Seorang warga meninggal dunia usai dipatuk ular kobra saat mencari ikan pada Sabtu siang (Tangkapan Layar)
CIREBON, Buletinmedia.com – Kabut duka yang tebal menyelimuti pemukiman padat penduduk di Kampung Cangkol Utara, Kelurahan Panjunan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon. Suasana haru biru mengiringi kepergian salah satu warga yang menjadi korban keganasan alam di tengah kota. Seorang pria paruh baya yang sehari-hari membanting tulang sebagai buruh, harus menghembuskan napas terakhirnya setelah berhadapan dengan salah satu predator paling mematikan di tanah Jawa: Ular Kobra.
Peristiwa yang terjadi pada Sabtu siang (4/4/2026) ini bukan sekadar kecelakaan kerja biasa bagi seorang pencari ikan. Ini adalah puncak dari gunung es keresahan warga yang sudah memendam ketakutan selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, akibat lingkungan tempat tinggal mereka yang kini dikepung oleh satwa liar berbahaya.
Kronologi Memilukan: Gigitan Maut di Tengah Terik Matahari
Siang itu, matahari menyengat di kawasan pesisir Cirebon. Korban, yang bermaksud mencari tambahan penghasilan dengan menjaring ikan, melangkah menuju area kolam di kawasan Cirebon Urban Development Project (CUDP). Kawasan ini memang dikenal sebagai lokasi favorit warga untuk beraktivitas karena genangan airnya yang seringkali dihuni ikan-ikan air tawar.
Namun, maut mengintai di balik rimbunnya eceng gondok dan semak belukar. Saat sedang asyik menebar jaring, seekor ular kobra yang diduga merasa terancam dengan keberadaan manusia, melakukan serangan mendadak. Patukan itu mendarat telak. Dalam kondisi menahan sakit yang luar biasa, korban masih sanggup menyeret kakinya untuk pulang ke rumah, berharap bantuan medis bisa menyelamatkannya.
Keluarga yang panik segera melarikannya ke puskesmas terdekat. Namun, racun neurotoksin dari bisa kobra bekerja dengan sangat cepat melumpuhkan sistem saraf. Karena fasilitas puskesmas yang terbatas untuk menangani kasus gigitan ular skala berat, korban pun dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Gunung Jati Cirebon. Sayangnya, takdir berkata lain. Hanya beberapa saat setelah tiba di Unit Gawat Darurat (UGD), nyawa pria tersebut tak tertolong. Racun telah menjalar hingga ke jantung dan paru-paru, menghentikan napasnya selamanya.
Suara Hati Warga: Antara Ketakutan dan Pengabaian
Kematian korban seolah membuka luka lama warga Cangkol Utara. Ketua RW setempat, Sulaeman, dengan nada bicara yang berat menahan emosi, menyampaikan bahwa teror ini adalah “bom waktu” yang akhirnya meledak.
“Kami semua di sini turut berbelasungkawa sedalam-dalamnya. Namun, perlu kami tegaskan bahwa kejadian ini bukan yang pertama kali. Ini sudah pernah terjadi sebelumnya, dan kami sudah berkali-kali menyuarakan kekhawatiran kami,” tegas Sulaeman saat ditemui di sela-sela prosesi pemakaman korban.
Sulaeman dan warga lainnya menunjuk satu titik yang dianggap sebagai sumber malapetaka: Lahan CUDP. Lahan seluas lebih dari empat hektare tersebut kini terbengkalai, dipenuhi ilalang setinggi manusia, dan tumpukan sampah yang menjadi habitat ideal bagi perkembangbiakan ular dan biawak. “Kami butuh tindakan nyata, bukan sekadar imbauan. Dinas terkait harus segera melakukan pembersihan di CUDP ini agar tidak ada lagi kobra yang merayap masuk ke dapur atau teras rumah warga,” tambahnya.
Konflik Manusia dan Satwa: Mengapa Kobra Masuk Pemukiman?
Secara ekologis, apa yang terjadi di Cangkol Utara adalah contoh nyata dari konflik ruang antara manusia dan satwa liar. Area CUDP yang dibiarkan tanpa pengelolaan selama berbulan-bulan telah bertransformasi menjadi “hutan kecil” di tengah pemukiman. Tikus-tikus yang banyak terdapat di area pemukiman padat menjadi daya tarik utama bagi ular kobra untuk mendekat.
Warga melaporkan bahwa hampir setiap pekan ada saja laporan kemunculan ular di pemukiman. Mulai dari ular piton berukuran besar hingga kobra jawa yang sangat agresif. Tidak hanya ular, biawak berukuran raksasa pun seringkali terlihat memangsa ternak warga seperti ayam, yang menambah panjang daftar kerugian material dan psikologis masyarakat.
Ketakutan warga kini berada pada titik tertinggi. Mereka yang memiliki anak kecil kini harus mengunci pintu rapat-rapat bahkan di siang bolong. Rasa aman yang seharusnya menjadi hak dasar warga kota kini sirna, digantikan oleh kewaspadaan berlebih setiap kali melihat semak-semak yang bergerak.
Tuntutan Tegas kepada Instansi Terkait
Tragedi ini menjadi momentum bagi warga untuk menuntut transparansi dan kinerja dari Pemerintah Kota Cirebon. Lahan CUDP yang seharusnya menjadi bagian dari pembangunan kota kini justru menjadi ancaman nyawa. Masyarakat mendesak agar:
-
Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar): Melakukan penyisiran (sweeping) secara intensif di area CUDP dan pemukiman warga untuk mengevakuasi ular-ular yang bersarang.
-
Dinas Lingkungan Hidup (DLH): Segera melakukan pembabatan rumput liar dan pembersihan sampah di lahan terbengkalai tersebut agar predator kehilangan tempat persembunyiannya.
-
Dinas Kesehatan: Memastikan ketersediaan Serum Anti-Bisa Ular (SABU) di setiap puskesmas di wilayah Lemahwungkuk agar pertolongan pertama bisa dilakukan lebih cepat tanpa harus menunggu rujukan ke rumah sakit besar.
Harapan untuk Masa Depan Cangkol Utara
Area CUDP seluas empat hektare tersebut sebenarnya memiliki potensi besar jika dikelola dengan benar, entah itu sebagai ruang terbuka hijau (RTH), lapangan olahraga, atau area ekonomi kreatif bagi warga pesisir. Mengembalikan fungsi lahan tersebut menjadi area publik yang bersih dan tertata adalah cara terbaik untuk mengusir predator liar secara permanen.
Warga Cangkol Utara tidak meminta hal yang muluk-muluk. Mereka hanya ingin kembali bisa beraktivitas dengan tenang, mencari nafkah tanpa harus bertaruh nyawa dengan patukan maut, dan melihat anak-anak mereka bermain di halaman tanpa rasa cemas. Kematian sang buruh pencari ikan ini harus menjadi korban terakhir. Jangan sampai ada lagi warga yang harus meregang nyawa karena lambatnya respon pemerintah dalam membenahi “hutan liar” di jantung kota mereka sendiri.
