Sampul album Haram (Instagram @dsstrrecs)
Buletinmedia.com – Band hardcore punk asal Amerika Serikat, Haram, menarik perhatian publik setelah menampilkan wajah Affan Kurniawan dan Munir Said Thalib di sampul album terbaru mereka berjudul Why Does Paradise Begin in Hell?. Album tersebut resmi dirilis pada 11 September 2025, bertepatan dengan peringatan tragedi Serangan 11 September 2001.
Fakta ini pertama kali mencuat melalui unggahan label rekaman Disaster Records, yang mendistribusikan versi fisik album dalam format kaset di Indonesia. Dalam unggahan tersebut, terlihat desain sampul yang cukup mencolok, menampilkan peta Indonesia dengan wajah Affan dan Munir di sisi kanan. Selain itu, terdapat pula slogan bernuansa kritik sosial: “Merdeka dari penderitaan. Merdeka dari korupsi.”
Visual tersebut langsung memicu perhatian, terutama karena menggabungkan simbol-simbol lokal Indonesia dengan pesan politik global yang kerap diusung dalam skena musik punk. Penggunaan wajah dua sosok ini bukan tanpa alasan, melainkan sarat makna dan konteks sosial.
Band Haram sendiri dikenal sebagai grup hardcore punk yang berbasis di Brooklyn, New York. Mereka memiliki ciri khas dengan memadukan musik hardcore era 1980-an, lirik berbahasa Arab, serta tema-tema yang banyak mengangkat isu identitas, pengungsian, hingga perlawanan terhadap ketidakadilan.
Dalam keterangan resminya, Disaster Records menyebut bahwa energi musik Haram sangat konfrontatif dan penuh urgensi politik, menjadikan mereka sebagai salah satu suara penting dalam komunitas musik independen atau DIY di New York.
Album “Why Does Paradise Begin in Hell?” berisi 12 lagu dengan karakter musik yang keras, cepat, dan tanpa kompromi. Setiap lagu membawa nuansa kritik terhadap berbagai persoalan global, mulai dari konflik, ketimpangan sosial, hingga isu kemanusiaan.
Menariknya, desain sampul dengan wajah Affan dan Munir ini disebut hanya digunakan untuk edisi Indonesia. Versi internasional dari album tersebut memiliki tampilan berbeda, yang tidak menampilkan kedua sosok tersebut. Hal ini menandakan adanya pendekatan khusus yang ditujukan untuk audiens Indonesia.
Pemilihan Affan Kurniawan sebagai salah satu figur dalam sampul album berkaitan dengan peristiwa tragis yang menimpanya. Affan merupakan seorang pengemudi ojek online yang meninggal dunia saat mengikuti aksi demonstrasi di Jakarta pada 28 Agustus 2025. Ia tewas setelah tertabrak dan terlindas kendaraan taktis aparat saat situasi aksi berlangsung ricuh.
Sementara itu, Munir Said Thalib merupakan sosok yang sudah lama dikenal sebagai pejuang hak asasi manusia di Indonesia. Ia meninggal dunia pada tahun 2004 akibat diracun dalam penerbangan menuju Belanda. Hingga kini, kasus kematiannya masih menjadi simbol perjuangan melawan impunitas dan pelanggaran HAM.
Dengan menghadirkan kedua tokoh ini dalam satu frame, Haram seperti ingin menyatukan dua generasi dalam narasi yang sama: tentang perjuangan, ketidakadilan, dan suara yang dibungkam. Affan merepresentasikan realitas kekerasan yang terjadi di masa kini, sementara Munir menjadi simbol perjuangan panjang yang belum sepenuhnya menemukan keadilan.
Langkah ini juga menunjukkan bagaimana musik, khususnya punk, masih menjadi medium ekspresi politik yang kuat. Dalam tradisi punk, musik bukan sekadar hiburan, tetapi juga alat untuk menyuarakan kritik terhadap kekuasaan dan sistem yang dianggap tidak adil.
Keputusan Haram menggunakan simbol Indonesia dalam karya mereka juga memperlihatkan bahwa isu lokal dapat memiliki resonansi global. Apa yang terjadi di Indonesia tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari dinamika yang lebih luas terkait hak asasi manusia dan relasi antara negara dan warga.
Respons publik pun beragam. Sebagian melihat langkah ini sebagai bentuk solidaritas internasional terhadap isu HAM di Indonesia. Namun, ada juga yang mempertanyakan sensitivitas penggunaan wajah korban dalam karya komersial, meski dalam konteks kritik sosial.
Terlepas dari pro dan kontra tersebut, kehadiran sampul album ini telah membuka ruang diskusi yang lebih luas. Tidak hanya tentang musik, tetapi juga tentang bagaimana karya seni dapat menjadi jembatan untuk mengangkat isu-isu penting ke panggung global.
Dalam konteks ini, Haram berhasil melakukan lebih dari sekadar merilis album. Mereka memicu percakapan, menghadirkan refleksi, dan mengingatkan bahwa di balik setiap karya, ada cerita dan realitas yang tidak boleh dilupakan.
Fenomena ini sekaligus menegaskan bahwa musik masih memiliki kekuatan untuk menyuarakan hal-hal yang kerap terpinggirkan. Dan melalui karya seperti ini, pesan tentang keadilan dan kemanusiaan dapat terus bergema, melampaui batas negara dan bahasa.
