pertemuan resmi antara pihak SPPG, pemerintah desa, dan masyarakat. Pertemuan tersebut dinilai penting untuk membahas berbagai hal secara terbuka, mulai dari operasional program hingga dampaknya terhadap lingkungan dan sosial masyarakat.
Selain itu, warga juga meminta agar pemerintah daerah turut turun tangan dalam menyelesaikan persoalan ini. Mereka berharap ada pengawasan yang lebih ketat terhadap pelaksanaan program agar berjalan sesuai aturan dan memberikan manfaat bagi masyarakat luas.
Sementara itu, hingga berita ini diturunkan, pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) belum memberikan keterangan resmi terkait kedatangan puluhan warga Desa Heuleut tersebut. Upaya konfirmasi yang dilakukan belum mendapatkan tanggapan.
Situasi ini membuat warga masih menunggu penjelasan lebih lanjut. Mereka berharap persoalan ini dapat segera diselesaikan secara baik tanpa menimbulkan konflik berkepanjangan di tengah masyarakat.
Dengan adanya kejadian ini, warga menegaskan kembali bahwa mereka tidak menolak program pemerintah. Namun mereka menuntut adanya keterbukaan, komunikasi yang baik, serta pelibatan masyarakat lokal dalam setiap kegiatan yang berada di wilayah mereka.
Polemik ini menjadi perhatian tersendiri di Kabupaten Majalengka, khususnya terkait pelaksanaan program berbasis masyarakat yang seharusnya mengedepankan prinsip transparansi dan partisipasi warga.
Warga berharap ke depan tidak ada lagi kesenjangan informasi antara pengelola program dan masyarakat. Mereka ingin setiap program yang hadir di desa benar-benar memberikan manfaat nyata serta dapat diterima oleh semua pihak.
