Ratusan mahasiswa Saling dorong saat demo tuntut program prioritas daerah dan harmonisasi kepala daerah di Balai Kota Cirebon (Foto : Darfan)
CIREBON, Buletinmedia.com – Ratusan mahasiswa dari berbagai organisasi di wilayah Cirebon menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung Balai Kota Cirebon, Jawa Barat, Kamis petang. Aksi tersebut berlangsung panas hingga terjadi saling dorong antara massa mahasiswa dan aparat kepolisian dari Polres Cirebon Kota yang berjaga di pintu masuk kantor pemerintahan.
Dalam aksi tersebut, mahasiswa menyampaikan sejumlah tuntutan terkait program prioritas daerah hingga dugaan ketidakharmonisan antara kepala daerah dan wakil kepala daerah di lingkungan Pemerintah Kota Cirebon. Massa menilai kondisi internal pemerintahan yang tidak harmonis berpotensi menghambat jalannya pembangunan daerah serta pelayanan publik kepada masyarakat.
Sejak sore hari, ratusan mahasiswa mulai memadati kawasan Balai Kota Cirebon dengan membawa berbagai spanduk dan poster berisi kritik terhadap pemerintah daerah. Mereka secara bergantian melakukan orasi di depan gerbang kantor wali kota sambil menyuarakan tuntutan agar pemerintah daerah lebih fokus menjalankan visi dan misi pembangunan yang sebelumnya telah dijanjikan kepada masyarakat.
Situasi mulai memanas ketika sebagian mahasiswa mencoba masuk ke area dalam Balai Kota Cirebon untuk menemui langsung Wali Kota Cirebon. Aparat kepolisian yang berjaga kemudian berupaya menghalau massa agar tidak memaksa masuk ke area kantor pemerintahan. Kondisi tersebut memicu aksi saling dorong antara mahasiswa dan petugas keamanan.
Meski sempat terjadi ketegangan, aparat kepolisian tetap berusaha mengendalikan situasi agar aksi unjuk rasa tidak berujung ricuh. Sejumlah mahasiswa terlihat berusaha menerobos pagar penjagaan sambil meminta agar pemerintah daerah bersedia menemui massa aksi dan mendengarkan tuntutan mereka secara langsung.
Koordinator aksi, Ruslan, mengatakan aksi demonstrasi tersebut merupakan bentuk kekecewaan mahasiswa terhadap kondisi pemerintahan di Kota Cirebon. Menurutnya, mahasiswa menilai ada persoalan serius terkait hubungan antara kepala daerah dan wakil kepala daerah yang dinilai berdampak terhadap jalannya roda pemerintahan.
“Dengan tidak hadirnya Wali Kota dan Wakil Wali Kota Cirebon ini menandakan ketidaksetaraan antara masyarakat Kota Cirebon dengan Pemerintah Kota Cirebon,” ujar Ruslan di hadapan peserta aksi.
Mahasiswa juga menilai ketidakharmonisan di internal pemerintah daerah dapat menghambat pelaksanaan berbagai program prioritas yang seharusnya segera dijalankan untuk kepentingan masyarakat. Mereka meminta pemerintah daerah segera melakukan pembenahan internal agar visi dan misi pembangunan daerah dapat berjalan maksimal.
Selain menyoroti kondisi internal pemerintahan, massa mahasiswa juga mendesak pemerintah agar lebih serius memperhatikan berbagai persoalan masyarakat, mulai dari pembangunan infrastruktur, pelayanan publik, pendidikan, hingga kesejahteraan masyarakat Kota Cirebon.
Dalam aksinya, mahasiswa membawa berbagai tuntutan yang dianggap menjadi kebutuhan mendesak masyarakat. Mereka menilai pemerintah daerah harus lebih terbuka terhadap kritik dan aspirasi publik, khususnya dari kalangan mahasiswa sebagai bagian dari kontrol sosial terhadap jalannya pemerintahan.
Aksi unjuk rasa tersebut sempat membuat arus lalu lintas di sekitar Balai Kota Cirebon mengalami kepadatan. Aparat kepolisian melakukan pengamanan ketat di sejumlah titik untuk mengantisipasi terjadinya kericuhan yang lebih besar. Petugas juga mengatur arus kendaraan agar aktivitas masyarakat di sekitar lokasi tetap berjalan lancar.
