Presiden China Xi Jinping bermain sepak bola di Dublin, Irlandia (Sumber : REUTERS/David Moir)
Buletinmedia.com – Sepak bola sekali lagi membuktikan dirinya sebagai bahasa universal yang mampu melintasi batas budaya, politik, dan diplomasi internasional. Hal ini terlihat jelas dalam kunjungan kenegaraan Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, ke Beijing, China, yang menghadirkan momen tak terduga di tengah agenda diplomatik tingkat tinggi. Dalam pertemuan tersebut, Presiden China, Xi Jinping, secara terbuka mengungkapkan kecintaannya terhadap sepak bola Inggris, bahkan mengaku sebagai penggemar berat klub raksasa Premier League, Manchester United.
Pertemuan antara Xi Jinping dan Keir Starmer berlangsung pada Jumat, 30 Januari 2026, dengan tujuan utama “mereset” hubungan bilateral antara Inggris dan China yang sempat membeku dalam beberapa tahun terakhir. Agenda resmi pertemuan ini mencakup isu-isu strategis mulai dari hubungan ekonomi, perdagangan, hingga kerja sama politik dan kemungkinan pencabutan sanksi terhadap sejumlah anggota parlemen Inggris. Meski demikian, suasana diplomatik yang awalnya serius mencair ketika topik bergeser ke dunia sepak bola, menunjukkan bagaimana olahraga mampu menjadi alat soft power dalam diplomasi internasional.
Editor Financial Times, George Parker, yang mengikuti jalannya pertemuan tersebut, melaporkan bahwa Xi Jinping secara tiba-tiba mengangkat topik sepak bola Inggris di sela pembicaraan resmi. Dalam kesempatan tersebut, Presiden China mengaku merupakan pendukung setia Manchester United, klub legendaris berbasis di Old Trafford yang memiliki basis penggemar global sangat luas. Pengakuan ini menambah daftar panjang tokoh dunia yang diketahui sebagai penggemar Manchester United. Sebelumnya, figur terkenal seperti pelari dunia Usain Bolt dan pegolf ternama Rory McIlroy juga secara terbuka mendukung klub berjuluk “Setan Merah” tersebut. Fakta ini menegaskan pengaruh global Manchester United sebagai salah satu ikon olahraga internasional.
Kejutan tidak berhenti di situ. Dalam perbincangan yang berlangsung santai namun bermakna, Xi Jinping juga menyebut klub Premier League lain yang ia ikuti. Selain Arsenal dan Manchester City, Presiden China itu bahkan menyebut Crystal Palace sebagai salah satu klub yang ia pantau secara rutin. Yang membuat Perdana Menteri Inggris Keir Starmer terkesan adalah ketika Xi menyebut klub London Selatan itu hanya dengan istilah singkat “Palace.” Detail kecil ini menunjukkan pengetahuan Xi yang mendalam tentang kultur sepak bola Inggris, sesuatu yang jarang ditemui dalam pertemuan diplomatik tingkat tinggi.
Momen ini dilaporkan membuat Starmer “visibly taken aback” atau tampak cukup terkejut. Hal ini sekaligus menegaskan betapa besar pengaruh Premier League sebagai produk budaya global yang mampu menjangkau lingkaran elite politik dunia. Suasana pertemuan, yang digambarkan hangat dan konstruktif, semakin berwarna dengan momen simbolis terkait pertukaran hadiah. Keir Starmer, yang diketahui merupakan penggemar berat Arsenal, memberikan cinderamata berupa bola pertandingan yang telah ditandatangani para pemain Arsenal. Bola tersebut berasal dari laga dramatis yang berlangsung di Emirates Stadium pada akhir pekan sebelumnya.
Ironisnya, bola pertandingan yang dijadikan hadiah tersebut berasal dari pertandingan di mana Arsenal kalah 2-3 dari Manchester United, tim favorit Xi Jinping. Ironi ini menambah nuansa unik dalam pertemuan diplomatik tersebut, sekaligus menunjukkan bagaimana sepak bola dapat menjadi jembatan komunikasi yang ringan namun efektif. Selain membahas klub favorit, Xi Jinping juga memuji kemampuan bermain sepak bola Keir Starmer. Ia menyebut PM Inggris tersebut “seperti seorang profesional” dalam permainan 5-lawan-5 (five-a-side football), yang semakin mencairkan suasana dan menunjukkan pendekatan personal Xi dalam membangun komunikasi diplomatik.
