Banjir merendam ratusan rumah di Kecamatan Pangenan (Foto : Darfan)
CIREBON, Buletinmedia.com – Banjir kembali melanda wilayah Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, pada Selasa pagi. Kali ini, ratusan rumah warga di Kecamatan Pangenan terendam air yang naik cukup cepat sejak Senin malam. Banjir terjadi akibat curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah tersebut sejak malam hingga dini hari, membuat Sungai Singaraja meluap dan menggenangi permukiman warga di sejumlah desa. Dampak paling parah terlihat di Desa Pangarengan, di mana air banjir merendam ratusan rumah dan menutup akses jalan desa sehingga aktivitas warga menjadi terganggu. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran baru karena banjir di kawasan ini sering terjadi setiap musim hujan.
Berdasarkan pantauan di lapangan, banjir mulai merendam rumah warga sejak Senin malam sekitar pukul 22.00 WIB. Air naik dengan cepat dan masuk ke dalam rumah warga. Ketinggian air bervariasi, mulai dari sekitar 50 sentimeter hingga mencapai 80 sentimeter di beberapa titik. Bahkan, di wilayah yang berada paling dekat dengan bantaran Sungai Singaraja, air hampir mencapai satu meter. Ketinggian air yang cukup dalam membuat warga kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari, termasuk bekerja, bersekolah, dan memenuhi kebutuhan dasar. Selain itu, banjir juga menggenangi jalan penghubung antardesa sehingga akses transportasi warga menjadi terhambat. Jalan yang terendam membuat mobil dan sepeda motor tidak dapat melintas, sehingga mobilitas warga lumpuh sementara.
Ratusan rumah di Desa Pangarengan, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon, terendam banjir sejak semalam hingga Selasa pagi. Akibat banjir tersebut, aktivitas warga menjadi terganggu dan sebagian warga terpaksa menghentikan aktivitas sehari-hari, termasuk bekerja dan bersekolah. Banyak warga yang memilih tetap bertahan di rumah karena khawatir barang-barang berharga mereka rusak atau hilang. Banjir tidak hanya merendam rumah, tetapi juga merusak perabotan rumah tangga. Sejumlah kursi, meja, lemari, hingga perangkat elektronik seperti televisi dan kulkas ikut terendam dan sebagian ada yang hanyut terbawa arus. Warga berusaha menyelamatkan barang-barang berharga dengan memindahkannya ke tempat yang lebih tinggi, namun karena ketinggian air yang naik cepat, upaya penyelamatan tidak selalu berhasil.
Luapan Sungai Singaraja menjadi penyebab utama banjir di wilayah ini. Sungai yang membelah Kecamatan Pangenan tersebut tidak mampu menampung debit air yang tinggi akibat hujan deras yang berlangsung cukup lama. Kondisi sungai yang sudah mengalami pendangkalan membuat air dengan mudah meluap ke wilayah permukiman warga di sekitarnya. Pendangkalan Sungai Singaraja membuat kapasitas aliran air berkurang, sehingga ketika hujan turun dengan intensitas tinggi, air tidak dapat mengalir lancar dan akhirnya meluap. Kondisi ini diperparah oleh sedimentasi dan sampah yang menumpuk di sungai, sehingga aliran air menjadi tersumbat dan mengalir ke pemukiman warga.
Hingga Selasa pagi, banjir di Kecamatan Pangenan belum menunjukkan tanda-tanda surut. Air masih menggenangi rumah warga dan jalan desa. Hujan dengan intensitas ringan hingga sedang pun masih turun di sejumlah wilayah Kabupaten Cirebon, sehingga risiko banjir susulan masih tinggi. Warga yang tinggal di daerah rawan banjir, khususnya di bantaran Sungai Singaraja, diimbau untuk tetap siaga dan waspada terhadap kemungkinan banjir berulang. Meski sebagian warga sudah mengalami kejadian banjir berkali-kali, namun kondisi ini tetap membuat mereka was-was karena dampak banjir semakin terasa berat, terutama karena air cenderung bertahan lama dan mengganggu aktivitas ekonomi.
