Ilustrasi AI menulis cerita pendek. Penelitian terbaru menemukan karya AI sering memperoleh penilaian kualitas lebih tinggi dibanding tulisan manusia (foto/ist)
Buletinmedia.com – Anggapan bahwa tulisan manusia selalu lebih menarik dibandingkan karya buatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai mendapat tantangan dari sebuah penelitian terbaru. Studi tersebut menemukan bahwa cerita pendek yang dibuat menggunakan AI, khususnya ChatGPT, ternyata dapat memperoleh penilaian lebih tinggi dibandingkan cerita yang ditulis manusia.
Menariknya, hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh kuat dari anggapan pembaca mengenai siapa yang menulis cerita tersebut.
Ketika sebuah cerita buatan AI justru diperkenalkan kepada pembaca sebagai karya manusia, penilaiannya menjadi semakin tinggi. Dengan kata lain, pembaca ternyata tidak hanya menilai isi cerita, tetapi juga memberikan nilai berbeda berdasarkan siapa yang mereka yakini sebagai penulisnya.
Temuan tersebut menjadi menarik di tengah semakin luasnya penggunaan AI generatif untuk membuat berbagai jenis konten, termasuk cerita fiksi, artikel, puisi, hingga naskah kreatif.
Penelitian yang melibatkan 1.682 peserta tersebut mencoba melihat sejauh mana manusia dapat membedakan cerita yang ditulis oleh manusia dan cerita buatan ChatGPT. Hasilnya cukup mengejutkan karena banyak peserta kesulitan mengenali asal cerita ketika mereka tidak diberi informasi mengenai penulisnya.
Studi tersebut dilakukan oleh peneliti dari Villanova University dan melibatkan beberapa eksperimen untuk melihat hubungan antara kualitas tulisan, persepsi terhadap AI, serta anggapan mengenai kemampuan manusia dalam menghasilkan karya kreatif. Hasil penelitian dipublikasikan dalam jurnal Judgment and Decision Making.
Cerita AI Mendapat Penilaian Tinggi
Penelitian ini berangkat dari pertanyaan sederhana tetapi cukup penting di era AI generatif.
Apakah pembaca benar-benar bisa mengetahui perbedaan antara cerita yang dibuat manusia dan cerita yang dihasilkan AI?
Jika bisa, apakah mereka akan lebih menyukai cerita buatan manusia?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, para peneliti membuat serangkaian eksperimen.
Pada eksperimen pertama, peserta diminta membaca sebuah cerita pendek. Sebagian peserta diberi tahu bahwa cerita yang mereka baca dibuat oleh manusia, sedangkan peserta lainnya diberi informasi bahwa cerita tersebut dibuat menggunakan ChatGPT.
Setelah membaca, mereka diminta memberikan penilaian terhadap kualitas dan seberapa menarik atau menyerap perhatian cerita tersebut.
Hasilnya menunjukkan pola yang menarik.
Cerita yang sebenarnya dibuat oleh ChatGPT memperoleh penilaian yang lebih tinggi dibandingkan cerita yang benar-benar ditulis manusia dalam kondisi penelitian tersebut.
Namun, terdapat satu hal yang membuat hasilnya semakin menarik.
Ketika cerita AI diberi label sebagai tulisan manusia, nilainya justru menjadi lebih tinggi.
Artinya, persepsi mengenai penulis ternyata ikut memengaruhi bagaimana pembaca menilai sebuah cerita.
Temuan ini menunjukkan bahwa penilaian terhadap karya kreatif tidak sepenuhnya ditentukan oleh isi karya itu sendiri. Informasi mengenai siapa yang membuatnya juga dapat memengaruhi cara seseorang menikmati dan mengevaluasi karya tersebut.
Pembaca Sulit Membedakan Cerita AI dan Manusia
Peneliti kemudian melakukan eksperimen lanjutan untuk melihat apakah peserta benar-benar mampu mengenali tulisan AI.
Dalam eksperimen kedua dan ketiga, peserta membaca dua cerita.
Satu cerita dibuat manusia dan satu lainnya dibuat menggunakan ChatGPT.
Namun, peserta tidak diberi tahu cerita mana yang berasal dari manusia dan mana yang dibuat oleh AI.
Mereka kemudian diminta menebak asal masing-masing cerita.
Hasilnya menunjukkan bahwa kemampuan peserta untuk membedakan kedua jenis tulisan tersebut tidak jauh lebih baik daripada tebakan acak.
