Siomay Ikan Tenggiri dan Siomay Ikan Sapu-Sapu (Sumber Foto : Sajian Sedap)
Buletinmedia.com – Masyarakat diminta waspada terhadap siomay berbahan ikan sapu-sapu yang belakangan kembali menjadi sorotan. Isu penggunaan ikan sapu-sapu sebagai campuran siomay memicu keresahan karena harga ikan sapu-sapu jauh lebih murah dibandingkan ikan tenggiri yang umumnya digunakan sebagai bahan utama siomay.
Dengan menggunakan bahan baku yang lebih murah, oknum pedagang berpotensi meraup keuntungan lebih besar. Padahal, praktik tersebut merugikan dan berisiko membahayakan konsumen. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk mengetahui ciri-ciri siomay yang dicampur ikan sapu-sapu.
Ciri-Ciri Siomay Berbahan Ikan Sapu-Sapu
- Warna daging kusam dan abu-abu gelap
Siomay yang menggunakan ikan sapu-sapu cenderung memiliki warna daging lebih gelap, tampak kusam, dan abu-abu kehitaman. Berbeda dengan siomay berbahan ikan tenggiri yang umumnya berwarna putih pucat dengan sedikit semburat abu-abu alami.
Namun, konsumen juga perlu waspada terhadap siomay yang tampak terlalu putih bersih, karena bisa saja mengandung pemutih atau bahan tambahan berbahaya.
- Aroma amis menyengat dan tidak wajar
Siomay dari ikan segar memiliki aroma khas ikan yang ringan dan tidak menyengat. Sebaliknya, siomay ikan sapu-sapu biasanya mengeluarkan bau amis berlebihan atau aroma janggal, terutama jika ikan berasal dari lingkungan tercemar. - Harga siomay terlalu murah
Harga juga bisa menjadi indikator penting. Jika menemukan siomay dengan harga jauh di bawah pasaran, konsumen patut curiga. Sebagai perbandingan, harga ikan sapu-sapu berkisar Rp17.000 per kilogram, sedangkan ikan tenggiri segar bisa mencapai Rp135.000 per kilogram.
Mengapa Ikan Sapu-Sapu Berbahaya Dikonsumsi?
Secara alami, ikan sapu-sapu bukanlah ikan beracun. Namun, bahaya muncul karena habitat ikan sapu-sapu sering berada di perairan tercemar, seperti sungai-sungai di Jakarta, termasuk Kali Ciliwung.
Sejumlah penelitian menunjukkan ikan sapu-sapu dari perairan tersebut mengandung logam berat seperti merkuri yang melebihi ambang batas aman. Paparan merkuri dalam jangka panjang berpotensi menyebabkan gangguan fungsi hati hingga risiko kanker.
Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI Jakarta juga mencatat sedikitnya delapan sungai di Jakarta tercemar logam berat, sehingga ikan yang hidup di dalamnya tidak layak konsumsi.
Menurut Irma Rumondang, Kepala Laboratorium Instrumen BBKK, masalah utama bukan pada jenis ikan, melainkan pada lingkungan tempat ikan tersebut hidup. Ikan sapu-sapu dari habitat tercemar berpotensi membawa racun berbahaya yang bisa masuk ke tubuh manusia melalui makanan.
Imbauan bagi Konsumen
Kasus siomay ikan sapu-sapu menjadi pengingat agar masyarakat lebih selektif memilih makanan. Pastikan membeli dari pedagang terpercaya, perhatikan warna dan aroma siomay, serta hindari produk dengan harga yang tidak masuk akal murahnya.
Dengan meningkatkan kewaspadaan, konsumen dapat melindungi diri dari risiko kesehatan akibat makanan berbahan baku berbahaya.
Sumber : www.kompas.com
