Young lady in a white top with a ribbon sign on her chest to support pink October and females combating breast cancer. Anonymous studio shot photo on beige background.
Biopsi, Prosedur Kecil yang Menentukan Besar Arah Pengobatan Kanker Payudara
Prosedur biopsi sering kali menjadi sumber kekhawatiran bagi banyak pasien, terutama ketika berkaitan dengan kanker payudara. Namun, menurut dr. Farida Briani Sobri, SpB(K)Onk, seorang dokter spesialis bedah onkologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), ketakutan itu perlu diredam. Sebab di balik rasa cemas, biopsi menyimpan peran penting sebagai pintu awal menuju pengobatan yang lebih personal dan efektif.
“Biopsi bukan sekadar mencari tahu apakah ada kanker, tapi juga untuk menyusun strategi pengobatan yang paling sesuai dengan karakteristik tiap pasien,” ujarnya dalam keterangan pers yang dirilis pada Rabu.
Dengan biopsi, tenaga medis dapat memeriksa penanda biologis seperti ER (Estrogen Receptor), PR (Progesterone Receptor), HER2, dan KI-67, yang nantinya menjadi dasar dalam menentukan tipe kanker payudara—apakah termasuk Luminal A, Luminal B, HER2-positive, atau Triple Negative Breast Cancer (TNBC). Informasi ini sangat krusial karena tiap tipe kanker memiliki respon terapi yang berbeda.
Lebih dari itu, biopsi juga membantu menghindari overdiagnosis. dr. Farida menekankan bahwa hanya sekitar 10 persen kelainan pada payudara yang ternyata kanker, sisanya adalah kondisi jinak. Artinya, tidak semua benjolan harus ditanggapi dengan ketakutan berlebih, tapi juga tidak boleh diabaikan begitu saja.
Biopsi Ulang: Saat Terapi Tak Lagi Sejalan
Prosedur biopsi tidak hanya dilakukan sekali. Rebiopsi bisa dibutuhkan apabila terjadi perubahan dalam kondisi pasien selama menjalani terapi, atau jika respon tubuh terhadap pengobatan tidak seperti yang diharapkan.
“Karakteristik sel kanker bisa berubah. Rebiopsi menjadi penting untuk memastikan arah pengobatan masih relevan dengan kondisi biologis terkini pasien,” tambah dr. Farida.
Tak Lagi Menakutkan: Biopsi Kini Lebih Minim Rasa Sakit dan Biaya
Berkat kemajuan teknologi medis, sebagian besar biopsi kini bisa dilakukan tanpa operasi terbuka. Prosedur seperti fine-needle aspiration dan core-needle biopsy dilakukan dengan bantuan pencitraan—seperti ultrasonografi (USG), mamografi, atau MRI—sehingga lebih aman, cepat, dan minim rasa nyeri. Biaya pun menjadi jauh lebih terjangkau, hanya sekitar 25% hingga 50% dari biaya operasi terbuka.
Berdasarkan data dari National Breast Cancer Foundation, terdapat empat metode biopsi yang umum digunakan:
-
Fine-needle aspiration
-
Core-needle biopsy
-
Surgical biopsy
-
Skin punch biopsy
Pemilihan metode ditentukan berdasarkan profil pasien, termasuk usia, riwayat medis, ukuran serta lokasi benjolan, dan tampilan radiologis.
Data Menenangkan: Sebagian Besar Benjolan Tak Berbahaya
dr. Farida yang juga merupakan pendiri Yayasan Smart Pink Indonesia, menekankan bahwa sebagian besar benjolan pada payudara tidak bersifat ganas.
Data dari Breast Cancer Research Foundation mencatat bahwa hanya 3–6 persen benjolan yang terbukti kanker. Sementara itu, menurut laporan dari Stony Brook Cancer Center, 80 persen benjolan yang diperiksa lewat biopsi adalah jinak.
Oleh karena itu, saat seseorang menemukan benjolan di payudara, yang paling bijak adalah:
-
Tidak panik
-
Tidak langsung menyimpulkan
-
Segera konsultasi ke dokter
Ketenangan dan sikap kritis harus berjalan seiring, agar evaluasi yang dilakukan benar-benar membantu menentukan langkah pengobatan.
Edukasi: Fondasi Keberanian Pasien
Pemahaman terhadap dasar-dasar kanker payudara sangat penting—mulai dari tipe dan subtipe, hingga ragam terapi yang tersedia. Ketika pasien tahu apa yang dihadapi, rasa takut bisa berubah menjadi keberanian, dan mereka bisa lebih terlibat dalam setiap keputusan medis.
“Keterlibatan aktif pasien dimulai dari pemahaman. Dari situ, rasa percaya diri akan tumbuh,” tutup dr. Farida.
