Seorang mahasiswa di sebuah universitas di Kota Cirebon, Jawa Barat, mendadak dilarikan ke Dinas Pemadam Kebakaran Kota Cirebon (Foto : Darfan)
CIREBON, Buletinmedia.com – Insiden tak terduga dialami seorang mahasiswa di salah satu universitas di Kota Cirebon, Jawa Barat. Akibat bermain tali ripet bersama rekannya di dalam kelas, jari manis mahasiswa tersebut terkunci hingga membiru dan mengalami mati rasa. Peristiwa ini terjadi pada Minggu siang dan membuat korban harus dilarikan ke Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Cirebon untuk mendapatkan pertolongan cepat.
Kejadian tersebut sontak mengundang perhatian mahasiswa lain di lingkungan kampus. Meski awalnya hanya dianggap sebagai candaan ringan untuk mengisi waktu luang, insiden ini berubah menjadi situasi darurat yang membutuhkan penanganan khusus dari petugas berpengalaman.
Menurut informasi yang dihimpun, peristiwa bermula ketika korban tengah berada di dalam kelas bersama beberapa rekannya. Saat itu, kegiatan belajar mengajar belum dimulai karena jam pelajaran kosong. Dalam suasana santai dan penuh canda, para mahasiswa mencoba bermain tali ripet atau cable tie yang kebetulan ada di dalam ruangan.
Tali ripet tersebut awalnya hanya digunakan sebagai bahan bercanda. Korban kemudian menjadikan jari manisnya sebagai objek permainan dengan cara dijerat tali ripet tersebut. Pada awalnya, tidak ada rasa sakit atau tanda-tanda berbahaya yang dirasakan korban. Ia pun menganggap tali ripet tersebut bisa dilepaskan dengan mudah seperti saat pertama kali dipasang.
Namun, situasi berubah ketika korban mencoba membuka kembali jeratan tali ripet tersebut. Bukannya mengendur, tali justru semakin kencang mengunci jari manis korban. Upaya membuka secara manual malah memperparah kondisi, karena mekanisme tali ripet yang hanya bisa mengencang satu arah.
Seiring waktu, aliran darah ke jari korban mulai terhambat. Jari manis korban perlahan berubah warna menjadi kebiruan dan mulai kehilangan sensasi. Kondisi tersebut membuat korban merasakan mati rasa dan nyeri yang semakin meningkat.
Melihat kondisi jari yang semakin memburuk, korban dan rekan-rekannya mulai panik. Berbagai cara dicoba untuk melepaskan tali ripet, mulai dari menarik, memutar, hingga mencoba memotong dengan alat seadanya. Namun, upaya tersebut tidak membuahkan hasil dan justru membuat jeratan semakin kuat.
Kepanikan pun tak terelakkan. Rekan-rekan korban menyadari bahwa jika dibiarkan terlalu lama, kondisi tersebut bisa berisiko lebih serius, seperti kerusakan jaringan akibat terhentinya aliran darah. Atas pertimbangan tersebut, mereka akhirnya memutuskan untuk segera membawa korban ke Mako Damkar Kota Cirebon.
Pemilihan Damkar sebagai tempat tujuan bukan tanpa alasan. Selain menangani kebakaran, petugas pemadam kebakaran juga memiliki keahlian dalam penanganan evakuasi non-kebakaran, termasuk pelepasan benda asing atau alat yang menjepit anggota tubuh manusia.
Petugas Damkar Kota Cirebon, Ramadi, membenarkan adanya laporan tersebut. Ia mengatakan pihaknya menerima kedatangan seorang mahasiswa dengan kondisi jari manis terjerat tali ripet dan membutuhkan penanganan segera.
“Jadi memang tadi kami kedatangan seorang mahasiswa dari salah satu universitas di Cirebon yang jarinya terjerat tali ripet. Kondisinya sudah mulai membiru dan perlu segera ditangani,” ujar Ramadi.
Setibanya di Mako Damkar, korban langsung mendapatkan penanganan dari sejumlah petugas. Proses evakuasi dilakukan dengan sangat hati-hati untuk menghindari risiko cedera tambahan pada jari korban. Petugas menggunakan alat khusus berupa tang untuk memotong tali ripet secara perlahan dan presisi.
Danru 3 Disdamkar Kota Cirebon, Sekarwanto, menjelaskan bahwa kondisi jari korban sudah mengalami perubahan warna akibat terhambatnya aliran darah.
“Kronologinya mahasiswa ini bermain tali ripet dengan temannya, lalu talinya semakin kencang dan menyebabkan jarinya membiru serta mati rasa. Kami langsung melakukan penanganan menggunakan tang agar tali bisa dilepaskan dengan aman,” jelas Sekarwanto.
Menurutnya, penanganan harus dilakukan dengan cepat namun tetap berhati-hati. Kesalahan sedikit saja bisa berisiko melukai jari korban, mengingat posisi tali ripet yang menekan langsung jaringan kulit.
Berkat kesigapan dan pengalaman petugas, proses pelepasan tali ripet berjalan lancar. Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, tali ripet yang mengunci jari manis korban berhasil dilepaskan sepenuhnya. Setelah jeratan dilepas, aliran darah ke jari korban perlahan kembali normal.
Petugas kemudian melakukan pemeriksaan awal untuk memastikan tidak ada luka serius atau kerusakan jaringan. Meski kondisi jari korban mulai membaik, petugas tetap menyarankan agar korban melakukan pemeriksaan lanjutan ke fasilitas kesehatan guna memastikan tidak ada dampak lanjutan akibat tekanan yang terjadi sebelumnya.
Insiden ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat, khususnya pelajar dan mahasiswa, agar tidak bermain-main dengan benda yang berpotensi membahayakan keselamatan, meskipun terlihat sepele dan sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Petugas Damkar Kota Cirebon juga mengimbau agar masyarakat lebih berhati-hati dan tidak ragu meminta bantuan kepada pihak berwenang jika mengalami kondisi darurat serupa. Penanganan yang cepat dan tepat dinilai sangat penting untuk mencegah risiko yang lebih besar.
Peristiwa ini pun menjadi pelajaran berharga bahwa tindakan iseng dapat berujung pada situasi berbahaya. Keselamatan diri harus selalu menjadi prioritas, baik di lingkungan kampus, sekolah, maupun tempat lainnya.