Banjir akibat meluapnya Sungai Singaraja juga menyebabkan Desa Pangarengan sempat terisolasi. Jalan utama desa tidak bisa dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat karena terendam air cukup dalam. Kondisi ini membuat mobilitas warga lumpuh. Sejumlah warga kesulitan untuk beraktivitas, termasuk untuk membeli kebutuhan pokok dan mengakses fasilitas umum. Isolasi akibat banjir membuat bantuan dan logistik sulit masuk ke desa. Selain itu, warga yang membutuhkan layanan kesehatan atau harus bepergian untuk keperluan penting terhambat karena jalan yang tergenang air.
Selain merendam rumah, banjir juga mengakibatkan kerugian materi bagi warga. Sejumlah perabotan rumah tangga seperti kursi, meja, lemari, dan peralatan elektronik hanyut terbawa arus banjir atau rusak akibat terendam air. Warga berusaha menyelamatkan barang-barang berharga dengan memindahkannya ke tempat yang lebih tinggi, namun sebagian besar tidak bisa diselamatkan karena air naik terlalu cepat. Banyak warga yang kehilangan barang penting seperti dokumen, pakaian, dan peralatan rumah tangga. Kerugian ini menjadi beban tambahan bagi warga yang sudah hidup sederhana dan bergantung pada hasil usaha harian.
Salah satu warga Desa Pangarengan, Rastini, mengatakan hujan deras sudah turun sejak pukul 22.00 WIB dan tidak berhenti hingga larut malam. Kondisi tersebut membuat air sungai meluap dan masuk ke rumah-rumah warga. “Memang hujan dari jam sepuluh malam dan hujannya tidak berhenti, jadi banjir. Untuk ketinggian air sekitar 50 sentimeter dan hampir satu meter. Sampai sekarang memang belum ada evakuasi,” ujar Rastini. Menurut Rastini, banjir di wilayahnya bukan kali pertama terjadi. Setiap musim hujan, warga Desa Pangarengan harus bersiap menghadapi banjir akibat meluapnya Sungai Singaraja. Namun, banjir kali ini dirasakan cukup mengganggu karena air bertahan lama dan merendam hampir seluruh rumah warga di desanya. Kondisi ini membuat warga semakin berharap adanya penanganan yang lebih serius dari pemerintah agar banjir tidak terus berulang.
Hingga saat ini, ratusan warga masih memilih bertahan di rumah masing-masing sambil menunggu air banjir surut. Sebagian warga mengungsi ke rumah kerabat yang berada di lokasi lebih tinggi, namun mayoritas memilih tetap tinggal untuk menjaga rumah dan harta benda mereka. Warga berharap air segera surut agar aktivitas bisa kembali normal. Pilihan bertahan di rumah sering kali dipilih karena warga khawatir kehilangan barang dan tidak ingin meninggalkan rumah tanpa pengawasan. Namun, kondisi ini juga berisiko jika air terus naik atau terjadi banjir susulan.
Warga juga berharap adanya perhatian serius dari pemerintah daerah untuk mengatasi banjir yang kerap terjadi di wilayah Kecamatan Pangenan. Normalisasi Sungai Singaraja dinilai menjadi langkah penting untuk mencegah banjir berulang. Pendangkalan sungai yang semakin parah dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab meluapnya air ke permukiman. Selain normalisasi sungai, warga juga mengharapkan perbaikan sistem drainase serta pembangunan tanggul penahan banjir di sepanjang aliran Sungai Singaraja. Dengan upaya tersebut, warga berharap banjir tidak lagi menjadi ancaman rutin setiap musim hujan tiba. Penanganan yang menyeluruh juga diperlukan agar dampak banjir tidak terus berulang dan menimbulkan kerugian berkepanjangan.
Banjir yang merendam ratusan rumah di Kecamatan Pangenan ini menjadi pengingat akan pentingnya penanganan banjir secara menyeluruh dan berkelanjutan. Tanpa langkah konkret, banjir dikhawatirkan akan terus berulang dan berdampak pada kehidupan serta perekonomian warga Kabupaten Cirebon. Upaya penanganan yang efektif membutuhkan koordinasi antara pemerintah daerah, masyarakat, dan pihak terkait, termasuk pihak sungai dan drainase. Jika tidak segera ditangani, banjir di Kecamatan Pangenan akan terus menjadi ancaman yang merugikan warga dan mengganggu aktivitas sosial ekonomi di wilayah Kabupaten Cirebon.