Secara keseluruhan, dua eksperimen tersebut melibatkan 905 peserta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta tidak dapat membedakan cerita buatan manusia dan AI secara konsisten.
Dalam eksperimen kedua, lebih dari 60 persen peserta tidak berhasil mengidentifikasi cerita AI dengan benar.
Pada eksperimen ketiga, hampir setengah peserta juga gagal mengenali cerita yang dibuat oleh ChatGPT.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa kemampuan AI menghasilkan cerita yang terasa seperti tulisan manusia sudah cukup berkembang.
Bagi pembaca umum, perbedaan antara keduanya ternyata tidak selalu mudah dikenali hanya dengan membaca hasil akhirnya.
AI Tidak Selalu Terlihat Seperti Tulisan Mesin
Selama beberapa tahun terakhir, banyak orang menganggap tulisan AI mudah dikenali.
Kalimat yang terlalu rapi, struktur yang terlalu teratur, penggunaan kata tertentu, atau gaya bahasa yang terasa generik sering dianggap sebagai tanda sebuah teks dibuat oleh AI.
Namun, penelitian terbaru ini menunjukkan bahwa anggapan tersebut tidak selalu benar.
Cerita yang dihasilkan ChatGPT dalam penelitian dapat diterima pembaca sebagai karya manusia.
Bahkan, ketika pembaca tidak mengetahui bahwa cerita tersebut dibuat AI, mereka memberikan penilaian yang relatif tinggi.
Temuan ini menjadi penting karena kemampuan AI generatif berkembang sangat cepat.
Model bahasa modern dapat membuat karakter, dialog, konflik, latar, dan alur cerita berdasarkan instruksi yang diberikan pengguna.
Dalam waktu singkat, sebuah cerita yang memiliki struktur lengkap dapat dihasilkan.
Meski demikian, bukan berarti AI telah menggantikan seluruh kemampuan kreatif manusia.
Penelitian tersebut lebih tepat menunjukkan bahwa AI sudah mampu menghasilkan cerita pendek yang bagi banyak pembaca dapat terasa setara atau bahkan lebih menarik dibandingkan cerita manusia dalam kondisi eksperimen tertentu.
Mengapa Cerita AI Bisa Lebih Disukai?
Salah satu pertanyaan penting dari penelitian tersebut adalah alasan mengapa cerita AI mendapatkan penilaian tinggi.
Peneliti senior studi, Deena Skolnick Weisberg dari Villanova University, menduga salah satu faktor yang berperan adalah gaya bahasa yang digunakan AI.
Cerita yang dibuat AI cenderung lebih langsung, jelas, dan mudah dipahami.
Kalimatnya relatif sederhana dan alurnya dapat diikuti dengan mudah.
Bagi sebagian pembaca, gaya seperti itu justru terasa menyenangkan.
Pembaca tidak perlu terlalu banyak menebak maksud penulis atau mencari makna tersembunyi di balik sebuah adegan.
Cerita langsung membawa pembaca dari satu bagian ke bagian berikutnya.
Sebaliknya, tulisan manusia dapat memiliki gaya yang lebih kompleks.
Penulis manusia mungkin sengaja menyimpan informasi tertentu, menggunakan simbol, metafora, perumpamaan, atau membuat alur yang tidak langsung.
Cara tersebut dapat memberikan pengalaman membaca yang lebih dalam, tetapi pada saat yang sama membutuhkan usaha lebih besar dari pembaca.
Perbedaan tersebut dapat menjadi salah satu alasan mengapa cerita AI memperoleh nilai tinggi dalam penelitian.
Cerita AI Cenderung Lebih Sederhana
Dalam cerita yang digunakan dalam penelitian, teks yang dihasilkan AI secara umum memiliki beberapa karakteristik tertentu.
Kalimatnya cenderung lebih sederhana.
Paragrafnya juga lebih pendek.
Penggunaan anekdot, perumpamaan, dan metafora relatif lebih sedikit.
Bagi sebagian pembaca, karakteristik tersebut justru membuat cerita lebih mudah dicerna.
Pembaca dapat memahami alur tanpa harus berhenti terlalu lama untuk menafsirkan sebuah kalimat.
Kondisi tersebut tidak otomatis berarti tulisan yang sederhana selalu lebih baik.
Dalam dunia sastra, kompleksitas juga dapat menjadi bagian dari daya tarik.
Novel, cerpen, atau puisi yang penuh simbol dan lapisan makna sering kali memang dibuat agar pembaca tidak langsung mendapatkan semua jawabannya.
