Warga menyelamatkan diri saat Rusia menyerang ibu kota Ukraina, Kyiv. Ekspansi Rusia ke Ukraina jadi kewaspaan sendiri bagi warga dunia khususnya Eropa. Foto: AFP/ROMAN PILIPEY
Di tengah ketegangan geopolitik yang kian memanas, sejumlah negara Eropa kini mempercepat langkah untuk meningkatkan kesiapsiagaan sipil dalam menghadapi skenario terburuk: perang. Pemerintah berbagai negara mulai aktif mengimbau warganya agar siap secara mental dan logistik, mulai dari menyimpan bahan pokok, mengikuti pelatihan evakuasi massal, hingga memahami prosedur menghadapi ancaman militer.
Dorongan ini muncul di tengah kekhawatiran yang meningkat terhadap potensi ekspansi militer Rusia dan ketidakpastian terkait dukungan keamanan dari Amerika Serikat. Kekhawatiran tersebut mendorong Uni Eropa dan negara-negara anggota NATO untuk mengalihkan orientasi dari masa damai ke pola pikir “siaga perang.”
Mark Rutte, Sekretaris Jenderal NATO, bahkan telah menyuarakan peringatan keras dalam pertemuan keamanan akhir 2024 lalu, menegaskan bahwa kini adalah saatnya “berpikir dalam kerangka perang, bukan damai.”
Sebagai respons konkret, Komisi Eropa pada Maret 2025 merilis pedoman krisis bagi seluruh warga, termasuk imbauan agar setiap rumah tangga memiliki persediaan makanan dan air untuk minimal 72 jam. Selain itu, penting bagi masyarakat untuk membangun ketangguhan psikologis menghadapi kemungkinan bencana atau konflik.
Setiap negara mengambil langkah berbeda. Di Jerman, pemerintah memperbarui pedoman pertahanan nasional yang menguraikan berbagai perubahan dalam kehidupan sipil jika perang pecah. Swedia bahkan mencetak ulang dan membagikan panduan bertajuk “If Crisis or War Comes” kepada jutaan warganya, berisi petunjuk bertahan dari serangan udara hingga evakuasi nuklir.
Finlandia tampil sebagai salah satu negara dengan kesiapan tertinggi. Sejak 1950-an, setiap bangunan wajib memiliki tempat perlindungan bom. Pemerintah mereka juga baru-baru ini mengaudit lebih dari 50.000 bunker yang mampu melindungi 4,8 juta warga—angka yang mendekati keseluruhan populasi nasional. Panduan krisis terbaru juga telah diterbitkan, mencakup berbagai skenario dari pemadaman listrik besar-besaran hingga konflik militer skala penuh.
Namun, tantangan terbesar kini bukan hanya membangun sistem, tapi membangkitkan kesadaran masyarakat. Wakil Presiden German Marshall Fund untuk Urusan Transatlantik, Claudia Major, menekankan bahwa kesiapsiagaan bukan berarti menciptakan kepanikan, melainkan membentuk kewaspadaan. “Kami tidak ingin orang-orang panik, kami ingin mereka waspada,” katanya.
Ia menambahkan, peringatan ini tak selalu berkaitan dengan invasi langsung, tapi juga bentuk-bentuk agresi dalam “zona abu-abu”—seperti serangan siber atau perang hibrida. Negara-negara Baltik dan Finlandia sangat memahami risiko ini karena sejarah panjang mereka dengan dominasi Rusia, berbeda dengan negara seperti Italia atau Inggris, yang lebih fokus pada isu keamanan lain seperti terorisme.
Pelajaran penting dari negara-negara yang telah “melek ancaman” ini adalah bahwa sejarah tidak boleh diabaikan. Mereka tahu, dalam situasi darurat, tak ada jaminan bantuan akan datang tepat waktu—maka satu-satunya pilihan adalah siap sejak dini.
