Ilustrasi buah Carica. thefruitforest.com
Buletinmedia.com – Carica menjadi salah satu kuliner khas yang tidak boleh dilewatkan ketika berkunjung ke Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah. Buah yang sekilas memiliki bentuk menyerupai pepaya ini dikenal sebagai salah satu komoditas lokal yang memiliki daya tarik tersendiri. Tidak hanya unik dari segi bentuk, carica juga memiliki cita rasa khas yang membuatnya banyak diburu wisatawan.
Bagi wisatawan yang datang ke kawasan Dieng, carica biasanya menjadi salah satu rekomendasi oleh-oleh. Namun, buah ini relatif jarang ditemukan dalam kondisi segar di toko oleh-oleh. Masyarakat setempat lebih banyak mengolahnya menjadi manisan dengan tambahan larutan gula sehingga menghasilkan penganan bercita rasa manis dan menyegarkan.
Olahan carica biasanya dikemas dalam gelas plastik atau wadah khusus agar lebih mudah dibawa pulang. Potongan buah yang disajikan bersama kuah manis menjadi ciri khas yang membuat makanan ini berbeda dari manisan buah pada umumnya.
Selain carica, kawasan Dieng juga memiliki beragam kuliner tradisional yang menarik untuk dicoba. Mi ongklok dan tempe kemul merupakan dua makanan lain yang cukup populer di kalangan wisatawan.
Kepala Desa Dieng, Mardi Yuwono, mengatakan bahwa kekayaan kuliner tradisional menjadi salah satu daya tarik yang dimiliki masyarakat setempat. Makanan yang sehari-hari dikonsumsi warga justru bisa menjadi pengalaman kuliner menarik bagi wisatawan yang datang dari berbagai daerah.
“Ada carica, mi ongklok, tempe kemul. Sebetulnya tradisi kuliner masyarakat Dieng ini yang notabenenya biasa, tapi menurut mbak (wisatawan) itu luar biasa, ada banyak,” kata Mardi Yuwono saat dikutip dari Kompas.com di sela acara Jagoan Pariwisata 2026 yang diselenggarakan tiket.com, Jumat (23/10/2026).
Keberadaan carica tidak hanya menambah pilihan kuliner bagi wisatawan. Buah ini juga menjadi bagian dari identitas masyarakat Dieng karena memiliki karakteristik yang berkaitan erat dengan kondisi alam dataran tinggi tersebut.
Lantas, apa sebenarnya buah carica, bagaimana karakteristiknya, dan mengapa tanaman ini begitu istimewa bagi masyarakat Dieng?
Mengenal Buah Carica, Tanaman Mirip Pepaya Khas Dieng
Carica merupakan buah yang memiliki kemiripan dengan pepaya. Jika dilihat sekilas, bentuk dan warna kulitnya memang mengingatkan pada buah pepaya yang biasa ditemukan di pasar tradisional.
Saat masih muda, kulit carica berwarna hijau. Ketika matang di pohon, warnanya berubah menjadi kekuningan. Meski memiliki bentuk serupa, ukuran buah carica cenderung lebih kecil dibandingkan pepaya pada umumnya.
Tanaman ini dikenal dengan nama ilmiah Carica pubescens dan termasuk dalam famili Caricaceae atau keluarga pepaya. Karakteristik tersebut membuat carica sering disebut sebagai pepaya gunung karena tumbuh di wilayah dataran tinggi dengan kondisi lingkungan tertentu.
Perbedaan ukuran menjadi salah satu ciri yang paling mudah dikenali. Pepaya memiliki variasi ukuran yang cukup beragam, mulai dari kecil hingga besar. Sementara itu, buah carica umumnya berukuran lebih mungil dengan bentuk yang khas.
Perbedaan tersebut dapat terlihat secara langsung ketika membandingkan buah carica dengan pepaya biasa. Pengamatan terhadap tanaman ini juga dilakukan Kompas.com saat mengunjungi Desa Parikesit, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.