Pembaca diberi ruang untuk menafsirkan sendiri.
Karena itu, hasil penelitian sebaiknya tidak diterjemahkan sebagai kesimpulan bahwa AI memiliki kemampuan sastra yang lebih tinggi daripada manusia.
Penelitian tersebut justru menunjukkan bahwa gaya yang mudah dipahami dapat memberikan keuntungan ketika pembaca diminta menilai cerita dalam waktu dan konteks tertentu.
Ada Pengaruh dari Label “Ditulis Manusia”
Salah satu bagian paling menarik dari penelitian ini adalah pengaruh label kepengarangan.
Peserta cenderung memberikan penilaian lebih tinggi kepada cerita ketika mereka percaya bahwa karya tersebut ditulis manusia.
Masalahnya, informasi tersebut tidak selalu benar.
Dalam eksperimen, peneliti sengaja memberikan informasi yang keliru kepada sebagian peserta.
Cerita yang sebenarnya dibuat AI diberi label sebagai karya manusia.
Hasilnya, cerita tersebut justru memperoleh penilaian paling tinggi.
Fenomena ini menunjukkan bahwa pembaca memiliki kecenderungan tertentu terhadap karya yang diyakini dibuat manusia.
Ada semacam nilai tambahan yang muncul ketika pembaca percaya bahwa sebuah cerita lahir dari kreativitas manusia.
Hal tersebut mungkin berkaitan dengan keyakinan bahwa karya kreatif membutuhkan pengalaman hidup, emosi, imajinasi, dan pemahaman manusia terhadap dunia.
Manusia Masih Menghargai Kreativitas Manusia
Menurut Weisberg, salah satu alasan manusia memberikan nilai lebih kepada karya yang diyakini dibuat manusia adalah anggapan bahwa kreativitas merupakan kemampuan yang sangat khas manusia.
Menulis cerita biasanya dianggap membutuhkan pengalaman.
Seorang penulis mungkin mengambil inspirasi dari hubungan dengan keluarga, kehilangan seseorang, perjalanan hidup, lingkungan sosial, hingga pengalaman emosional.
Karena itu, pembaca dapat menganggap sebuah cerita memiliki nilai tambahan ketika mereka mengetahui atau meyakini bahwa cerita tersebut berasal dari pengalaman dan proses kreatif manusia.
Sementara itu, AI tidak menjalani kehidupan seperti manusia.
AI tidak mengalami kehilangan, jatuh cinta, tumbuh dalam keluarga, bepergian, bekerja, atau menghadapi persoalan kehidupan secara langsung.
Namun, sistem AI dapat mempelajari pola bahasa dari jumlah teks yang sangat besar dan menghasilkan tulisan berdasarkan pola tersebut.
Di sinilah muncul perdebatan baru.
Jika pembaca menikmati cerita yang dibuat AI, apakah pengalaman membaca tersebut menjadi kurang bernilai karena penulisnya bukan manusia?
Penelitian tersebut tidak memberikan jawaban sederhana untuk pertanyaan tersebut.
AI Belajar dari Tulisan Manusia
Salah satu hal penting yang perlu dipahami adalah cara kerja model AI generatif.
Sistem seperti ChatGPT dikembangkan menggunakan berbagai data dan pola bahasa untuk mempelajari bagaimana manusia berkomunikasi dan menghasilkan teks.
Karena itu, gaya penulisan AI tidak muncul begitu saja.
AI belajar dari pola yang sudah ada dalam berbagai bentuk tulisan manusia.
Ketika AI menghasilkan sebuah cerita yang dianggap menarik, cerita tersebut pada dasarnya menggunakan kemampuan model dalam mengenali pola bahasa, struktur narasi, serta hubungan antarkata dan konsep.
Hal ini dapat menjelaskan mengapa tulisan AI sering terasa familiar bagi pembaca.
AI mampu menghasilkan bentuk cerita yang mengikuti pola yang sudah umum dan mudah diterima.
Dengan kata lain, kemampuan AI dalam menghasilkan cerita tidak terlepas dari sejarah panjang manusia dalam menciptakan dan mengonsumsi berbagai jenis cerita.
Cerita yang Mudah Dipahami Bisa Lebih Menarik
Pembaca tidak selalu mencari cerita yang paling kompleks.
Dalam banyak situasi, orang ingin menikmati cerita yang mudah dipahami.