Setelah melalui negosiasi cukup panjang, sebagian mahasiswa akhirnya diperbolehkan masuk ke area Balai Kota Cirebon untuk berdialog dengan perwakilan pemerintah daerah. Mereka ditemui oleh Sekretaris Daerah Kota Cirebon, Plt Kepala Dinas Pendidikan, dan Kepala Bidang Pendidikan Dasar.
Namun dalam pertemuan tersebut, Wali Kota dan Wakil Wali Kota Cirebon tidak hadir menemui massa aksi. Berdasarkan keterangan dari pemerintah daerah, keduanya sedang mendampingi tamu dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat sehingga tidak dapat hadir di lokasi demonstrasi.
Ketidakhadiran kepala daerah dan wakil kepala daerah tersebut kembali memicu kekecewaan mahasiswa. Massa menilai pemerintah seharusnya lebih mengutamakan dialog dengan masyarakat yang tengah menyampaikan aspirasi secara langsung di Balai Kota Cirebon.
Menanggapi tuntutan mahasiswa, Sekretaris Daerah Kota Cirebon, Iing Daiman, menyampaikan apresiasi terhadap aksi demonstrasi yang dilakukan mahasiswa. Menurutnya, kritik dari mahasiswa merupakan bagian penting dalam sistem demokrasi dan bentuk kontrol sosial terhadap jalannya pemerintahan daerah.
“Kami mengapresiasi kehadiran mahasiswa dan ini merupakan bagian dari kontrol sosial karena kami menyadari penyelenggaraan pemerintahan daerah itu tidak mudah, terutama pada sisi anggaran. Sebenarnya boleh mengkritik, namun harus memberikan solusi,” ujar Iing Daiman.
Ia menegaskan Pemerintah Kota Cirebon tetap terbuka terhadap berbagai masukan dan kritik dari masyarakat maupun mahasiswa. Pemerintah daerah, kata dia, juga terus berupaya menjalankan program pembangunan meskipun dihadapkan pada berbagai tantangan, termasuk keterbatasan anggaran daerah.
Iing juga memastikan seluruh aspirasi mahasiswa akan disampaikan kepada pimpinan daerah untuk menjadi bahan evaluasi dalam menjalankan pemerintahan ke depan. Pemerintah daerah berharap komunikasi dengan mahasiswa tetap berjalan baik sehingga berbagai persoalan dapat diselesaikan melalui dialog.
Sementara itu, mahasiswa meminta pemerintah tidak hanya menerima aspirasi secara simbolis, tetapi benar-benar menindaklanjuti tuntutan yang telah disampaikan. Mereka berharap Pemerintah Kota Cirebon segera memperbaiki koordinasi internal agar kebijakan yang diambil tidak menghambat pembangunan daerah.
Mahasiswa juga menekankan pentingnya sinergi antara kepala daerah dan wakil kepala daerah dalam menjalankan roda pemerintahan. Menurut mereka, keharmonisan di internal pemerintah sangat dibutuhkan demi memastikan pelayanan publik berjalan optimal dan program pembangunan tepat sasaran.
Aksi demonstrasi berlangsung hingga malam hari dengan pengawalan ketat aparat kepolisian. Meski sempat diwarnai aksi saling dorong, situasi secara umum tetap dapat dikendalikan dan massa aksi akhirnya membubarkan diri secara tertib.
Peristiwa ini menjadi sorotan publik karena menunjukkan tingginya perhatian mahasiswa terhadap kondisi pemerintahan daerah di Kota Cirebon. Mahasiswa berharap pemerintah lebih responsif terhadap aspirasi masyarakat serta mampu menjaga stabilitas internal demi kelancaran pembangunan daerah.
Di sisi lain, aksi unjuk rasa tersebut juga menjadi pengingat pentingnya ruang dialog antara pemerintah dan masyarakat. Keterbukaan dalam menerima kritik dinilai menjadi salah satu kunci agar kebijakan pemerintah tetap berjalan sesuai kebutuhan masyarakat.
Hingga kini, mahasiswa mengaku akan terus mengawal berbagai kebijakan Pemerintah Kota Cirebon, terutama terkait pelaksanaan program prioritas daerah dan pelayanan publik. Mereka menegaskan aksi demonstrasi dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap masa depan Kota Cirebon agar pembangunan dapat berjalan lebih baik dan berpihak kepada masyarakat.