Bagi masyarakat Dieng, carica bukan sekadar buah yang bisa diolah menjadi makanan. Tanaman ini juga memiliki nilai ekonomi karena menjadi salah satu bahan baku produk olahan yang dipasarkan kepada wisatawan.
Tidak sedikit wisatawan yang membeli manisan carica sebagai buah tangan setelah menikmati perjalanan di kawasan Dieng. Rasanya yang khas dan bentuk penyajiannya yang praktis membuat produk ini cukup dikenal sebagai oleh-oleh dari Wonosobo dan sekitarnya.
Menariknya, carica tidak mudah dibudidayakan di sembarang tempat. Tanaman ini membutuhkan kondisi lingkungan yang sesuai, terutama berkaitan dengan suhu udara dan ketinggian wilayah.
Faktor alam tersebut menjadi alasan mengapa keberadaan carica sangat identik dengan kawasan pegunungan, khususnya Dataran Tinggi Dieng.
Carica Hanya Tumbuh di Wilayah Dataran Tinggi Tertentu
Salah satu hal yang membuat buah carica menarik adalah wilayah tumbuhnya yang terbatas. Tidak seperti pepaya biasa yang dapat ditemukan di berbagai daerah beriklim tropis, carica membutuhkan lingkungan khusus agar bisa tumbuh dengan baik.
Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Mekar Tani Dieng, Sri Nurhayati, menjelaskan bahwa carica merupakan buah yang memiliki persebaran terbatas. Menurut penuturannya, tanaman tersebut hanya tumbuh di empat negara, salah satunya Indonesia.
Di Indonesia sendiri, keberadaan carica disebut sangat terbatas dan identik dengan kawasan Dataran Tinggi Dieng.
“Kalau daerah di Indonesia cuma di sini (tumbuhnya). Di Dieng saja terbatas. Hanya di Wadas Putih, Sembungan, Sibagus,” kata Sri saat ditemui Kompas.com bersama rombongan tiket.com dalam rangkaian acara Jagoan Pariwisata 2026, Sabtu (24/10/2026).
Selain kawasan Dieng, carica juga disebut dapat ditemukan di wilayah Bedugul, Bali. Namun, kondisi geografis dan lingkungan tetap menjadi faktor penting yang menentukan pertumbuhan tanaman tersebut.
Dataran Tinggi Dieng memiliki karakteristik alam yang berbeda dibandingkan wilayah dataran rendah. Suhu udara yang relatif sejuk, kondisi tanah, serta ketinggian wilayah menjadi bagian dari lingkungan yang mendukung pertumbuhan carica.
Berdasarkan informasi dari situs resmi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Banjarnegara yang dilansir pada 2 November 2026, tanaman carica dapat tumbuh di wilayah dengan ketinggian sekitar 1.500 hingga 3.000 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Ketinggian tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat tanaman carica tidak mudah ditemukan di daerah lain. Kondisi lingkungan yang tidak sesuai dapat memengaruhi pertumbuhan tanaman hingga kualitas buah yang dihasilkan.
Karena itulah, carica menjadi salah satu produk pertanian yang memiliki keterkaitan kuat dengan kawasan Dieng.
Keunikan tersebut turut memberikan nilai tambah bagi sektor pariwisata setempat. Wisatawan tidak hanya datang untuk menikmati pemandangan alam, tetapi juga mencari pengalaman mencicipi makanan khas yang sulit ditemukan di daerah asal mereka.
Bagi masyarakat lokal, kondisi tersebut menjadi peluang untuk mengembangkan produk olahan berbahan dasar carica. Buah yang sebelumnya hanya dikenal di lingkungan sekitar kini dapat dipasarkan lebih luas melalui toko oleh-oleh maupun berbagai saluran penjualan lainnya.
