Katy Perry (Foto: instagram)
Buletinmedia.com – Penyanyi sekaligus penulis lagu asal Amerika Serikat, Katy Perry, menyampaikan protes keras setelah lagu populernya, Firework, digunakan sebagai musik latar dalam sebuah video yang menampilkan rekaman serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran. Video tersebut diunggah melalui akun TikTok resmi Gedung Putih (@WhiteHouse) dan langsung memicu perdebatan luas di media sosial.
Katy Perry mengaku tidak pernah memberikan izin penggunaan lagunya untuk konten tersebut. Ia juga menegaskan bahwa makna lagu Firework sama sekali tidak berkaitan dengan peperangan atau aksi militer, melainkan tentang harapan, keberanian, dan semangat untuk bangkit dari keterpurukan.
Pernyataan tersebut mendapat perhatian besar dari publik. Dalam waktu singkat, unggahan Katy Perry di platform X (dulu Twitter) ditonton puluhan juta kali dan memicu berbagai tanggapan dari penggemar, aktivis, hingga pelaku industri musik.
Lagu Firework Dipakai dalam Video Serangan Militer
Kontroversi bermula ketika akun TikTok resmi Gedung Putih mengunggah video berisi rekaman serangan militer terhadap Iran. Video tersebut dipadukan dengan lagu Firework, salah satu lagu paling populer milik Katy Perry.
Selain musik latar, video itu juga menampilkan kalimat bertuliskan “Iran has been warned” atau “Iran telah diperingatkan.” Kombinasi visual operasi militer dengan lagu bertema motivasi tersebut langsung mengundang perhatian publik.
Tak sedikit warganet mempertanyakan pemilihan lagu tersebut. Sebab, selama ini Firework dikenal sebagai lagu yang membawa pesan optimisme dan pemberdayaan diri, bukan lagu yang identik dengan konflik bersenjata.
Kontroversi pun semakin meluas setelah Katy Perry menyampaikan tanggapan secara langsung melalui akun media sosial pribadinya.
Katy Perry Mengaku Tidak Pernah Memberikan Izin
Melalui unggahan di akun X pada Sabtu, 25 Juli 2026, Katy Perry menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak pernah dimintai izin untuk penggunaan lagu tersebut.
Ia mengaku baru mengetahui videonya setelah beredar luas di media sosial. Reaksi pertama yang muncul adalah rasa terkejut sekaligus kecewa karena karya yang ia ciptakan digunakan dalam konteks yang menurutnya bertolak belakang dengan makna asli lagu tersebut.
Dalam pernyataannya, Katy Perry mengatakan dirinya tidak mendukung penggunaan lagu Firework sebagai pengiring tayangan yang berkaitan dengan operasi militer.
“Saya sangat terkejut, kecewa, sekaligus marah melihat lagu Firework digunakan sebagai musik latar dalam video rekaman serangan militer yang diunggah di akun TikTok @WhiteHouse. Saya tidak pernah memberikan persetujuan, tidak pernah dimintai izin, dan sama sekali tidak mendukung penggunaan lagu saya untuk tujuan tersebut,” tulis Katy Perry.
Pernyataan tersebut langsung menyebar luas dan menjadi salah satu topik paling banyak dibicarakan di berbagai platform media sosial.
Firework Diciptakan Sebagai Lagu Harapan
Katy Perry kemudian menjelaskan filosofi di balik lagu Firework yang dirilis lebih dari satu dekade lalu.
Menurutnya, lagu tersebut lahir untuk memberikan semangat kepada siapa pun yang sedang menghadapi masa-masa sulit dalam kehidupan. Liriknya mengajak pendengar agar percaya pada diri sendiri, menemukan kekuatan batin, dan bangkit menghadapi berbagai tantangan.
Karena itulah, ia merasa sangat keberatan ketika lagu tersebut dipadukan dengan tayangan yang memperlihatkan kehancuran akibat aksi militer.
Menurut Katy Perry, penggunaan tersebut telah mengubah makna lagu secara drastis dan tidak sesuai dengan pesan yang ingin ia sampaikan kepada para pendengarnya.
“Saya menulis lagu Firework sebagai simbol harapan, pemulihan, dan kekuatan batin bagi mereka yang sedang melewati masa-masa paling kelam dalam hidupnya. Melihat pesan tentang harga diri dan semangat untuk bangkit justru dipakai untuk mengiringi tayangan yang menampilkan kehancuran dan kekerasan merupakan bentuk penyimpangan yang sepenuhnya bertentangan dengan makna yang ingin saya sampaikan melalui lagu ini.”
Pernyataan tersebut mendapat dukungan dari banyak penggemarnya yang menilai penggunaan lagu tersebut memang tidak sesuai dengan nilai yang terkandung di dalamnya.
