Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi marah besar ketika sekelompok suporter Persikas Subang membentangkan spanduk bertuliskan ?Selamatkan Persikas?, Rabu (28/5/2025) malam.(Dok. Humas UI)
Memasuki tahun ajaran baru 2025–2026, seluruh sekolah di Jawa Barat akan memulai kegiatan belajar lebih awal dari biasanya. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, secara resmi mengumumkan bahwa jam masuk sekolah di seluruh jenjang pendidikan akan dimulai pukul 06.30 WIB. Pengumuman ini disampaikan Dedi dalam sebuah video pernyataan resmi yang diunggah ke media sosial pada Rabu pagi, 4 Juni 2025, menjelang pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Tasikmalaya di Gedung Pakuan, Bandung.
Dalam klarifikasinya, Dedi menegaskan bahwa informasi yang beredar mengenai jam masuk pukul 06.00 adalah tidak benar. “Kata siapa pukul 06.00? Di Surat Edaran jelas disebutkan pukul 06.30,” ujarnya tegas saat dikonfirmasi lewat sambungan telepon.
Untuk memperkuat pernyataannya, Dedi membagikan salinan resmi Surat Edaran Nomor: 58/PK.03/DISDIK. Dalam dokumen tersebut disebutkan bahwa kegiatan belajar di sekolah berlangsung dari Senin hingga Kamis mulai pukul 06.30 dengan durasi 195 menit, sedangkan pada hari Jumat tetap dimulai pukul 06.30 tetapi hanya berdurasi 120 menit.
Kebijakan ini bukan hanya soal jam masuk sekolah. Menurut Dedi, ini merupakan bagian dari reformasi menyeluruh sistem pendidikan di Jawa Barat. Ia ingin menciptakan pola belajar yang lebih fokus di sekolah, sehingga siswa tidak perlu lagi membawa pekerjaan rumah (PR). “Semua tugas diselesaikan di sekolah. Tidak ada lagi beban PR yang harus dibawa pulang,” tegasnya.
Dedi mengungkapkan bahwa waktu di rumah sebaiknya digunakan anak-anak untuk memperkuat aspek kehidupan lain seperti beristirahat cukup, membaca buku, berolahraga, serta belajar tanggung jawab sosial melalui aktivitas seperti membantu orang tua di rumah—misalnya mencuci piring, menyapu, bahkan belajar memasak.
Ia juga mendorong anak-anak untuk aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler yang bisa meningkatkan keterampilan hidup, seperti kursus musik, bahasa asing, hingga matematika dan fisika. Kebijakan ini, lanjutnya, bertujuan mencetak generasi muda yang selaras dengan konsep “Panca Waluya”, yaitu anak-anak yang cager (sehat), bager (berkarakter baik), bener (jujur dan benar), pinter (cerdas), dan singer (terampil).
Gubernur Dedi menyadari bahwa terobosan ini akan memicu diskusi publik yang tajam, antara yang mendukung dan menolak. Namun ia menegaskan bahwa dalam iklim demokrasi, perbedaan pendapat adalah hal lumrah. “Pro dan kontra itu biasa. Yang penting tujuannya: membentuk generasi masa depan Jawa Barat yang kuat secara fisik, mental, dan intelektual,” pungkasnya.
