Steven Wongso tuai kecaman. (Tangkap layar TikTok @stevenwongso_)
Buletinmedia.com – Konten kreator Steven Wongso tengah menjadi sorotan publik setelah video yang diunggahnya memicu kontroversi di media sosial. Video tersebut dengan cepat menyebar dan memancing berbagai reaksi dari warganet, mulai dari kritik keras hingga seruan agar kreator lebih berhati-hati dalam menyampaikan pesan.
Kontroversi ini bermula dari pernyataan Steven dalam salah satu kontennya yang dianggap menyinggung orang dengan berat badan berlebih. Ucapannya dinilai tidak sensitif dan berpotensi melukai perasaan banyak orang, terutama mereka yang memiliki pengalaman terkait isu berat badan atau body image.
Dalam video tersebut, Steven menyampaikan kalimat yang kemudian menjadi viral dan menuai kecaman. Banyak pihak menilai pernyataan tersebut tidak hanya kasar, tetapi juga berpotensi memperkuat stigma negatif terhadap individu dengan tubuh gemuk. Dalam konteks sosial saat ini, isu body shaming memang menjadi perhatian serius karena dampaknya yang tidak bisa dianggap sepele.
Reaksi publik pun bermunculan dengan cepat. Di berbagai platform media sosial, warganet menyampaikan kekecewaan mereka terhadap konten tersebut. Tidak sedikit yang menilai bahwa sebagai seorang figur publik, Steven seharusnya mampu memberikan contoh yang lebih baik, terutama dalam hal komunikasi yang berempati.
Sebagian warganet juga menyoroti bahwa konten tersebut tidak memiliki nilai edukatif. Alih-alih memberikan motivasi atau dorongan untuk hidup sehat, pernyataan yang disampaikan justru dianggap menjatuhkan dan mempermalukan kelompok tertentu. Hal ini dinilai bertentangan dengan semangat positif yang seharusnya dibangun di ruang digital.
Isu body shaming sendiri bukanlah hal baru. Dalam beberapa tahun terakhir, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menghargai perbedaan bentuk tubuh semakin meningkat. Kampanye tentang penerimaan diri dan kesehatan mental juga semakin banyak digaungkan, baik oleh aktivis maupun profesional di bidang kesehatan.
Karena itu, pernyataan yang mengarah pada penghinaan terhadap kondisi fisik seseorang kerap mendapat respons negatif. Banyak orang kini lebih peka terhadap dampak psikologis dari kata-kata yang merendahkan, termasuk di media sosial yang jangkauannya sangat luas.
Menariknya, setelah video tersebut menuai kritik, Steven kembali mengunggah konten lanjutan. Dalam video berikutnya, ia mengaku sedang mengalami kenaikan berat badan dan menyebut dirinya juga sedang dalam kondisi yang ia kritik sebelumnya. Ia kemudian mengaitkan kondisi tersebut dengan upaya diet yang sedang dijalaninya.
Namun, alih-alih meredam situasi, pernyataan lanjutan tersebut justru kembali memicu perdebatan. Sebagian warganet menilai bahwa penjelasan tersebut tidak cukup untuk menghapus kesan negatif dari pernyataan sebelumnya. Bahkan, ada yang menganggap bahwa cara penyampaiannya masih kurang tepat dan berpotensi menimbulkan salah paham.
Di sisi lain, ada pula yang mencoba melihat situasi ini sebagai bentuk refleksi diri. Beberapa warganet berpendapat bahwa pengalaman pribadi bisa menjadi pelajaran, asalkan disampaikan dengan cara yang lebih bijak dan tidak merugikan orang lain.
Fenomena ini kembali mengingatkan bahwa konten di media sosial memiliki dampak yang besar. Apa yang diucapkan oleh seorang kreator bisa dengan cepat menyebar dan memengaruhi banyak orang. Oleh karena itu, penting bagi setiap pembuat konten untuk mempertimbangkan dampak dari setiap pernyataan yang disampaikan.
Selain itu, kasus ini juga membuka diskusi lebih luas tentang etika dalam membuat konten digital. Kreativitas memang penting, tetapi harus tetap diimbangi dengan tanggung jawab sosial. Konten yang menarik perhatian tidak selalu harus bersifat kontroversial, apalagi jika berpotensi melukai pihak lain.
Dalam dunia digital yang semakin terbuka, publik kini memiliki peran aktif dalam mengawasi dan memberikan respons terhadap konten yang beredar. Kritik dari warganet bisa menjadi bentuk kontrol sosial agar ruang digital tetap sehat dan inklusif.
Di sisi lain, bagi kreator, kritik tersebut bisa menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki diri. Tidak sedikit kreator yang justru berkembang setelah belajar dari kesalahan dan lebih berhati-hati dalam menyampaikan pesan.
Ke depan, diharapkan kasus seperti ini bisa menjadi pembelajaran bersama. Baik bagi kreator maupun pengguna media sosial, penting untuk membangun budaya komunikasi yang lebih sehat, saling menghargai, dan tidak merendahkan pihak lain.
Pada akhirnya, media sosial seharusnya menjadi ruang untuk berbagi hal positif, inspiratif, dan membangun. Dengan pendekatan yang lebih bijak, setiap konten tidak hanya bisa menghibur, tetapi juga memberikan dampak baik bagi banyak orang.
Sumber : www.grid.id