Proses Pengolahan Buah Carica Menjadi Manisan Khas Dieng
Salah satu alasan carica lebih sering dijual dalam bentuk olahan dibandingkan buah segar adalah proses pengolahannya yang cukup menarik. Masyarakat Dieng memiliki cara tersendiri untuk mengubah buah tersebut menjadi penganan yang memiliki rasa manis dan aroma khas.
Salah satu kelompok masyarakat yang aktif mengembangkan produk olahan carica adalah Kelompok Wanita Tani (KWT) Mekar Tani Dieng. Kelompok ini melibatkan para perempuan setempat dalam kegiatan produksi sekaligus pengembangan usaha berbasis potensi pertanian lokal.
KWT Mekar Tani Dieng biasanya melakukan produksi olahan carica satu kali dalam sepekan, tepatnya setiap hari Senin. Dalam satu kali proses produksi, kelompok tersebut membutuhkan sekitar 100 kilogram buah carica sebagai bahan baku.
Jumlah tersebut dikumpulkan dari hasil panen masing-masing anggota kelompok. Setelah seluruh bahan terkumpul, buah kemudian dibawa untuk diproses bersama hingga menjadi produk siap jual.
Proses pengolahan dimulai dengan memilih buah carica yang sudah matang. Buah kemudian dibersihkan, dipotong, dan dibelah untuk memisahkan bagian daging dari bijinya.
Tahapan ini membutuhkan ketelitian karena setiap bagian buah memiliki fungsi berbeda dalam proses pembuatan manisan.
Sri Nurhayati menjelaskan bahwa biji carica tidak langsung dibuang. Bagian tersebut justru dimanfaatkan untuk menghasilkan sari yang nantinya digunakan dalam pembuatan kuah atau sirop manisan.
“Buahnya dipetik, terus dilepas, langsung dibelah, diambil bijinya. Bijinya itu kan diambil sarinya untuk sirop,” jelas Sri.
Setelah biji dipisahkan, daging buah dipotong menjadi bagian-bagian kecil. Potongan tersebut kemudian dimasak hingga mencapai tingkat kelembutan yang diinginkan.
Sementara itu, biji carica diremas untuk mengeluarkan sarinya. Proses tersebut dilakukan agar aroma khas buah dapat dimanfaatkan dalam pembuatan kuah manisan.
Sari dari biji kemudian diolah secara terpisah sebelum dicampurkan dengan bahan lainnya. Dengan cara tersebut, produk olahan carica tidak hanya mengandalkan rasa manis dari gula, tetapi juga mempertahankan aroma khas buahnya.
Tahapan pengolahan ini menjadi salah satu bagian penting dalam menghasilkan manisan carica yang dikenal wisatawan.
Perbandingan Gula dan Air dalam Pembuatan Sirop Carica
Setelah buah dipotong dan sari bijinya diperoleh, tahap berikutnya adalah membuat larutan gula. Bahan ini nantinya menjadi kuah manis yang menyertai potongan buah carica ketika disajikan.
Menurut Sri Nurhayati, pembuatan kuah manisan carica menggunakan perbandingan satu bagian gula dengan dua bagian air.
Artinya, untuk setiap satu kilogram gula pasir, dibutuhkan sekitar dua liter air. Kedua bahan tersebut dimasak hingga gula larut dan menghasilkan cairan yang akan digunakan dalam proses pengolahan.
Larutan gula kemudian dicampurkan dengan potongan buah carica yang telah dimasak sebelumnya. Setelah seluruh bahan tercampur, produk siap masuk ke tahap pengemasan.
Meskipun sering disebut sirop carica, produk ini sebenarnya berbeda dari sirop minuman yang biasa dijual dalam botol. Olahan tersebut lebih menyerupai manisan buah yang dapat langsung dikonsumsi.
Wisatawan biasanya menikmati potongan carica bersama kuah manisnya. Tekstur buah yang lembut berpadu dengan cairan gula dan aroma khas carica menjadi daya tarik tersendiri.
