Sebuah Mobil Pickup Tertabrak Kereta di Perlintasan Tanpa Palang Pintu (Foto : Darfan)
CIREBON, Buletinmedia.com – Kecelakaan maut kembali terjadi di perlintasan sebidang tanpa palang pintu di wilayah Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Sebuah mobil bak terbuka yang mengangkut bulu ayam tertabrak kereta api hingga terseret ratusan meter. Peristiwa tragis ini menyebabkan dua orang meninggal dunia di lokasi kejadian.
Insiden nahas tersebut terjadi pada Rabu siang di Desa Citemu, Kecamatan Mundu. Kendaraan pick-up yang dikemudikan Jahudin, warga Losari, Kabupaten Brebes, bertabrakan dengan kereta api Tawang Jaya Premium yang melaju dari arah Jakarta menuju Semarang.
Benturan keras tak terhindarkan saat kendaraan melintas di perlintasan tanpa palang pintu. Akibatnya, mobil ringsek parah dan terseret sejauh kurang lebih 800 meter dari titik tabrakan. Dua orang di dalam kendaraan, yakni pengemudi dan satu penumpang bernama Sigit, tewas seketika dengan luka serius di bagian kepala dan tubuh.
Peristiwa ini sontak mengundang perhatian warga sekitar. Sejumlah saksi mata menyebutkan bahwa tabrakan terjadi begitu cepat, tanpa sempat dihindari oleh pengemudi kendaraan.
Berdasarkan keterangan pihak kepolisian, kecelakaan bermula saat mobil datang dari arah perkampungan menuju jalur Pantura. Saat melintasi perlintasan rel, kendaraan diduga tidak memperhatikan kondisi sekitar, termasuk keberadaan kereta yang tengah melaju dengan kecepatan tinggi.
Kasatlantas Polres Cirebon Kota, AKP Ridwan Sandi Maulana, menjelaskan bahwa faktor kelalaian pengemudi menjadi dugaan utama dalam kecelakaan tersebut.
“Mobil pick-up yang melaju dari selatan ke utara melintasi perlintasan tanpa palang pintu diduga kurang berhati-hati. Kendaraan tetap melintas saat kereta api melaju cepat sehingga tabrakan tidak dapat dihindari,” ujarnya.
Usai kejadian, petugas gabungan langsung melakukan evakuasi terhadap kedua korban. Jenazah korban kemudian dibawa ke kamar jenazah RSUD Gunung Jati untuk dilakukan visum.
Selain menimbulkan korban jiwa, kecelakaan ini juga berdampak pada operasional kereta api. Lokomotif kereta Tawang Jaya Premium mengalami kerusakan cukup parah di bagian depan akibat benturan keras dengan kendaraan.
Kereta sempat berhenti di lokasi kejadian selama hampir satu jam untuk proses pemeriksaan dan penanganan awal. Pihak PT KAI kemudian mengganti lokomotif agar perjalanan dapat kembali dilanjutkan.
Manager Humas Daop 3 Cirebon, Muhibbuddin, menyampaikan bahwa insiden tersebut menyebabkan gangguan perjalanan kereta api, meski tidak berlangsung lama.
“Akibat tabrakan tersebut, lokomotif mengalami kerusakan di bagian depan dan sempat berhenti sekitar satu jam. Perjalanan kereta mengalami keterlambatan sekitar 17 menit sebelum akhirnya kembali berjalan dengan lokomotif pengganti,” jelasnya.
Sementara itu, suasana haru menyelimuti lokasi kejadian ketika keluarga korban datang. Tangis histeris pecah saat mereka melihat kondisi korban yang sudah tidak bernyawa. Bahkan, beberapa anggota keluarga dilaporkan sempat pingsan karena tidak kuat menahan duka.
Petugas kepolisian bersama pihak PT KAI Daop 3 Cirebon juga melakukan evakuasi bangkai kendaraan yang hancur di tengah rel. Proses evakuasi berlangsung cukup hati-hati untuk memastikan jalur rel kembali aman dilalui kereta api.
Peristiwa ini kembali menjadi pengingat akan tingginya risiko kecelakaan di perlintasan tanpa palang pintu. Minimnya fasilitas keselamatan serta kurangnya kewaspadaan pengguna jalan kerap menjadi faktor utama terjadinya insiden serupa.
PT KAI pun mengimbau masyarakat agar selalu berhati-hati saat melintasi perlintasan sebidang, terutama yang tidak dilengkapi dengan palang pintu atau penjaga.
Pengguna jalan diminta untuk berhenti sejenak, melihat ke kiri dan kanan, serta memastikan tidak ada kereta yang melintas sebelum menyeberang. Kesadaran dan kedisiplinan menjadi kunci utama untuk mencegah kecelakaan.
Selain itu, pemerintah daerah diharapkan dapat meningkatkan pengawasan serta melengkapi fasilitas keselamatan di perlintasan rawan kecelakaan. Pemasangan rambu peringatan, lampu sinyal, hingga palang pintu menjadi langkah penting untuk meminimalkan risiko di masa mendatang.
Kecelakaan di Desa Citemu ini menambah daftar panjang insiden di perlintasan sebidang yang merenggut korban jiwa. Diperlukan sinergi antara pemerintah, operator transportasi, dan masyarakat agar kejadian serupa tidak terus berulang.
Keselamatan di jalan dan rel kereta bukan hanya tanggung jawab satu pihak, melainkan tanggung jawab bersama. Dengan meningkatkan kewaspadaan dan kepatuhan terhadap aturan, diharapkan angka kecelakaan dapat ditekan dan keselamatan pengguna jalan lebih terjamin.
