Sambut Ramadan, Warga Gelar Tradisi Ngubek Lauk di Setu Ayu (Foto : Darfan)
KUNINGAN, Buletinmedia.com – Menyambut datangnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, ratusan warga Desa Ciloa, Kecamatan Kramatmulya, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, menggelar tradisi ngubek lauk di Setu Ayu, Minggu pagi. Tradisi menangkap ikan bersama-sama ini menjadi agenda tahunan yang selalu dinanti masyarakat sebagai bentuk silaturahmi sekaligus persiapan menyambut ibadah puasa.
Sejak pagi hari, warga dari berbagai kalangan mulai memadati setu yang berada di desa setempat. Suasana penuh semangat dan kebersamaan begitu terasa ketika ratusan warga turun langsung ke air untuk menangkap ikan. Tradisi ngubek lauk di Desa Ciloa ini memang selalu digelar beberapa hari menjelang Ramadan, sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur atas datangnya bulan penuh berkah.
Tradisi Turun-Temurun Jelang Ramadan
Tradisi ngubek lauk sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat Desa Ciloa. Kegiatan ini dilakukan setahun sekali menjelang bulan suci Ramadan dan terus dilestarikan secara turun-temurun. Selain sebagai hiburan rakyat, tradisi ini juga menjadi sarana mempererat hubungan antarwarga.
Ratusan warga Desa Ciloa, Kecamatan Kramatmulya, Kabupaten Kuningan, tampak tumpah ruah di Setu Ayu. Mereka beramai-ramai menangkap ikan yang sebelumnya telah ditebar di perairan setempat. Tradisi ini selalu menarik perhatian karena melibatkan seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang usia.
Mulai dari orang tua, ibu-ibu, remaja hingga anak-anak terlihat antusias terjun ke air. Dengan pakaian sederhana dan alat seadanya seperti jaring kecil, ember, hingga tangan kosong, warga saling bekerja sama sekaligus bersaing secara sehat untuk mendapatkan ikan.
Penuh Keceriaan dan Kebersamaan
Keceriaan begitu terasa saat warga mencoba menangkap ikan yang bergerak lincah di dalam air. Tak jarang, mereka harus berkejaran dan menyelam demi mendapatkan ikan yang diincar. Meski harus basah kuyup dan berlumpur, hal itu tidak menyurutkan semangat warga.
Beberapa jenis ikan yang berhasil ditangkap di antaranya ikan mas, nila, dan mujair. Hasil tangkapan tersebut kemudian dibawa pulang untuk dinikmati bersama keluarga. Bagi masyarakat Desa Ciloa, ikan hasil ngubek lauk memiliki makna tersendiri karena diperoleh melalui kebersamaan dan gotong royong.
Tradisi ini juga menjadi momen langka di mana seluruh warga bisa berkumpul dalam suasana santai sebelum memasuki bulan Ramadan yang identik dengan ibadah dan pengendalian diri. Ngubek lauk seolah menjadi pelepas penat sekaligus ajang mempererat tali silaturahmi.
Warga Berharap Tradisi Tetap Lestari
Salah seorang warga Desa Ciloa, Inah, mengaku senang bisa kembali mengikuti tradisi ngubek ikan tahun ini. Ia berhasil mendapatkan ikan mujair dan nila dengan alat sederhana.
“Jadi memang setiap satu tahun sekali menjelang bulan puasa di sini ada tradisi ngubek ikan. Alhamdulillah, saya sudah dapat ikan mujair dan nila. Kami berharap tradisi seperti ini terus ada setiap tahunnya,” ujarnya.
Menurutnya, tradisi ngubek lauk bukan sekadar kegiatan menangkap ikan, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan dan kekompakan warga. Ia berharap kegiatan tersebut tidak hilang tergerus perkembangan zaman dan modernisasi.
Harapan serupa juga disampaikan warga lainnya. Mereka menilai tradisi ini penting untuk menjaga nilai-nilai sosial di tengah masyarakat. Di era yang semakin modern, momen kebersamaan seperti ini dinilai semakin jarang ditemukan.
Ajang Silaturahmi Jelang Puasa
Selain sebagai tradisi budaya, ngubek lauk juga menjadi ajang silaturahmi antarwarga menjelang Ramadan. Warga yang sehari-hari sibuk dengan aktivitas masing-masing dapat berkumpul dan berinteraksi secara langsung dalam suasana penuh kegembiraan.
Kegiatan ini sekaligus menjadi bentuk rasa syukur karena masih diberikan kesempatan bertemu kembali dengan bulan suci Ramadan 1447 Hijriah. Sebelum menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh, masyarakat memanfaatkan momen ini untuk mempererat hubungan sosial.
Ikan hasil tangkapan biasanya dimasak dan dinikmati bersama keluarga, terutama saat malam munggahan atau menjelang hari pertama puasa. Tradisi makan bersama ini semakin memperkuat makna kebersamaan dalam menyambut Ramadan.
Dengan tetap menjaga nilai gotong royong dan kekompakan, warga Desa Ciloa berharap tradisi ngubek lauk di Setu Ayu dapat terus dilaksanakan setiap tahun. Tradisi ini bukan hanya menjadi warisan budaya lokal Kabupaten Kuningan, tetapi juga simbol persatuan masyarakat dalam menyambut bulan suci yang penuh berkah.
Diharapkan, tradisi ngubek ikan ini terus menjadi agenda tahunan yang mampu mempererat silaturahmi, menumbuhkan rasa kebersamaan, serta menjaga kearifan lokal di tengah perkembangan zaman. Menjelang Ramadan yang tinggal beberapa hari lagi, semangat warga Desa Ciloa dalam melestarikan tradisi menjadi cerminan kuatnya nilai budaya dan religiusitas masyarakat setempat.