Bagi sebagian orang, cara penyajian tersebut mungkin terasa berbeda dari manisan buah pada umumnya. Namun, justru karakteristik itulah yang membuat carica memiliki identitas tersendiri sebagai kuliner khas Dieng.
Ada Pilihan Manisan Carica Rendah Gula
Selain membuat manisan dengan resep biasa, KWT Mekar Tani Dieng juga mengembangkan produk dengan kadar gula yang lebih rendah.
Inovasi ini dilakukan dengan menyesuaikan perbandingan gula dan air dalam proses pembuatan kuah. Untuk produk rendah gula, para anggota kelompok menggunakan lebih banyak air dibandingkan takaran yang biasa digunakan.
Dengan variasi tersebut, konsumen memiliki pilihan produk sesuai selera masing-masing.
Pengembangan manisan rendah gula juga memperlihatkan bahwa produk tradisional dapat terus disesuaikan dengan kebutuhan pasar. Masyarakat tidak hanya mempertahankan resep yang sudah dikenal, tetapi juga mencoba menghadirkan variasi baru agar produk carica semakin diminati.
Meski demikian, produk rendah gula tetap perlu memperhatikan informasi komposisi dan kandungan gula apabila dipasarkan kepada konsumen yang memiliki kebutuhan diet tertentu.
Setelah proses memasak selesai, manisan carica kemudian didinginkan dan dikemas dalam wadah yang telah disiapkan. Kemasan tersebut dibuat agar produk lebih praktis dibawa oleh wisatawan.
Produk yang sudah dikemas selanjutnya dipasarkan melalui toko oleh-oleh di wilayah Wonosobo dan Banjarnegara.
Keberadaan toko oleh-oleh menjadi salah satu jalur penting bagi pemasaran carica. Wisatawan yang tidak sempat mengunjungi lokasi produksi tetap dapat membeli produk tersebut ketika berada di pusat penjualan oleh-oleh.
Olahan Carica Tidak Hanya Berupa Manisan
Perkembangan usaha olahan carica di Dieng tidak berhenti pada produk manisan. Seiring meningkatnya minat konsumen, masyarakat mulai mengembangkan berbagai jenis makanan lain dengan memanfaatkan buah tersebut sebagai bahan utama.
KWT Mekar Tani Dieng menjadi salah satu kelompok yang mencoba menghadirkan variasi produk agar carica memiliki nilai jual lebih luas.
Selain sirop atau manisan, buah carica juga diolah menjadi selai, jeli, hingga es krim. Beragam produk tersebut memberikan pilihan baru bagi wisatawan yang ingin menikmati buah khas Dieng dengan cara berbeda.
- Manisan Carica
Manisan merupakan produk olahan carica yang paling dikenal wisatawan. Potongan buah disajikan bersama kuah manis yang berasal dari larutan gula dan sari biji carica.
Produk ini biasanya dikemas dalam gelas plastik sehingga mudah dibawa dan dikonsumsi. Manisan carica juga menjadi salah satu oleh-oleh yang banyak dicari ketika wisatawan berkunjung ke Dieng.
- Selai Carica
Selain dibuat menjadi manisan, buah carica juga dapat diolah menjadi selai. Produk ini memberikan alternatif bagi konsumen yang ingin menikmati cita rasa carica sebagai pelengkap makanan.
Selai carica dapat digunakan sebagai olesan roti atau bahan tambahan untuk berbagai sajian. Pengembangan produk ini juga membuka peluang pemanfaatan buah carica dalam bentuk yang berbeda dari olahan tradisionalnya.
- Jeli Carica
Jeli menjadi variasi lain yang dikembangkan dari buah khas Dieng tersebut. Teksturnya berbeda dari manisan karena lebih kenyal dan mudah dinikmati sebagai makanan ringan.
Olahan ini dapat menjadi pilihan bagi konsumen yang menyukai makanan pencuci mulut dengan tekstur lembut.
