sumber foto : instagram/mahaliniraharja
Setelah lebih dari satu tahun memilih untuk tak lagi wara-wiri di panggung hiburan, penyanyi Mahalini Raharja kini akhirnya mengungkap alasan di balik keputusannya. Di tengah masa keemasan kariernya, pelantun Sisa Rasa itu memutuskan untuk mundur sejenak dari gemerlap sorotan publik karena tengah mengandung buah hatinya dengan Rizky Febian.
Langkah ini tentu bukan perkara mudah. Popularitas Mahalini saat itu sedang melesat—konser penuh, undangan tampil tak berhenti, dan lagu-lagunya terus mendominasi tangga musik digital. Namun, di balik hingar bingar itu, ia memilih jalan sunyi: menjadi ibu dan menenangkan diri dari dunia yang membesarkannya.
Rizky Febian, sang suami, tak mampu menahan haru saat menceritakan pengorbanan istrinya. Ditemui di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (9/10/2025), Iky mengaku menjadi saksi pertama dari seluruh perjalanan panjang Mahalini.
“Saya adalah orang pertama yang tahu seluruh prosesnya. Saya ingin berterima kasih sama istri saya karena dia rela mengorbankan apapun demi melahirkan Selina, bahkan meninggalkan kariernya di puncak popularitas,” ujar Rizky dengan mata berkaca-kaca.
Di balik keputusan itu, Rizky mengisahkan momen-momen menyayat hati yang terjadi di rumah. Ia kerap mendapati Mahalini duduk sendiri di kamar, menatap layar ponsel sambil menonton video lamanya ketika berada di atas panggung—video yang kini hanya bisa menjadi pengobat rindu.
“Dia sering nangis diam-diam. Sambil nonton video dia manggung, terus bilang, ‘Sayang, kira-kira kapan aku bisa kayak gini lagi?’” cerita Rizky.
Sebagai suami, Rizky tak bisa banyak berbuat selain memberikan pelukan dan keyakinan bahwa semua akan tiba pada waktunya—bahwa rezeki dari Tuhan tak akan pernah salah tempat.
Meski tengah rehat, semangat musikal Mahalini tak padam. Rizky mengaku sudah mendengarkan seluruh lagu dalam album Koma, dan ia kagum dengan kedalaman makna yang tersimpan di setiap baitnya.
“Bahkan saya yang sudah beberapa tahun di dunia musik masih banyak belajar dari Mahalini. Dari konsistensi, dari caranya menjaga kualitas karya—semuanya luar biasa,” kata Iky bangga.
Ia juga menyadari betapa berat keputusan sang istri untuk menunda mimpi besarnya. Mahalini, yang dikenal perfeksionis dan berjiwa panggung tinggi, harus belajar untuk meletakkan egonya dan menomorsatukan keluarga di atas karier.
Kini, di balik masa vakumnya, Mahalini justru menunjukkan sisi paling tulus dari seorang seniman: mencipta bukan semata untuk didengar, tapi untuk dihidupi.
