Foto: REUTERS/Scott Heppell
Atmosfer di Old Trafford berubah menjadi panas pada Senin, 14 April 2025. Sehari setelah kekalahan memalukan dari Newcastle United, manajer Manchester United, Ruben Amorim, mengambil keputusan drastis—membatalkan sesi meet and greet dengan anak-anak yang dijadwalkan digelar di stadion.
Acara yang seharusnya menjadi momen menyenangkan dan mempererat hubungan klub dengan komunitas lokal itu mendadak dibatalkan karena situasi internal tim yang sedang genting. Sebagai gantinya, Amorim mengadakan rapat darurat bersama seluruh pemain dan staf di ruang tertutup Old Trafford.
Menurut laporan dari Daily Mail, suasana dalam ruangan itu sangat tegang. Ruben Amorim, yang selama ini dikenal kalem dan diplomatis, berubah menjadi figur penuh amarah. Ia meledak dan menghardik seluruh pemain tanpa tedeng aling-aling. Tidak satu pun pemain berani membalas atau mencoba memberi pembelaan—semuanya memilih diam, tertunduk, menahan teguran pedas dari sang manajer.
Amorim menyampaikan peringatan keras. Ia menuntut dedikasi total di sisa enam pertandingan terakhir Liga Inggris. Bagi Amorim, setiap laga kini adalah soal hidup dan mati, bukan hanya demi klasemen, tetapi demi marwah klub sebesar Manchester United.
Dengan United kini tercecer di peringkat ke-14 klasemen sementara dengan hanya 38 poin, posisi mereka sangat rawan. Tiga tim di bawahnya hanya terpaut tiga poin atau kurang, yang berarti ancaman zona degradasi tak bisa diabaikan.
Dalam rapat tersebut, Amorim juga mengeluarkan ultimatum yang mengguncang ruang ganti: siapa pun yang masih tampil di bawah standar, siap-siap untuk dicoret dari skuad musim depan. Bursa transfer musim panas akan jadi momen bersih-bersih besar, jika performa tak segera membaik.
Keputusan Amorim untuk mengutamakan konsolidasi tim ketimbang agenda publik menunjukkan bahwa krisis internal Manchester United telah mencapai titik kritis. Kini, tekanan ada di pundak para pemain: bangkit atau ditinggalkan.