- Es Krim Carica
Inovasi lainnya adalah es krim dengan bahan dasar carica. Produk ini menggabungkan cita rasa buah khas pegunungan dengan sajian dingin yang cocok dinikmati saat bersantai.
Kehadiran es krim carica juga memberikan pengalaman berbeda bagi wisatawan. Buah yang selama ini lebih dikenal sebagai manisan kini bisa dinikmati dalam bentuk makanan penutup.
Beragam inovasi tersebut menunjukkan bahwa carica memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk pangan yang lebih bervariasi.
Pengolahan menjadi beberapa jenis produk juga memberikan peluang bagi kelompok usaha lokal untuk memperluas pasar. Tidak semua konsumen menyukai manisan, sehingga pilihan selai, jeli, maupun es krim dapat menjangkau selera yang berbeda.
Bagi pelaku usaha, diversifikasi produk menjadi salah satu cara untuk meningkatkan nilai tambah hasil pertanian. Buah yang dijual dalam kondisi segar memiliki pasar tersendiri, sedangkan produk olahan dapat dipasarkan dengan bentuk dan cara penyajian yang lebih beragam.
Harga Manisan Carica dan Tempat Membelinya
Manisan carica menjadi salah satu oleh-oleh yang relatif mudah ditemukan ketika wisatawan berkunjung ke kawasan Dieng, Wonosobo, dan Banjarnegara.
Produk ini biasanya tersedia di toko oleh-oleh yang menjual berbagai makanan khas daerah. Selain manisan carica, wisatawan juga dapat menemukan beragam produk lokal lainnya seperti mi ongklok instan, keripik, hingga makanan ringan khas pegunungan.
Berdasarkan informasi dari KWT Mekar Tani Dieng, satu pak manisan carica berisi enam kemasan dijual dengan harga mulai Rp10.000.
Harga tersebut dapat berbeda di setiap toko oleh-oleh, bergantung pada ukuran kemasan, merek, lokasi penjualan, serta kebijakan masing-masing penjual.
Bagi wisatawan yang ingin membawa pulang carica sebagai buah tangan, sebaiknya memperhatikan kondisi kemasan dan tanggal kedaluwarsa produk.
Pastikan kemasan masih tertutup rapat dan tidak mengalami kerusakan. Informasi penyimpanan juga perlu diperhatikan agar kualitas produk tetap terjaga selama perjalanan.
Jika membeli dalam jumlah banyak, wisatawan dapat menanyakan langsung kepada penjual mengenai ketentuan penyimpanan dan masa konsumsi produk tersebut.
Manisan carica cukup praktis dijadikan oleh-oleh karena tersedia dalam kemasan siap bawa. Namun, wisatawan tetap perlu memperhitungkan ruang penyimpanan di dalam kendaraan atau bagasi, terutama jika membawa beberapa jenis oleh-oleh sekaligus.
Carica Menjadi Identitas Kuliner dan Potensi Ekonomi Masyarakat Dieng
Keberadaan carica memiliki hubungan erat dengan kehidupan masyarakat di kawasan Dataran Tinggi Dieng. Buah ini bukan hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan konsumsi, tetapi juga menjadi salah satu sumber penghasilan bagi warga yang mengembangkan usaha pengolahan hasil pertanian.
Keterlibatan kelompok perempuan dalam proses produksi menjadi bagian menarik dari perkembangan usaha carica. Melalui KWT Mekar Tani Dieng, para anggota tidak hanya mengolah hasil panen, tetapi juga ikut menjaga keberadaan produk lokal yang sudah dikenal sebagai salah satu ciri khas daerah tersebut.
Kegiatan produksi yang dilakukan secara bersama-sama memberikan kesempatan bagi anggota kelompok untuk mengembangkan keterampilan pengolahan pangan. Mulai dari pemilihan bahan baku, pemisahan biji, pemotongan buah, pembuatan larutan gula, hingga pengemasan dilakukan melalui tahapan yang saling berkaitan.