Mereka ingin mengetahui apa yang terjadi, memahami karakter, dan mengikuti konflik tanpa harus menghabiskan terlalu banyak energi untuk menafsirkan setiap bagian.
Di sinilah gaya tulisan AI dapat memiliki keunggulan tertentu.
Cerita yang terstruktur dengan jelas dapat memberikan pengalaman membaca yang lebih cepat.
Tokoh diperkenalkan dengan jelas.
Konflik dijelaskan.
Masalah muncul.
Kemudian cerita bergerak menuju penyelesaian.
Pola tersebut sangat umum dalam cerita populer.
AI dapat dengan mudah menghasilkan struktur seperti itu karena sistemnya mengenali pola narasi yang sering digunakan dalam berbagai tulisan.
Namun, pola yang sama juga menjadi salah satu kritik terhadap tulisan AI.
Jika terlalu sering digunakan, tulisan AI dapat terasa formulaik atau mudah ditebak.
Apakah Ini Berarti Penulis Manusia Akan Tergantikan?
Tidak sesederhana itu.
Hasil penelitian tidak menyatakan bahwa manusia tidak lagi dibutuhkan sebagai penulis.
Sebaliknya, Weisberg sendiri menekankan bahwa kemampuan AI menghasilkan cerita tidak menghilangkan nilai kreativitas manusia.
Manusia menulis bukan hanya untuk menghasilkan teks.
Menulis juga menjadi cara untuk mengekspresikan diri, mengolah pengalaman, menyampaikan gagasan, menyimpan kenangan, atau memahami sesuatu yang terjadi dalam kehidupan.
AI dapat menghasilkan cerita tentang kesedihan.
Namun, AI tidak mengalami kesedihan seperti manusia.
AI dapat menulis tentang kehilangan.
Namun, pengalaman kehilangan yang dimiliki manusia memiliki konteks kehidupan yang nyata.
Perbedaan tersebut tetap penting ketika membicarakan nilai sebuah karya.
Karena itu, kemungkinan besar perkembangan AI justru akan membuat batas antara alat bantu dan pencipta menjadi semakin kompleks.
AI Bisa Menjadi Alat Bantu Penulis
Perdebatan mengenai AI tidak harus selalu berakhir pada pertanyaan apakah manusia atau mesin yang lebih baik.
Ada kemungkinan bahwa keduanya akan digunakan bersama.
Penulis dapat menggunakan AI untuk mencari ide cerita, membuat variasi alur, mengembangkan karakter, atau menemukan alternatif dialog.
Setelah itu, penulis tetap melakukan penyuntingan dan memberikan sentuhan pribadi.
Model seperti ini memungkinkan manusia tetap memegang kendali atas karya, sementara AI digunakan sebagai alat bantu.
Dalam dunia kreatif, teknologi baru memang sering kali pada awalnya dianggap sebagai ancaman.
Namun, seiring waktu, teknologi dapat berubah menjadi alat.
Kamera tidak menghilangkan seni lukis.
Fotografi tidak menghilangkan seni.
Komputer tidak menghilangkan penulis.
Demikian pula, AI belum tentu menghilangkan kreativitas manusia.
Namun, teknologi ini memang mengubah cara karya dibuat, dinilai, dan dikonsumsi.
Studi Sebelumnya Juga Menemukan Fenomena Serupa
Penelitian terbaru tersebut bukan satu-satunya studi yang membahas bagaimana manusia menilai karya buatan AI.
Studi sebelumnya juga menemukan adanya kecenderungan manusia memberikan penilaian berbeda terhadap karya berdasarkan siapa yang diyakini sebagai pembuatnya.
Salah satu penelitian yang diterbitkan pada 2023 membandingkan karya yang diberi label sebagai buatan manusia dan buatan AI.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa label “dibuat manusia” dapat meningkatkan penilaian positif terhadap karya dalam sejumlah aspek.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa persepsi mengenai asal-usul karya dapat memengaruhi penilaian.
Artinya, ketika seseorang melihat sebuah karya, mereka tidak selalu menilainya hanya berdasarkan apa yang terlihat atau terbaca.
Informasi tambahan mengenai penciptanya juga dapat memengaruhi penilaian.
Pengalaman Menggunakan AI Juga Berpengaruh
Penelitian terbaru menemukan satu hal lain yang menarik.
Peserta yang mengaku memiliki pengalaman lebih banyak menggunakan AI cenderung lebih mampu mengenali cerita yang dibuat oleh AI.
