Jenazah pekerja migran Indonesia asal Majalengka tiba di kampung halaman (Foto : Darfan)
MAJALENGKA, Buletinmedia.com – Kabar duka menyelimuti warga Desa Garawastu, Kecamatan Sindang, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, setelah seorang pekerja migran Indonesia (PMI) bernama Deri dilaporkan meninggal dunia di Kamboja. Kepergian Deri menyisakan luka mendalam bagi keluarga dan warga sekitar, terlebih proses pemulangan jenazah yang memakan waktu cukup lama hingga akhirnya bisa dimakamkan di kampung halaman.
Jenazah korban tiba di rumah duka pada Senin malam. Suasana haru langsung terasa saat peti jenazah dibawa masuk ke dalam rumah. Tangisan histeris keluarga pecah seketika, terutama dari kedua orang tua korban yang tampak tidak kuasa menahan kesedihan. Mereka menyambut kepulangan Deri dalam kondisi tak bernyawa, sesuatu yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Puluhan warga sekitar turut memadati rumah duka. Mereka datang untuk memberikan dukungan moral sekaligus menyampaikan belasungkawa kepada keluarga yang ditinggalkan. Beberapa di antaranya terlihat ikut meneteskan air mata, larut dalam suasana duka yang menyelimuti rumah tersebut. Kehadiran warga menjadi bukti kuatnya solidaritas sosial di lingkungan desa, terutama saat salah satu warganya mengalami musibah.
Deri diketahui merupakan warga asli Desa Garawastu yang merantau ke Kamboja untuk bekerja sebagai barber. Keputusan untuk bekerja di luar negeri diambil demi memperbaiki kondisi ekonomi keluarga. Seperti banyak pekerja migran lainnya, Deri berangkat dengan harapan dapat memberikan kehidupan yang lebih baik bagi orang-orang tercinta di kampung halaman.
Namun takdir berkata lain. Berdasarkan informasi yang diterima, Deri ditemukan dalam kondisi sudah meninggal dunia di pinggir jalan di Kamboja. Kabar tersebut tentu menjadi pukulan berat bagi keluarga. Rasa cemas yang sempat muncul karena sulitnya komunikasi berubah menjadi duka mendalam setelah kabar pasti mengenai kematian korban diterima.
Pemerintah daerah Kabupaten Majalengka melalui Dinas Ketenagakerjaan segera mengambil langkah setelah mendapatkan informasi tersebut. Koordinasi dilakukan dengan berbagai pihak, termasuk instansi terkait di tingkat nasional dan perwakilan Indonesia di luar negeri. Upaya ini dilakukan untuk memastikan proses pemulangan jenazah berjalan lancar meskipun dihadapkan pada berbagai kendala administratif dan teknis.
Kepala Dinas Ketenagakerjaan Majalengka, Arif, menjelaskan bahwa proses pemulangan jenazah tidak bisa dilakukan secara instan. Banyak tahapan yang harus dilalui, mulai dari identifikasi, pengurusan dokumen, hingga koordinasi lintas negara. Hal inilah yang menyebabkan proses pemulangan memakan waktu hingga sekitar 40 hari.
“Korban bernama Deri, warga Desa Garawastu, Majalengka, yang bekerja sebagai barber di Kamboja, ditemukan meninggal dunia di pinggir jalan. Pemerintah daerah berkoordinasi untuk pemulangan jenazah, dan setelah sekitar 40 hari, jenazah diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan di TPU setempat,” jelas Arif.
Lamanya proses pemulangan menjadi ujian tersendiri bagi keluarga korban. Selama menunggu, keluarga hanya bisa berharap agar jenazah segera dipulangkan. Rasa rindu bercampur duka terus dirasakan, terlebih mereka tidak dapat melihat kondisi terakhir Deri secara langsung sejak kabar meninggal dunia diterima.
Setelah melalui berbagai proses, akhirnya jenazah Deri tiba di Indonesia dan langsung dibawa ke rumah duka. Pemerintah Indonesia kemudian menyerahkan jenazah tersebut kepada pihak keluarga untuk dimakamkan. Proses penyerahan berlangsung dengan penuh haru, diiringi tangis keluarga yang tidak henti-hentinya mengalir.
Sebelum dimakamkan, pihak keluarga mengajukan permintaan untuk membuka peti jenazah. Mereka ingin melihat wajah Deri untuk terakhir kalinya. Permintaan tersebut menjadi momen yang sangat emosional. Saat peti dibuka, tangis keluarga kembali pecah. Kedua orang tua korban tampak terpukul dan sulit menerima kenyataan bahwa anak yang selama ini mereka banggakan telah pergi untuk selamanya.
Setelah prosesi tersebut, jenazah kemudian dibawa ke tempat pemakaman umum (TPU) desa setempat. Prosesi pemakaman berlangsung khidmat dengan dihadiri keluarga, kerabat, serta warga sekitar. Doa-doa dipanjatkan sebagai bentuk penghormatan terakhir bagi almarhum.
Peristiwa ini kembali mengingatkan akan berbagai risiko yang dihadapi pekerja migran Indonesia di luar negeri. Meski banyak yang berhasil meningkatkan taraf hidup, tidak sedikit pula yang menghadapi tantangan besar, mulai dari kondisi kerja yang berat hingga masalah keselamatan.
Kasus meninggalnya Deri di Kamboja menjadi perhatian bagi pemerintah daerah. Mereka menegaskan pentingnya memastikan bahwa setiap warga yang hendak bekerja ke luar negeri harus melalui prosedur resmi. Dengan demikian, perlindungan terhadap pekerja migran dapat lebih terjamin, baik dari sisi hukum maupun keselamatan.
Selain itu, pemerintah juga terus berupaya meningkatkan pengawasan terhadap penyaluran tenaga kerja ke luar negeri. Edukasi kepada masyarakat menjadi salah satu langkah penting agar calon PMI memahami risiko serta hak dan kewajiban mereka selama bekerja di negara tujuan.
Bagi keluarga Deri, kepergian sang anak meninggalkan luka yang sulit disembuhkan. Kenangan bersama menjadi satu-satunya yang tersisa. Meski berat, mereka berusaha menerima kenyataan dengan ikhlas. Dukungan dari warga sekitar sedikit banyak membantu menguatkan mereka di tengah duka yang mendalam.
Suasana di Desa Garawastu pun perlahan kembali normal setelah prosesi pemakaman selesai. Namun peristiwa ini masih menjadi perbincangan warga. Banyak yang merasa prihatin dan berharap kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.
Kisah Deri menjadi pengingat bahwa perjuangan mencari nafkah di negeri orang tidak selalu berjalan mulus. Di balik harapan besar, selalu ada risiko yang harus dihadapi. Oleh karena itu, penting bagi semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat, untuk bersama-sama meningkatkan perlindungan terhadap pekerja migran Indonesia.
Kini, Deri telah dimakamkan di tanah kelahirannya. Ia kembali ke kampung halaman dalam keheningan, diiringi doa dan air mata orang-orang yang mencintainya. Kepergiannya menjadi duka yang mendalam, namun juga pelajaran berharga bagi banyak pihak tentang pentingnya keselamatan dan perlindungan bagi para pekerja migran.