Musik Harus Menyatukan, Bukan Merayakan Perang
Dalam bagian akhir pernyataannya, Katy Perry kembali menegaskan pandangannya mengenai peran musik.
Menurut pelantun Roar itu, musik memiliki kekuatan untuk menyatukan orang-orang dari berbagai latar belakang. Oleh sebab itu, ia berharap karya musik tidak dijadikan alat untuk membangun narasi yang berkaitan dengan perang maupun konflik bersenjata.
“Musik saya diciptakan untuk menyatukan orang-orang, bukan untuk merayakan perang,” tulis Katy Perry.
Pernyataan singkat tersebut kemudian menjadi kutipan yang paling banyak dibagikan di media sosial.
Respons Warganet Terbelah
Unggahan Katy Perry langsung memancing diskusi panjang di dunia maya.
Sebagian besar pengguna media sosial memberikan dukungan kepada penyanyi tersebut. Mereka menilai seorang musisi memang berhak menyampaikan keberatan apabila karya ciptaannya digunakan dalam konteks yang berbeda dari pesan yang ingin disampaikan.
Banyak pula yang menganggap penggunaan lagu bertema harapan sebagai latar video operasi militer merupakan keputusan yang tidak tepat.
Namun, di sisi lain, ada pula warganet yang berpendapat bahwa lagu yang telah dipublikasikan secara luas dapat digunakan dalam berbagai bentuk konten selama memenuhi aturan lisensi yang berlaku di platform digital.
Perbedaan pandangan tersebut membuat perdebatan terus berlangsung selama beberapa hari setelah unggahan Katy Perry dipublikasikan.
Perdebatan Mengenai Hak Penggunaan Lagu
Kasus ini kembali mengangkat pembahasan mengenai penggunaan karya musik di media sosial, khususnya oleh akun resmi lembaga pemerintah maupun institusi publik.
Secara umum, penggunaan lagu dalam konten digital biasanya mengikuti perjanjian lisensi yang dimiliki platform seperti TikTok. Namun, kepemilikan lisensi tidak selalu berarti sang artis mendukung atau menyetujui konteks penggunaan karya tersebut.
Karena itu, tidak sedikit musisi yang tetap menyampaikan keberatan apabila lagu mereka digunakan untuk mendukung pesan politik, kampanye tertentu, maupun tayangan yang bertentangan dengan nilai pribadi mereka.
Dalam sejumlah kasus sebelumnya, beberapa penyanyi internasional juga pernah meminta agar lagu mereka tidak digunakan dalam kegiatan politik atau kampanye tertentu.
Kontroversi yang melibatkan Katy Perry kembali menunjukkan bahwa persoalan hak cipta dan makna sebuah karya tidak selalu berhenti pada aspek legal, tetapi juga menyangkut nilai, etika, dan pesan yang ingin disampaikan oleh penciptanya.
Firework Tetap Menjadi Salah Satu Lagu Ikonik Katy Perry
Dirilis sebagai bagian dari album Teenage Dream, lagu Firework menjadi salah satu karya paling sukses dalam karier Katy Perry.
Lagu tersebut dikenal luas karena liriknya yang mengajak setiap orang untuk percaya pada potensi diri dan tidak menyerah menghadapi berbagai kesulitan hidup.
Selama bertahun-tahun, Firework sering digunakan dalam berbagai kegiatan sosial, kampanye motivasi, hingga acara yang bertujuan membangun semangat dan rasa percaya diri.
Popularitas lagu tersebut membuat banyak orang mengaitkannya dengan pesan positif tentang harapan dan keberanian.
Karena itulah, ketika lagu tersebut digunakan sebagai latar video yang menampilkan aksi militer, sebagian besar penggemar menilai konteksnya bertolak belakang dengan makna asli yang selama ini dikenal publik.
Unggahan Katy Perry Viral di Media Sosial
Hingga artikel ini ditulis, unggahan Katy Perry di platform X terus menjadi perhatian publik.
Cuitan tersebut telah ditonton lebih dari 25 juta kali, memperoleh lebih dari 263 ribu tanda suka, serta dibagikan dan dikomentari oleh ribuan pengguna dari berbagai negara.
Kontroversi ini tidak hanya memicu diskusi mengenai penggunaan lagu dalam konten digital, tetapi juga kembali membuka perbincangan tentang pentingnya menghormati makna sebuah karya seni.
Bagi Katy Perry, Firework bukan sekadar lagu populer, melainkan simbol harapan yang ditujukan untuk memberi semangat kepada orang-orang yang sedang berjuang menghadapi masa sulit. Karena itu, ia menegaskan bahwa musik seharusnya menjadi sarana untuk menyatukan, menginspirasi, dan membawa pesan positif, bukan dijadikan latar bagi tayangan yang berkaitan dengan peperangan atau kekerasan.
Sumber : www.indozone.id
