Warga Samarinda saat ini masih kesulitan untuk mendapatkan gas 3 kg (Tangkapan Layar)
Buletinmedia.com – Kelangkaan gas elpiji 3 kg di Kota Samarinda semakin menjadi permasalahan yang memprihatinkan. Samarinda, yang dikenal sebagai salah satu daerah penghasil gas terbesar di Indonesia, justru menghadapi krisis pasokan gas bersubsidi yang seharusnya mudah diakses oleh masyarakat. Antrean panjang di pangkalan gas LPG 3 kg di Jalan Urip Sumoharjo, yang terjadi pada Kamis (6/2/2025), dikutip dari laman Kompas, menggambarkan betapa sulitnya mendapatkan bahan bakar yang vital bagi kehidupan sehari-hari tersebut. Warga harus rela mengantre berjam-jam hanya untuk mendapatkan satu tabung gas, yang di tingkat pengecer harganya bisa mencapai Rp 60.000 per tabung.
Masyarakat Kesulitan, Pedagang Tercekik
Bagi para pedagang kecil seperti Saidun (43), kelangkaan ini menjadi beban berat. Saidun yang berjualan gorengan mengeluhkan aturan baru yang semakin memperketat pembelian gas LPG 3 kg. “Sekarang, kita harus menunjukkan KTP dan KK, dan hanya bisa beli satu tabung saja. Beberapa pangkalan bahkan minta bukti usaha sebelum mengizinkan pembelian,” ujar Saidun dengan nada kesal. Ia menambahkan, “Saya cuma butuh satu tabung buat jualan, tapi dipersulit. Di Jalan Sentosa, kalau KTP bukan dari daerah situ, langsung ditolak. Saya sampai bawa foto jualan saya dengan istri buat bukti.”
Beban kelangkaan gas ini membuat beberapa warga terpaksa mencari alternatif lain. Trisno, salah satu warga, dengan pasrah berkata, “Pakai kayu aja lah, balik ke zaman dulu. Panci jadi hitam, tapi yang penting bisa masak.” Keputusasaan ini menggambarkan betapa sulitnya hidup tanpa akses yang mudah ke bahan bakar yang seharusnya terjangkau.
Harga Melambung, Stok Tak Menentu
Keanehan lain muncul dari harga yang melambung tinggi di pengecer. Farida (39), seorang warga yang ikut mengantre di pangkalan gas, mempertanyakan situasi ini. “Kaltim ini penghasil gas terbesar, kok stok gas nggak ada? Aneh kan?” keluhnya. Di pasaran, harga gas elpiji 3 kg yang seharusnya dihargai sekitar Rp 18.000 per tabung, kini bisa melonjak hingga Rp 60.000 di pengecer. Farida juga menambahkan bahwa harga di pengecer yang lebih murah, sekitar Rp 30.000, pun cepat habis, memaksa warga untuk terus antre di pangkalan gas.
Dugaan Penyimpangan Distribusi
Wali Kota Samarinda, Andi Harun, turut menyoroti kelangkaan ini dan menduga adanya penyimpangan dalam distribusi gas. Menurutnya, ada kemungkinan pihak-pihak tertentu yang bermain dalam penyaluran gas, termasuk praktik pengetapan atau penjualan gas ke luar daerah yang seharusnya diperuntukkan bagi warga Samarinda. “Kalau terjadi penjualan di luar kota yang seharusnya untuk warga Samarinda, mari kita awasi bersama. Kalau agen dan pengecer jujur, kelangkaan ini tidak akan terjadi,” tegas Andi Harun. Ia juga meminta PT Patra Niaga sebagai distributor utama gas untuk memastikan pasokan gas benar-benar sampai ke masyarakat yang berhak.
Harapan Solusi Konkret
Masyarakat Samarinda berharap pemerintah segera mengambil tindakan tegas untuk mengatasi kelangkaan gas elpiji 3 kg ini. Bagi banyak warga kecil, gas bersubsidi adalah kebutuhan yang sangat penting, dan kelangkaan ini semakin membebani mereka. “Mana pemerintah ini? Cari solusinya dong!” desak Farida, mewakili keresahan warga Samarinda yang menginginkan solusi konkret agar kejadian serupa tidak terus berulang.
Dengan semakin memperburuknya situasi, masyarakat berharap ada langkah nyata dari pihak berwenang untuk menanggulangi masalah ini, termasuk pengawasan distribusi yang lebih ketat dan upaya jangka panjang untuk memastikan pasokan gas bersubsidi benar-benar sampai ke tangan yang membutuhkan.
