Boaz Solossa mencetak gol indah untuk membawa Persipura Jayapura menang atas Persiba Balikpapan. (Tangkapan Layar)
Buletinmedia.com – Nama Boaz Solossa kembali menjadi sorotan publik sepak bola nasional. Di usia yang sudah menginjak 40 tahun, performanya justru masih mampu bersaing, bahkan melampaui sejumlah penyerang muda yang memperkuat Timnas Indonesia. Catatan gol dan assist yang ia torehkan musim ini menjadi bukti bahwa kualitasnya belum pudar.
Saat ini, Boaz Solossa masih aktif bermain bersama Persipura Jayapura di kompetisi Liga 2 Indonesia musim 2025–2026. Meski bermain di kasta kedua, kontribusinya tetap signifikan bagi tim berjuluk Mutiara Hitam tersebut.
Dari total 19 pertandingan yang telah dijalani musim ini, Boaz Solossa berhasil mencetak dua gol dan menyumbang tiga assist. Jika digabungkan, ia telah terlibat langsung dalam lima gol yang dicetak Persipura sepanjang musim berjalan. Angka tersebut memang tidak terlihat besar secara kasat mata, namun menjadi sangat menarik ketika dibandingkan dengan performa para penyerang Timnas Indonesia di level klub masing-masing.
Dalam ajang FIFA Series 2026, pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, memanggil sejumlah penyerang untuk memperkuat skuad Garuda. Nama-nama seperti Ole Romeny, Ragnar Oratmangoen, Mauro Zijlstra, Ramadhan Sananta, hingga Jens Raven menjadi pilihan di lini depan.
Namun jika melihat statistik performa mereka di klub musim ini, sebagian besar belum mampu melampaui kontribusi Boaz Solossa. Beberapa bahkan masih kesulitan mencatatkan gol maupun assist.
Ole Romeny, yang bermain di Oxford United, belum mencatatkan kontribusi gol maupun assist. Hal serupa juga dialami Mauro Zijlstra bersama Persija Jakarta yang masih belum menunjukkan produktivitas di lini serang.
Sementara itu, Jens Raven yang memperkuat Bali United baru mencatatkan satu gol dan dua assist. Ramadhan Sananta bersama DPMM FC mengoleksi dua gol dan satu assist, sedangkan Ragnar Oratmangoen yang bermain di FCV Dender baru mencetak satu gol.
Jika dibandingkan secara langsung, kontribusi lima gol (gabungan gol dan assist) yang dicatatkan Boaz Solossa masih lebih unggul atau setidaknya setara dengan sebagian besar penyerang tersebut. Fakta ini tentu menjadi hal yang menarik, mengingat usia Boaz yang sudah tidak muda lagi.
Memang tidak bisa dipungkiri bahwa level kompetisi yang dijalani berbeda. Liga 2 Indonesia masih berada di bawah kompetisi seperti Liga Inggris Championship, Liga Belgia, maupun kompetisi kasta tertinggi di Asia Tenggara. Namun demikian, konsistensi performa yang ditunjukkan Boaz tetap layak mendapatkan apresiasi.
Di usia 40 tahun, banyak pemain sepak bola profesional yang sudah memutuskan gantung sepatu atau mengalami penurunan performa signifikan. Namun Boaz Solossa justru masih mampu memberikan kontribusi nyata bagi timnya. Hal ini menunjukkan bahwa pengalaman, disiplin, dan dedikasi memiliki peran besar dalam menjaga performa seorang atlet.
Boaz bukanlah nama baru dalam dunia sepak bola Indonesia. Pada masa keemasannya, ia dikenal sebagai salah satu penyerang paling tajam yang pernah dimiliki Indonesia. Kecepatan, insting gol, serta kemampuan membaca permainan membuatnya menjadi sosok yang disegani di lini depan.
Catatan prestasinya pun tidak main-main. Boaz Solossa pernah meraih gelar top skor Liga Indonesia sebanyak tiga kali, yakni pada musim 2008–2009, 2010–2011, dan 2013. Prestasi tersebut menegaskan statusnya sebagai salah satu striker terbaik di Tanah Air.
Tidak hanya itu, ia juga menjadi bagian penting dalam kesuksesan Persipura Jayapura meraih berbagai gelar juara. Bersama klub tersebut, Boaz berhasil membawa timnya menjuarai Liga Indonesia sebanyak lima kali, yaitu pada tahun 2005, 2008–2009, 2010–2011, 2013, dan 2016.
Pengalaman panjang tersebut tampaknya menjadi modal utama Boaz untuk tetap tampil kompetitif hingga saat ini. Ia mampu beradaptasi dengan perubahan gaya bermain serta menjaga kondisi fisik agar tetap prima di tengah persaingan yang semakin ketat.
Apa yang ditunjukkan Boaz Solossa saat ini bisa menjadi inspirasi bagi para pemain muda Indonesia. Di tengah banyaknya talenta baru yang bermunculan, konsistensi dan kerja keras tetap menjadi kunci utama untuk bertahan di level tertinggi.
Selain itu, performa Boaz juga menjadi pengingat bahwa usia bukanlah satu-satunya tolok ukur dalam sepak bola. Selama masih memiliki semangat, disiplin, dan kemampuan, seorang pemain tetap bisa memberikan kontribusi maksimal bagi timnya.
Saat ini, Persipura Jayapura tengah berjuang untuk kembali ke kasta tertinggi sepak bola Indonesia. Tim tersebut berada dalam jalur yang cukup positif untuk meraih promosi ke Liga 1 musim depan. Jika target tersebut tercapai, bukan tidak mungkin Boaz Solossa akan kembali tampil di level tertinggi sepak bola nasional.
Kehadiran Boaz di kompetisi kasta tertinggi tentu akan menjadi daya tarik tersendiri. Selain sebagai legenda hidup, ia juga masih mampu memberikan warna dalam permainan tim.
Melihat performanya saat ini, peluang tersebut bukan hal yang mustahil. Boaz Solossa telah membuktikan bahwa dirinya masih layak diperhitungkan, bahkan di tengah persaingan dengan pemain yang jauh lebih muda.
Dengan segala pencapaian dan kontribusinya, Boaz tidak hanya menjadi ikon bagi Persipura Jayapura, tetapi juga simbol ketekunan dan dedikasi dalam sepak bola Indonesia. Apa yang ia lakukan di usia 40 tahun menjadi bukti nyata bahwa semangat dan kerja keras dapat melampaui batas usia.
Ke depan, menarik untuk melihat bagaimana perjalanan karier Boaz Solossa akan berlanjut. Apakah ia akan terus mencatatkan prestasi baru, atau justru menjadi mentor bagi generasi berikutnya. Yang pasti, kiprahnya hingga saat ini sudah memberikan inspirasi besar bagi dunia sepak bola Indonesia.
Sumber : www.rctiplus.com