Temuan ini menunjukkan bahwa kemampuan mengenali tulisan AI mungkin bukan sesuatu yang sepenuhnya mustahil dipelajari.
Semakin sering seseorang berinteraksi dengan AI, semakin familiar mereka dengan pola tertentu.
Namun, kemampuan tersebut tetap tidak berarti seseorang dapat selalu mengenali tulisan AI dengan akurat.
Model AI terus berkembang.
Gaya penulisan juga dapat berubah tergantung pada model, instruksi pengguna, proses penyuntingan, dan cara teks tersebut dibuat.
Sebuah tulisan yang awalnya dibuat AI juga dapat diedit manusia sehingga semakin sulit dibedakan.
Bukan Berarti Pembaca Memiliki Selera Buruk
Hasil penelitian tersebut juga tidak tepat jika diterjemahkan sebagai bukti bahwa pembaca memiliki selera buruk.
Pembaca hanya memberikan respons terhadap apa yang mereka baca.
Jika sebuah cerita mudah dipahami, memiliki konflik yang menarik, dan dapat membuat pembaca terus mengikuti alurnya, wajar jika cerita tersebut mendapatkan nilai tinggi.
Justru penelitian ini menunjukkan bahwa definisi mengenai “tulisan bagus” dapat sangat subjektif.
Ada pembaca yang menyukai gaya sederhana.
Ada yang menyukai cerita penuh simbol.
Ada yang menyukai alur cepat.
Ada pula yang lebih menikmati cerita dengan karakter kompleks dan akhir terbuka.
Karena itu, satu penelitian tidak dapat digunakan untuk menentukan secara mutlak mana yang lebih baik antara tulisan manusia dan AI.
Dampaknya bagi Dunia Penerbitan
Hasil penelitian ini juga berpotensi memunculkan pertanyaan baru dalam industri penerbitan.
Jika pembaca kesulitan membedakan tulisan manusia dan AI, bagaimana penerbit menentukan standar kepengarangan?
Bagaimana pembaca mengetahui apakah sebuah buku benar-benar ditulis manusia?
Apakah penggunaan AI untuk membantu penyuntingan perlu diberi label?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut semakin relevan karena AI mulai digunakan dalam berbagai tahap produksi konten.
Penerbit, penulis, editor, dan platform digital harus menghadapi persoalan baru mengenai transparansi.
Di sisi lain, pembaca juga perlu semakin kritis.
Mengetahui bahwa sebuah karya dibuat dengan bantuan AI tidak otomatis membuat karya tersebut buruk.
Sebaliknya, sebuah karya yang ditulis manusia juga tidak otomatis berkualitas tinggi.
Kualitas tetap perlu dinilai berdasarkan karya itu sendiri.
AI Mungkin Mengubah Selera Pembaca
Perkembangan AI juga dapat memengaruhi selera pembaca dalam jangka panjang.
Jika masyarakat semakin sering mengonsumsi cerita yang sederhana, langsung, dan mudah dipahami, gaya tersebut bisa menjadi semakin populer.
Namun, ada kekhawatiran bahwa penggunaan pola yang terlalu seragam dapat membuat karya kreatif kehilangan keberagaman.
Jika banyak sistem AI menghasilkan cerita berdasarkan pola yang sama, cerita yang muncul berpotensi memiliki kemiripan.
Karena itu, tantangan ke depan bukan hanya membuat AI semakin pintar menulis.
Tantangannya adalah memastikan kreativitas tetap memiliki ruang untuk berkembang.
Manusia memiliki kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang tidak selalu mengikuti pola yang sudah ada.
Kemampuan tersebut tetap menjadi salah satu aspek penting dalam dunia kreatif.
Apa yang Sebenarnya Diungkap Studi Ini?
Jika dirangkum, penelitian tersebut tidak mengatakan bahwa AI telah mengalahkan manusia dalam dunia sastra.
Ada beberapa poin penting yang justru lebih menarik.
Pertama, cerita pendek buatan ChatGPT dapat memperoleh penilaian tinggi dari pembaca.
Kedua, pembaca dapat memberikan nilai lebih tinggi ketika mereka percaya cerita tersebut dibuat manusia.
Ketiga, banyak pembaca kesulitan membedakan cerita AI dan manusia ketika tidak diberi informasi mengenai asalnya.
Keempat, pengalaman menggunakan AI tampaknya membantu sebagian orang mengenali tulisan AI dengan lebih baik.