Pembicaraan ringan tentang sepak bola ini menjadi pintu masuk bagi diskusi yang lebih substansial. Menurut laporan resmi, pertemuan Xi Jinping dan Keir Starmer berlangsung sekitar 45 menit lebih lama dari jadwal yang telah ditentukan. Setelah sesi tertutup, kedua pemimpin negara melanjutkan agenda dengan jamuan makan siang resmi di Great Hall of the People, Beijing. Downing Street menyebut pertemuan tersebut sebagai langkah awal yang positif dalam mencairkan hubungan diplomatik Inggris-China, yang sebelumnya sempat memasuki fase “zaman es” akibat perbedaan pandangan politik dan kebijakan luar negeri.
Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak juga membahas kemungkinan pencabutan sanksi terhadap anggota parlemen Inggris, serta upaya memperbaiki komunikasi dan kerja sama di berbagai sektor strategis. Meski agenda utama bersifat serius, penggunaan topik sepak bola sebagai pembuka dialog dinilai efektif untuk membangun suasana diskusi yang lebih terbuka dan cair.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana sepak bola, khususnya Premier League, menjadi alat soft power global. Ketertarikan Xi Jinping terhadap Manchester United dan klub-klub Inggris lainnya menjadi bukti bahwa olahraga dapat menjadi jembatan komunikasi lintas budaya dan ideologi. Dalam konteks diplomasi internasional, momen sederhana seperti obrolan tentang klub sepak bola favorit justru mampu membuka ruang dialog yang lebih konstruktif, membuktikan bahwa diplomasi tidak selalu harus kaku dan formal.
Di tengah dinamika geopolitik yang kompleks, pertemuan Xi Jinping dan Keir Starmer menjadi contoh nyata bahwa olahraga dapat memperkuat hubungan bilateral melalui pendekatan humanis dan budaya populer. Topik sepak bola, yang pada awalnya tampak ringan, justru menjadi jembatan bagi diskusi lebih serius, mulai dari isu politik hingga ekonomi. Selain itu, fakta bahwa kedua pemimpin mampu bercengkerama tentang klub sepak bola favorit masing-masing menegaskan bahwa olahraga adalah bahasa universal yang dimengerti oleh semua kalangan, dari warga biasa hingga tokoh dunia.
Pertemuan ini juga menjadi contoh bagaimana olahraga dapat mempengaruhi persepsi internasional. Ketertarikan Xi Jinping pada Manchester United bukan sekadar hobi pribadi; hal ini menunjukkan bagaimana Premier League berfungsi sebagai alat diplomasi budaya, yang dapat mendekatkan pandangan dan mencairkan ketegangan politik antara dua negara besar. Selain itu, interaksi ringan tersebut membuktikan bahwa pemimpin dunia pun dapat terhubung melalui minat yang sama, membangun hubungan personal yang mendukung komunikasi diplomatik resmi.
Dengan demikian, momen Xi Jinping mengungkapkan dirinya sebagai penggemar Manchester United dan membahas klub lain seperti Arsenal, Manchester City, dan Crystal Palace, bukan hanya menjadi berita heboh dunia olahraga, tetapi juga peristiwa diplomatik yang langka. Ini menunjukkan bagaimana olahraga modern, khususnya sepak bola, dapat menembus batas politik dan budaya, membangun jembatan komunikasi lintas negara, dan menjadi medium untuk memperkuat hubungan internasional.
Kesimpulannya, pertemuan Xi Jinping dan Keir Starmer di Beijing menjadi bukti nyata bahwa sepak bola memiliki kekuatan diplomatik yang luar biasa. Dari sekadar hobi atau olahraga, sepak bola kini menjadi bahasa global yang mampu menjembatani hubungan internasional, membangun koneksi personal, dan mencairkan suasana pertemuan politik tingkat tinggi. Hubungan bilateral Inggris-China, yang sebelumnya kaku, kini menunjukkan tanda-tanda positif berkat kombinasi diskusi formal dan percakapan santai tentang olahraga yang universal.
Sumber : www.inilah.com
