(Foto: Getty Images via AFP/ANDREW HARNIK)
China resmi melarang perusahaan-perusahaan teknologi raksasa di negaranya membeli chip buatan Nvidia, sebuah langkah yang menandai babak baru dalam persaingan teknologi global. Kebijakan ini dikeluarkan oleh Cyberspace Administration of China (CAC) yang memberikan instruksi langsung kepada raksasa internet seperti ByteDance—pemilik TikTok—dan ritel daring Alibaba, agar menghentikan seluruh uji coba chip AI yang sebelumnya dirancang khusus untuk pasar Tiongkok. Larangan tersebut dinilai sebagai strategi Beijing untuk memperkuat kemandirian industri semikonduktor domestik sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap teknologi asing, khususnya produk-produk dari Amerika Serikat.
Keputusan ini sontak mengguncang pasar. Saham Nvidia langsung merosot lebih dari 2,6 persen di Wall Street, memperlihatkan betapa besarnya ketergantungan perusahaan chip asal AS itu pada pasar China, yang selama ini menjadi konsumen kedua terbesar setelah Amerika Serikat. CEO Nvidia, Jensen Huang, tak menyembunyikan kekecewaannya. Ia menegaskan bahwa Nvidia justru berkontribusi besar terhadap ekosistem teknologi di China, bahkan lebih dibandingkan banyak negara lain. Namun, ia juga mengakui bahwa larangan ini berkaitan dengan agenda geopolitik yang lebih luas dalam perseteruan dagang AS–China, sehingga tidak semata persoalan bisnis.
“China memiliki agenda yang lebih besar untuk diselesaikan dengan Amerika Serikat, dan saya memahami hal itu,” ujar Huang, yang kekayaannya kini mencapai lebih dari Rp2.546 triliun. Meski begitu, ia tetap menekankan bahwa Nvidia akan berupaya mengikuti aturan yang berlaku di China sembari menjaga hubungan baik dengan pemerintah kedua negara.
Laporan Reuters mencatat bahwa meskipun sempat ada pemesanan puluhan ribu unit chip RTX Pro 6000D oleh sejumlah perusahaan Tiongkok, minat pasar ternyata terbatas. Banyak perusahaan besar lebih memilih tidak menggunakan chip tersebut, bahkan sebelum kebijakan pelarangan ini muncul. Hal ini memperlihatkan adanya pergeseran preferensi ke arah chip buatan lokal, yang semakin gencar dikembangkan Beijing.
Larangan ini muncul hanya beberapa hari setelah pemerintah China menuding Nvidia melanggar undang-undang antimonopoli terkait chip H20, produk generasi sebelumnya yang juga ditujukan bagi pasar Tiongkok. Situasi ini kian mempertegas bagaimana persaingan teknologi antara dua raksasa ekonomi dunia kini menjalar ke sektor kecerdasan buatan (AI) dan semikonduktor—sektor yang dianggap sebagai kunci supremasi global.
Di tengah gejolak tersebut, Jensen Huang saat ini sedang berada di London untuk menghadiri pertemuan dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang sedang melakukan kunjungan kenegaraan. Nvidia diketahui akan menjadi pemasok chip untuk proyek infrastruktur AI di Inggris yang didukung penuh oleh pemerintahan Trump bersama OpenAI. Huang mengisyaratkan bahwa isu larangan chip di China kemungkinan besar akan menjadi bahan diskusi penting dalam pertemuannya dengan presiden.
Meski dihadapkan pada tantangan besar di pasar China, Huang menegaskan bahwa Nvidia tetap berkomitmen mendukung kebijakan kedua negara, sembari berharap ada jalan keluar diplomatis atas konflik dagang yang makin memanas. Bagi Nvidia, keputusan Beijing bukan hanya sekadar larangan dagang, melainkan sinyal keras bahwa perang chip antara Amerika Serikat dan China kini benar-benar berada di garis depan kompetisi global.