Kelima, gaya tulisan AI yang sederhana dan langsung diduga menjadi salah satu alasan cerita tersebut mudah diterima pembaca.
Temuan tersebut membuat perdebatan mengenai AI dan kreativitas menjadi semakin menarik.
Masa Depan Penulisan di Era AI
AI sudah masuk ke dunia penulisan dan tampaknya sulit untuk kembali ke kondisi sebelum teknologi tersebut tersedia.
Pertanyaan yang lebih penting sekarang bukan lagi apakah AI akan digunakan untuk menulis.
Pertanyaannya adalah bagaimana manusia akan menggunakan teknologi tersebut.
Penulis dapat memilih untuk tidak menggunakan AI sama sekali.
Sebagian lainnya mungkin menggunakan AI hanya untuk mencari ide.
Ada pula yang menggunakannya untuk membuat draf awal sebelum melakukan penulisan ulang secara menyeluruh.
Model penggunaan tersebut akan terus berkembang.
Pada akhirnya, pembaca mungkin tidak hanya akan bertanya, “Apakah cerita ini bagus?”
Mereka juga mungkin bertanya, “Siapa yang membuatnya?”, “Bagaimana proses pembuatannya?”, dan “Seberapa besar peran manusia dalam karya tersebut?”
Pertanyaan tersebut akan semakin penting ketika AI mampu menghasilkan tulisan yang semakin sulit dibedakan dari karya manusia.
Tulisan Manusia Tetap Memiliki Nilai
Terlepas dari kemampuan AI, tulisan manusia tetap memiliki nilai yang tidak hanya terletak pada hasil akhirnya.
Ada proses di balik sebuah karya.
Seorang penulis dapat menghabiskan bertahun-tahun membangun pengalaman, membaca, mengamati kehidupan, kemudian menuangkannya ke dalam tulisan.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari identitas karya.
AI dapat meniru pola bahasa manusia dengan sangat baik.
Namun, nilai sebuah karya tidak selalu hanya ditentukan oleh seberapa bagus kalimatnya.
Ada konteks, pengalaman, niat, dan hubungan antara pencipta dengan pembaca.
Karena itu, perkembangan AI tidak harus dipandang sebagai akhir dari tulisan manusia.
Justru, teknologi tersebut dapat menjadi tantangan bagi manusia untuk semakin memahami apa yang membuat sebuah karya benar-benar terasa berbeda.
Kesimpulan
Studi terbaru mengenai cerita buatan AI dan tulisan manusia memberikan hasil yang cukup mengejutkan.
Dalam penelitian yang melibatkan 1.682 peserta, cerita yang dibuat menggunakan ChatGPT memperoleh penilaian tinggi dan dalam kondisi tertentu dinilai lebih menarik serta berkualitas dibandingkan cerita manusia. Ketika peserta diberi tahu bahwa sebuah cerita ditulis manusia, penilaian terhadap cerita tersebut juga cenderung meningkat, bahkan ketika informasi tersebut sebenarnya keliru.
Eksperimen lanjutan juga menunjukkan bahwa pembaca tidak selalu mampu membedakan cerita buatan AI dan manusia.
Namun, hasil tersebut tidak berarti AI sudah menggantikan manusia sebagai penulis.
Penelitian tersebut justru menunjukkan bahwa persepsi pembaca, gaya penulisan, dan anggapan mengenai siapa pencipta sebuah karya dapat memengaruhi penilaian terhadap cerita.
AI mungkin unggul dalam menghasilkan tulisan yang terstruktur, jelas, dan mudah dipahami. Sementara manusia memiliki pengalaman hidup, emosi, perspektif, serta dorongan kreatif yang menjadi bagian dari proses penciptaan karya.
Keduanya memiliki karakter berbeda.
Di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat, mungkin bukan soal menentukan siapa yang lebih unggul antara AI dan manusia. Yang jauh lebih menarik adalah melihat bagaimana keduanya akan berdampingan dalam dunia penulisan.
Satu hal yang sudah terlihat jelas, kemampuan AI menghasilkan cerita telah berkembang cukup jauh hingga membuat banyak pembaca kesulitan mengetahui siapa sebenarnya yang berada di balik sebuah tulisan.
Dan ketika sebuah cerita buatan AI bisa mendapatkan nilai tertinggi justru saat pembaca mengira karya itu ditulis manusia, penelitian ini sekaligus menunjukkan bahwa cara kita memandang sebuah karya ternyata sama pentingnya dengan isi karya itu sendiri.
Sumber : www.voi.id