Hasil produksi kemudian dipasarkan kepada konsumen, terutama wisatawan yang datang ke kawasan Dieng dan sekitarnya.
Peluang tersebut semakin terbuka seiring berkembangnya pariwisata di kawasan pegunungan Jawa Tengah. Wisatawan yang berkunjung tidak hanya mencari pemandangan alam, tetapi juga ingin mengenal kehidupan masyarakat dan mencicipi kuliner khas daerah yang dikunjungi.
Dalam hal ini, carica memiliki posisi tersendiri karena tidak mudah ditemukan di banyak tempat. Wisatawan yang membeli manisan carica dapat membawa pulang salah satu produk yang identik dengan kawasan Dieng.
Pengembangan produk olahan juga dapat membantu memperpanjang pemanfaatan hasil panen. Buah carica yang diolah menjadi manisan, selai, jeli, dan es krim memiliki bentuk pemasaran yang lebih beragam dibandingkan hanya menjual buah segar.
Ke depan, pengembangan usaha berbasis carica masih memiliki peluang untuk dilakukan melalui inovasi rasa, kemasan, dan pemasaran digital. Produk khas daerah seperti ini juga berpotensi menjangkau konsumen di luar kawasan wisata apabila didukung pengelolaan produksi dan distribusi yang baik.
Namun, kualitas produk tetap menjadi hal utama. Kebersihan selama proses pengolahan, pemilihan bahan baku, standar pengemasan, serta informasi masa simpan perlu diperhatikan agar produk aman dan layak dipasarkan.
Mengapa Carica Menjadi Oleh-Oleh Favorit Wisatawan Dieng?
Ada beberapa alasan yang membuat carica memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Pertama, buah ini memiliki karakteristik yang berbeda dari pepaya biasa, baik dari segi ukuran maupun wilayah tumbuhnya.
Kedua, carica sudah diolah menjadi berbagai produk yang praktis dikonsumsi. Manisan menjadi pilihan paling populer karena memiliki rasa manis dan aroma khas buah.
Ketiga, carica memiliki cerita lokal yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat Dieng. Proses pengolahan yang dilakukan kelompok tani memperlihatkan bagaimana potensi alam dapat dimanfaatkan menjadi produk bernilai ekonomi.
Keempat, produk olahan carica relatif mudah ditemukan di pusat oleh-oleh sekitar Wonosobo dan Banjarnegara. Wisatawan tidak harus mencari buah segarnya secara langsung untuk bisa menikmati cita rasa carica.
Daya tarik tersebut membuat carica tidak sekadar menjadi makanan ringan, tetapi juga bagian dari pengalaman wisata kuliner di Dieng.
Ketika berkunjung ke kawasan ini, wisatawan bisa menikmati udara sejuk, mengunjungi berbagai objek wisata alam, sekaligus mengenal produk pangan yang menjadi kebanggaan masyarakat setempat.
Mencicipi manisan carica juga dapat menjadi cara sederhana untuk mengenal kekayaan kuliner lokal. Terlebih, buah tersebut memiliki karakteristik yang cukup berbeda dari buah-buahan yang biasa dijumpai di pasar.
Pada akhirnya, carica menjadi salah satu contoh bagaimana kekayaan alam suatu daerah dapat berkembang menjadi identitas kuliner sekaligus peluang usaha masyarakat.
Melalui kreativitas kelompok tani seperti KWT Mekar Tani Dieng, buah khas dataran tinggi ini terus dikembangkan menjadi berbagai produk yang menarik bagi konsumen.
Jadi, bagi wisatawan yang berencana mengunjungi Dataran Tinggi Dieng, tidak ada salahnya memasukkan manisan carica ke dalam daftar kuliner yang wajib dicoba. Selain bisa dinikmati selama perjalanan, produk ini juga dapat dibawa pulang sebagai oleh-oleh khas dari pegunungan Jawa Tengah.
Sumber : www.kompas.com
